Buta Tak Lagi Menyimpan Luka

Hidup tanpa lagi bisa melihat bentuk, menikmati warna, atau merasakan keindahan sinar pagi kini sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Kegelapan ini telah menjadi teman yang setia selama lima tahun terakhir. Lucunya, meski gelap dan tidak ada cahaya, ia tetap berada di samping saya tanpa pernah berubah.

Awalnya, situasi ini sangat menyulitkan. Pada tahun 2020, saat memasuki semester pertama perkuliahan, kebutaan ini datang. Hal itu disebabkan oleh kegagalan operasi pada tahun 2015 yang sebenarnya bertujuan untuk menyembuhkan penyakit mata. Sayangnya, penyakit itu hilang, namun justru menghilangkan kemampuan melihat saya.

Dunia memang penuh dengan kejutan. Sebagai seseorang yang suka cerita, novel, dan film dengan plot twist, ternyata dunia juga memberi kejutan dalam hidup saya sendiri. Saya buta, direndahkan, lalu bangkit sambil tertawa getir.

Saya masih ingat betul waktu itu, ketika keluhan utama adalah bagaimana bisa kembali menjalani hidup dengan enjoy, bermakna, serta memiliki hal positif yang bisa dibagikan. Kini, semua ketakutan itu berubah menjadi rasa penasaran dan keinginan untuk menaklukkan diri sendiri, walau dengan aturan tanpa mata.

Bekal awal yang saya tekuni adalah memaknai diri, menyusun rencana masa depan, dan menganalisis hambatan. Dari semua hal tersebut, saya menemukan kesimpulan: “Mau terpuruk dan meratapi hidup, toh saya tetap buta. Mau berjuang nanti sampai waktu saya tenang juga sebagai buta. Jadi, mengapa harus mengulur waktu yang berharga ini?”

Kepercayaan diri mulai saya bangun kembali. Pertanyaan “Apa saya bisa?” saya ubah menjadi “Kamu mau bisa?”. Meski tidak mudah, tapi perlahan saya bangkit sebagai pribadi baru. Sebelumnya, saya adalah manusia biasa yang menjalani hari dengan panduan dua mata, kini justru yang memandu adalah mata hati, yang kata Kiai lebih sejati.

Tahun 2021 menjadi refleksi lanjutan. Saya menjalani kuliah, meningkatkan diri untuk mengembangkan soft skill dan hard skill, lalu memaksa diri untuk berjejaring. Mudah sekali bukan? Tentu bukan. Sangat berat dan penuh liku. Semua itu harus saya paksa, paksa, paksa, hingga akhirnya saya melangkah jauh.

Saya mengalami kehilangan sahabat, dikucilkan, dan diragukan karena saya tunanetra. Kata-kata seperti tunanetra, disabilitas netra, atau difabel netra baru saya pahami kemudian. Ini adalah momen berat yang saya paksa untuk dijalani dengan pola pikir yang lebih terbuka.

Perjalanan itu membawa saya untuk terus merefleksikan diri, evaluasi diri, dan mencari alternatif solusi atas masalah yang disebabkan oleh tidak bisa melihat. Teman cerita saya ganti dengan menulis, aktualisasi diri saya ganti dengan bercerita melalui karya, dan menambah jaringan saya lakukan lewat berkesenian. Dari titik ini, syukurnya semesta memberi rasa percaya diri yang menjadi modal penting.

Sebuah perenungan yang saya temukan adalah hal penting yang harus dilakukan saat menerima cobaan adalah dengan menerima dan tidak memungkiri cobaan itu. Karena jika saya tidak percaya bahwa saya tidak bisa melihat dan berharap bisa melihat kembali, itu justru menghambat langkah dan menurunkan performa untuk berkembang.

Justru karena legowo dan ikhlas menerima bahwa penglihatan saya telah diambil oleh Sang Pencipta, segalanya menjadi lebih ringan. Saya sadar bahwa tubuh saya hanya dipinjamkan oleh Sang Pencipta. Jadi, sah saja jika Dia mengambil salah satu bagian dari tubuh saya. Toh, Dia lebih berhak dan memiliki hak kepemilikan atas diri ini.

Namun, Allah tidak seperti manusia yang rakus untuk mengambil tanpa memberi kontribusi pada yang diambil. Allah telah menyiapkan kejutan yang saya yakini perlahan mulai nampak. Ia mengambil mata, namun menyiapkan sesuatu yang lebih bermakna, lebih indah, dan lebih bermanfaat bagi saya daripada mata fana itu sendiri.

Banyak masalah timbul hanya karena pandangan mata yang fana. Tipuan juga banyak bersumber dari mata. Jadi, minimal saya terhindar dari itu. Kini saya jadi lebih enjoy menikmati hidup tanpa terganggu kerlip fana dunia yang diinformasikan oleh mata yang kerap salah memberi informasi.

Oke, mungkin Anda akan bilang: “Ya itu kan ketengangan yang hanya normatif dan keadaan pasrah!” Tentu ini adalah kepasrahan yang saya sampaikan kepada Allah untuk membantu hidup saya. Saya dibantu langsung oleh Sang Kreator Kehidupan. Bos-Nya alam semesta ini.

Dari titik itu, Anda kini membaca tulisan ini. Saya telah memiliki berbagai karya tulis di berbagai media yang bisa Anda cari di Google dengan kata kunci: “Wachid Hamdan”. Selain itu, saya merupakan salah satu pegiat seni solawat, jurnalis tunanetra, dan pribadi yang kini gemar berbagi semangat di akun sosial media saya.

Dari berbagai cuap-cuap di atas, saya kini berani mengatakan bahwa saya mensyukuri kebutaan ini. Awalnya kondisi ini begitu membuat luka dan perih di hati. Tapi kini ia hadir dengan banjir rahmat dan berkah di kehidupan saya yang kini lebih berwarna, bermakna, dan memiliki kontribusi positif di lingkungan di mana pun saya berada. Saya pernah takut hidup tanpa penglihatan. Kini, saya justru bersyukur bisa melihat dunia dengan cara yang berbeda. Sebab dari titik inilah saya belajar untuk benar-benar hidup.

Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *