Opini  

Antara Gaji, Target, dan Kekeluargaan yang Tidak Nyata

Malam yang Tidak Menyenangkan



Malam ini aku menulis ini dengan tubuh yang lelah dan pikiran yang belum benar-benar pulang. Lampu kamar sudah redup, tapi layar ponsel masih menyala. Aku ingin tidur, tetapi ada kegelisahan yang mengendap seharian dan tidak mau diam.

Rasanya, kalau tidak kutuangkan malam ini, kepalaku akan terlalu penuh besok pagi. Beberapa tahun terakhir hidupku diatur oleh jadwal, target, dan tanggal gajian. Bangun pagi bukan lagi soal kesiapan batin, tapi soal tanggung jawab. Setiap hari aku berangkat dengan satu niat yang hampir selalu sama: bekerja sebaik mungkin, tidak mengecewakan siapa pun, dan bertahan. Bertahan bukan hanya di pekerjaanku, tapi juga di dalam diriku sendiri.

Aku masih ingat hari pertama masuk kerja di tempat ini. Ada rasa gugup sekaligus harapan. Aku datang dengan keyakinan bahwa kerja keras akan dihargai, bahwa kejujuran dan dedikasi punya tempat. Saat orientasi, aku mendengar kalimat yang terasa ramah: “Di sini kita membangun kebersamaan. Kita ini seperti keluarga.” Entah kenapa, kalimat itu menenangkan. Mungkin karena pada dasarnya manusia memang ingin merasa dimiliki dan diterima.

Hari-hari pertama dipenuhi semangat. Aku datang lebih awal, pulang lebih akhir, belajar banyak hal baru tanpa banyak mengeluh. Saat lelah, aku menghibur diri sendiri dengan berpikir bahwa ini semua bagian dari proses bertumbuh. Lagi pula, bukankah dalam keluarga, kita diajarkan untuk saling menopang? Aku merasa sedang berada di tempat yang tepat. Namun waktu adalah guru yang jujur, meski kadang kejam.

Perlahan aku menyadari bahwa kehangatan di tempat kerja memiliki jadwalnya sendiri. Ia terasa kuat saat target sedang dikejar, saat tenaga kami dibutuhkan sepenuhnya, saat kata “tolong” dibungkus dengan kalimat manis tentang kebersamaan. Aku mulai sering pulang larut, menunda urusan pribadi, dan menyimpan lelah sendirian. Anehnya, aku jarang benar-benar marah. Yang ada justru rasa bersalah setiap kali ingin berhenti sejenak.

Target demi target datang silih berganti. Angka-angka di laporan menjadi ukuran nilai diri. Saat hasil bagus, kami dirayakan. Saat meleset, ruang rapat mendadak terasa sunyi dan penuh tekanan. Tidak ada yang secara terang-terangan menyalahkan, tetapi bahasa tubuh dan nada bicara sudah cukup membuat dada sesak. Aku belajar bahwa gagal sedikit saja bisa membuat seseorang dipandang berbeda.

Aku pernah berpikir, mungkinkah ini hanya perasaanku? Mungkin aku terlalu sensitif. Sampai suatu hari, seorang rekan kerja yang menurutku luar biasa harus pergi. Tidak ada perpisahan hangat. Tidak ada waktu untuk benar-benar berpamitan. Namanya perlahan menghilang dari percakapan sehari-hari. Seolah-olah kehadirannya hanyalah catatan sementara.

Saat itu, ada rasa dingin yang tiba-tiba menyentuh kesadaranku: dalam keluarga sejati, orang tidak dihapus begitu saja. Sejak hari itu, aku mulai lebih banyak diam dan mengamati. Aku melihat bagaimana istilah “kekeluargaan” sering hadir bersamaan dengan permintaan ekstra, tapi jarang muncul saat seseorang kelelahan atau membutuhkan ruang. Aku melihat bagaimana senyum bisa berubah menjadi jarak ketika performa menurun. Aku juga mulai jujur pada diriku sendiri bahwa ada rasa takut yang selama ini kupendam: takut tidak cukup baik, takut digantikan, takut dianggap tidak loyal.

Aku tidak membenci pekerjaanku. Aku bersyukur memiliki penghasilan saat banyak orang masih berjuang mencarinya. Gaji membantuku membayar kehidupan: makan, tempat tinggal, dan sedikit ruang untuk bernapas. Tapi semakin hari aku sadar, gaji tidak pernah dimaksudkan untuk membayar habis jiwa seseorang. Ada bagian dari diriku yang pelan-pelan terkikis setiap kali aku mengabaikan batas lelah, setiap kali aku berkata “tidak apa-apa” padahal sebenarnya tidak baik-baik saja.

Akhir-akhir ini, aku belajar membuat jarak yang sehat. Aku masih bekerja dengan tanggung jawab, tapi tidak lagi mengorbankan seluruh diriku hanya untuk terlihat kuat. Aku belajar berkata “cukup” tanpa merasa bersalah. Aku mengingatkan diriku bahwa profesional bukan berarti kehilangan kemanusiaan.

Mungkin rasa kekeluargaan di tempat kerja tidak sepenuhnya salah, tapi perlu dilihat dengan jujur. Ia tidak boleh menjadi topeng untuk relasi yang timpang. Ia tidak boleh menjadi alasan untuk menormalisasi kelelahan. Aku ingin relasi yang dewasa, bukan yang memanipulasi rasa peduli. Malam ini aku menutup catatan ini dengan satu kesadaran sederhana: aku bukan hanya pekerja, aku manusia. Aku punya batas, luka, dan kebutuhan untuk pulang dalam arti yang sesungguhnya. Di antara gaji dan target, aku ingin tetap memeluk diriku sendiri agar tidak hilang di tengah rasa kekeluargaan yang semu.

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *