Opini  

Budaya Pembatalan di Media Sosial Indonesia: Akar atau Hanya Trend?

Fenomena Cancel Culture dan Dampaknya pada Public Figure

Banyak tokoh publik kini tengah menjadi sorotan netizen karena berbagai kontroversi yang menimpa kehidupan pribadi mereka. Netizen tidak ragu untuk menyampaikan kritik tajam, baik melalui hujatan maupun penghakiman. Hal ini tidak hanya memengaruhi kehidupan pribadi mereka, tetapi juga mengancam karier sebagai influencer yang telah lama dibangun dengan citra yang terjaga.

Tidak hanya itu, banyak brand ternama yang sebelumnya menjalin kerja sama eksklusif dengan public figure kini mulai meragukan keputusan mereka. Fenomena ini dikenal dengan istilah Cancel Culture, yang semakin populer di kalangan masyarakat Indonesia.

Apa Itu Cancel Culture?

Menurut Profesor Sosiologi dan Kriminologi dari Universitas Villanova, Dr Jill McCorkle, Cancel Culture adalah proses pengusiran publik yang kemudian berevolusi. Istilah ini awalnya populer di kalangan Kpopers, yang akrab dengan aksi penolakan terhadap idol Korea yang terkena skandal. Di sana, para idol harus memiliki masa lalu dan perilaku yang bersih. Jika tidak, mereka bisa kehilangan tempat di ruang publik atau bahkan pekerjaan mereka.

Pengaruh Cancel Culture di Indonesia

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak aktor layar lebar hingga influencer Instagram mengalami pemboikotan massal. Contohnya, seorang aktor yang membintangi film adaptasi Webtoon Korea, sempat dikritik karena tidak menonton atau membaca karya asli dari film yang akan ia bintangi. Hal ini membuat fans merasa bahwa aktor tersebut tidak layak memainkan peran utama.

Selain itu, ungkapan seperti “fans fanatik” dan tidak membutuhkan dukungan mereka memicu aksi penolakan terhadap film adaptasi tersebut. Akibatnya, rating dan jumlah penonton film tersebut menurun drastis. Dari sini, terlihat bahwa tidak hanya karier sang aktor yang terancam, tetapi juga produser dan orang-orang di balik layar.

Dampak Positif dan Negatif dari Cancel Culture

Meski terdengar negatif, Cancel Culture memberikan efek domino yang positif. Public figure menjadi lebih waspada terhadap etika dan tingkah laku mereka di hadapan publik. Followers mereka pun cenderung meneladani citra baik dari sang public figure.

Namun, setiap hal pasti memiliki dua sisi. Dalam kasus ini, Cancel Culture membawa dampak positif, negatif, dan area abu-abu yang masih bisa diperdebatkan. Dampak positifnya adalah individu yang dianggap membahayakan masyarakat luas tidak lagi mendapatkan panggung untuk berkembang dan memberi pengaruh buruk.

Di sisi lain, masyarakat sering kali tidak menyadari bahwa mereka telah menutup kesempatan kedua bagi individu yang terkena Cancel Culture. Individu tersebut merasa tidak adil dan masyarakat pun melupakan bahwa selain menjaga kebaikan, memperbaiki kesalahan juga penting.

Belum lagi jika isu belum terbukti kebenarannya, individu yang terdampak Cancel Culture akan menanggung kerugian akibat ulah netizen dan tidak dapat memperbaikinya.

Tantangan dan Masa Depan Cancel Culture

Sejauh ini, penerapan Cancel Culture di Indonesia masih berdasarkan target pasarnya. Banyak brand yang menjalin kontrak eksklusif dengan public figure yang terkena Cancel Culture memiliki pasar yang masih berhubungan dengan fans K-Pop atau pecinta K-Drama.

Selain itu, beberapa brand terkadang masih mempertahankan ambassador mereka yang terkena Cancel Culture, meskipun mendapat peringatan keras dari berbagai pihak. Oleh karena itu, belum bisa dipastikan apakah Cancel Culture akan terus berlanjut atau hanya sekadar fase.

Kesimpulan

Meskipun demikian, Cancel Culture akan terus ada dan berevolusi. Pengaruh kolektif netizen terbukti dapat menghukum perilaku individu yang tidak etis dan mempengaruhi keputusan sebuah brand. Saat ini, tantangan nyata adalah cara masyarakat menyoroti dan menyikapi suatu isu. Dengan harapan, hukuman yang diberlakukan bersifat positif dan tidak merusak. Tentunya, hal ini tidak akan terwujud tanpa kesadaran kuat dari berbagai pihak.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *