Aksi Pemalakan di Lampu Merah Mengganggu Warga Palembang, Pelaku Beraksi Malam Hari

Kawasan Simpang Macan Lindungan dan Simpang Pallem, Palembang Terkenal Rawan Pemalakan

Kawasan Simpang Macan Lindungan dan Simpang Pallem di Palembang menjadi sorotan karena sering terjadi aksi pemalakan. Wilayah ini dikenal sebagai tempat yang rawan, terutama pada malam hari. Sopir truk dari luar Sumatera Selatan, khususnya dari Lampung, mengaku was-was saat melintasi area tersebut.

Aktivitas Pemalakan Marak di Malam Hari

Sopir truk sering kali menghadapi pemalakan ketika berkendara di kawasan ini pada malam hari. Mereka mengatakan bahwa jam-jam tertentu sangat berisiko. Sebaliknya, aktivitas pemalakan jarang terlihat pada pagi hingga siang hari. Di dua lokasi yang dianggap rawan oleh para sopir truk, hanya terdapat aktivitas pedagang asongan, pembersih kaca, dan penjual kacang.

Pada siang hari, para pedagang ini biasanya menawarkan barang dagangan mereka ke sopir truk lewat kaca mobil. Beberapa dari mereka menunggu di median jalan sementara yang lain berdiri di pinggir jalan. Meski begitu, aktivitas pemalakan tidak terlihat dalam jumlah besar.

Petugas Keamanan Tidak Selalu Berjaga

Meskipun petugas kepolisian berjaga di pos simpang Macan Lindungan, tampaknya belum ada pengawasan intensif di sekitar lokasi. Hal ini membuat masyarakat merasa kurang aman.

Bagus (24), sopir truk asal Kalianda, Lampung, mengungkapkan bahwa ia dan rekan-rekannya selalu menghindari melintas di kawasan ini pada malam hari. “Kalau saya biasa lewatnya pagi atau siang. Kalau malam rawan. Jadi belum pernah lewat sana,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa ia selalu menyiapkan uang Rp 2 ribu hingga Rp 10 ribu untuk orang-orang yang memalak atau membersihkan kaca. “Selama ini saya ketemunya orang yang suka bersihkan kaca terus minta uang. Saya kasih Rp 2 ribu paling banyak Rp 10 ribu,” katanya.

Pengalaman Sopir Truk yang Mengalami Pemalakan

Mamad (30), sopir truk yang baru pertama kali melintas di kawasan tersebut, mengaku menjadi korban pemalakan dua hari lalu. Ia menyebutkan bahwa aksi pemalakan terjadi sekitar pukul 19:00 WIB usai Magrib. “Saya kemarin kena palak Rp 150 ribu. Teman saya ada yang kena HP. Kami waktu itu tiga mobil, semuanya kena,” katanya.

Menurut Mamad, para pelaku pemalakan biasanya naik ke jendela truk dan meminta uang sambil berteriak. Uang receh yang diberikan tidak membuat mereka berhenti. “Seribu kita kasih, terus minta lagi, minta lagi kami kasih lagi. Begitu terus pokoknya kalau sebelum mobil jalan minta terus. Terakhir sampai pakai pengancaman, saya bilang ‘uangnya habis’ mereka tidak percaya,” tuturnya.

Kesadaran Masyarakat dan Peringatan Sesama Sopir

Keresahan ini mencuat setelah kasus penusukan terhadap Al Kodirin, sopir truk asal Lampung, yang diduga dilakukan empat pelaku di kawasan yang sama. Polisi saat ini masih memburu para terduga pelaku lainnya.

Rini (41), salah satu warga sekitar yang berdagang di seputaran simpang Macan Lindungan, juga mengungkapkan bahwa pemalak kerap beraksi di malam hari. “Kalau pagi sampai siang seperti ini memang tidak ada. Adanya malam mereka (pemalak) itu. Saya juga tidak tahu dari mana asalnya, mereka itu sering oper-operan (pindah-pindah) tempat,” ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa jika siang hari kebanyakan hanya ada pedagang asongan dan pembersih kaca. Pasca kejadian sopir truk yang tewas ditusuk diduga empat orang, beberapa hari terakhir aparat tampak berjaga. Tak hanya polisi namun juga Satpol-PP. “Ada sudah beberapa hari ini semenjak kejadian itu. Ada Satpol-PP juga berjaga, tapi ya bukan setiap saat,” katanya.


Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *