Apa Itu Hubungan Beracun? Kenali 10 Tandanya!

Hubungan toksik sering kali tidak disadari, terutama oleh korban. Karena pertengkaran, kesalahpahaman, dan kejenuhan sering terjadi dalam sebuah hubungan. Namun, yang perlu diperhatikan adalah saat masalah-masalah tersebut berubah menjadi pola yang berulang hingga kesehatan mental dan emosional mulai memburuk. Di titik inilah hubungan dapat berubah menjadi hubungan toksik.

Mengapa seseorang sulit lepas dari hubungan toksik? Ini penjelasan para ahli psikologi. Tanda-tanda hubungan sehat atau toksik bisa diidentifikasi dengan membedakan antara red flag dan green flag. Apa itu hubungan toksik?

Menurut pakar psikologi Dr. Lillian Glass, hubungan toksik adalah hubungan yang tidak lagi didasari oleh prinsip saling mendukung dan menghormati satu sama lain. “Hubungan toksik terjadi ketika dua orang dalam hubungan tersebut tidak saling mendukung, penuh konflik, saling menjatuhkan, kompetitif, penuh ketidakhormatan, dan tidak ada kebersamaan,” jelas Glass.

Hubungan tidak lagi menjadi ruang aman, tetapi tempat yang membuat salah satu atau kedua pasangan justru merasa tertekan. Psikolog klinis Michaela Thomas menambahkan bahwa istilah toksik bukan berarti sekadar hubungan yang membosankan atau kehilangan gairah. “Toksik berarti hubungan itu berbahaya untuk kesejahteraanmu dan seperti racun, dapat meninggalkan luka mendalam dan berkepanjangan sehingga kamu mungkin memerlukan bantuan untuk pulih,” ungkap Thomas.

Seorang pelatih seks dan hubungan, Angela Vossen menambahkan bahwa penolakan, tindakan meremehkan, atau ejekan saat seseorang mencoba mengungkapkan perasaannya merupakan sinyal kuat bahwa hubungan sudah tidak sehat. “Hubungan toksik adalah hubungan yang secara konsisten merusak kesejahteraan, kesehatan, kebahagiaan, atau keselamatan salah satu atau kedua pasangan,” tutur Angela.

Berikut beberapa tanda hubungan toksik yang perlu diwaspadai:

  • Selalu merasa cemas dan takut

    Kamu mungkin merasa harus mengukur setiap kata dan tindakan agar tidak memicu kemarahan pasangan. Bahkan pesan sederhana seperti “kamu di mana?” bisa memunculkan rasa panik karena kamu takut reaksi negatif jika jawabanmu tidak sesuai harapannya. Rasa takut terhadap reaksi pasangan adalah indikator kuat bahwa hubungan mengancam kesejahteraan emosional.

  • Tidak ada rasa hormat dan sering meremehkan

    Hubungan bisa terasa seperti medan perang, bukan tempat pulang jika tidak dilandaskan dengan rasa saling menghormati. Kritik yang menyakitkan, komentar merendahkan, dan diam berhari-hari tanpa mau berdiskusi membuatmu merasa tidak dianggap. Pola ini mengikis rasa hormat dan kohesi sehingga kepercayaan perlahan runtuh.

  • Gaslighting dan manipulasi

    Kamu mulai mempertanyakan apa yang kamu pikir benar karena pasangan memutarbalikkan fakta. Dia bisa mengatakan kamu “drama”, padahal kamu hanya mengungkapkan perasaan. Perilaku ini sudah termasuk gaslighting. Gaslighting adalah perilaku berbahaya karena membuat korban meragukan realitasnya sendiri hingga kewarasannya.

  • Dijauhkan dari keluarga dan teman

    Awalnya pasangan kamu mungkin hanya memberi komentar kecil seperti “teman kamu tidak cocok sama kamu”. Hal ini akan membuat kamu merasa bersalah setiap kali ingin bertemu orang terdekat. Alhasil, secara tidak sadar kamu mulai menarik diri dari lingkungan terdekat. Pasangan dapat mengisolasi melalui kritik atau memicu pertengkaran sebelum kamu bersosialisasi sehingga kamu kehilangan jaringan pendukung.

  • Kecemburuan berlebihan dan kontrol

    Pasangan yang toksik biasanya ingin tahu lokasi kamu setiap saat, mengatur cara kamu berpakaian, dan menentukan siapa yang boleh atau tidak boleh dekat denganmu. Kontrol yang bermula dari kecemburuan dapat berkembang menjadi kontrol koersif yang serius.

  • Ledakan emosi yang tidak terduga

    Masalah kecil dapat berubah menjadi pertengkaran besar karena pasangan tidak mampu mengatur emosinya dengan baik. Hal ini membuat kamu harus mengalah di berbagai situasi. Kamu mulai membatasi diri agar tidak memicu marahnya, hingga akhirnya kehilangan jati dirimu. Ketika seseorang mengubah dirinya karena takut reaksi pasangan, hubungan tersebut tidak lagi aman secara emosional.

  • Tidak ada dukungan emosional

    Saat kamu berbagi keluh kesah, pasangan justru mengecilkannya dengan kalimat seperti, “Kamu terlalu sensitif”. Perilaku ini bisa jadi pertanda pasangan kamu toksik. Kamu merasa tidak didengarkan dan akhirnya memilih diam. Ketika perasaan tidak divalidasi dengan baik, seseorang mulai meragukan nilai dirinya sendiri.

  • Batas pribadi tidak dihargai

    Meski memiliki pasangan, kamu tetap harus memiliki batasan pribadi yang jelas. Batasan tersebut juga seharusnya dihargai oleh pasangan kamu. Namun, pasangan yang toksik bisa membuat kamu merasa bersalah ketika menolak sesuatu yang tidak nyaman, entah berbagi cerita pribadi, bertemu terlalu sering, atau memberi bantuan materi. Hubungan yang sehat membutuhkan batas pribadi, dan ketika batas itu terus dilanggar, hubungan menjadi berbahaya.

  • Pertengkaran terus terjadi tanpa penyelesaian

    Pertengkaran atau masalah dalam hubungan tidak selalu berarti buruk. Hal tersebut bisa jadi momen untuk saling mengevaluasikan diri. Akan tetapi, hubungan menjadi toksik jika setiap masalah berakhir dengan saling menyalahkan, bukan mencari solusi. Perselisihan menjadi pola berulang yang membuat hubungan terasa melelahkan.

  • Harga diri semakin menurun

    Tanda hubungan toksik lainnya berhubungan dengan harga diri. Tanpa kamu sadari, hubungan yang toksik bisa membuat kamu menjadi tidak percaya diri, takut menyuarakan pendapat, bahkan merasa tidak layak dicintai. Jika hal tersebut kamu alami selama menjalin hubungan, itu tanda bahwa hubungan tersebut tidak sehat. Hubungan seharusnya membuatmu merasa dicintai dan dimengerti. Jika yang terjadi sebaliknya, itu adalah tanda besar hubungan tidak sehat.

Jika kamu mengalami beberapa tanda hubungan toksik di atas, sebaiknya segera mencari pertolongan dari rekan terdekat ataupun profesional agar mendapatkan bantuan yang tepat.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *