Budaya  

Kuncen Bendung Katulampa: Pengabdian dari Jiwa Kemanusiaan

Keberadaan yang Tak Terlihat Tapi Sangat Berarti

Di sebuah sudut Kota Bogor, tepat di tepi aliran yang tak pernah tidur itu, ada seorang lelaki yang telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya memandangi permukaan air. Setiap perubahan arus, setiap riak kecil, setiap kenaikan beberapa sentimeter, semuanya disimpan dalam ingatan yang dibentuk oleh empat dekade pengabdian.

Namanya Andi Sudirman, penjaga Bendung Katulampa yang bekerja dalam senyap, tanpa sorotan, tetapi memikul beban yang menyangkut keselamatan ribuan orang di hilir. Dalam pandangan sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, pengabdian panjang itu bukan lagi sekadar pekerjaan. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang dalam kajian sosiologi disebut sebagai calling, atau beruf dalam bahasa Jerman. Suatu panggilan jiwa.

“Tidak banyak orang yang mengetahui sosok, kisah, dan dedikasi dari seorang bernama Pak Andi Sudirman yang menjaga Bendung Katulampa ya, selama 40 tahun. Pak Andi ini adalah orang yang bekerja sesuai dengan panggilan hatinya, beruf dalam bahasa Jerman. Beruf ini apa? Ini orang melakukan kerja itu berdasarkan nuraninya, berdasarkan hati nuraninya ya,” ujar Rakhmat.

Di balik aliran bendungan itu, Andi menjalani peran yang tak pernah ia pilih untuk mendapatkan kehormatan. Ia menjalaninya karena merasa harus. Ia bekerja ketika orang lain tertidur, memantau aliran air yang tak pernah sepenuhnya bisa ditebak. Ia menjaga bukan hanya sungai, tetapi kehidupan ribuan orang di hilirnya.

“Tidak berdasarkan popularitas, tidak berdasarkan komersialitas atau sensasi misalnya gitu ya. Orang melakukan sesuatu itu dalam pandangan saya itu, karena panggilan untuk kemanusiaan gitu ya,” ucap dia.

Dalam pandangan Rakhmat, menjaga bendungan berarti menjaga keselamatan manusia. “Ketika Pak Andi ini menjaga, mengontrol bendungan Katulampa, ini kan menyelamatkan ribuan orang, jadi sosok Pak Andi ini bukan semata-mata dia adalah penjaga bendungan, tapi ini adalah sebagai panggilan,” kata dia.

Pengabdian dalam Sunyi

Selama empat dekade, kehadiran Andi lebih sering tak terlihat. Barangkali hanya beberapa kali wajahnya muncul di balik video atau berita saat tinggi muka air meninggi. Selebihnya, ia hanyalah sosok yang larut dalam rutinitas, tanpa tepuk tangan, tanpa panggung, tanpa apresiasi publik.

Rakhmat mengingatkan, sosok seperti Andi banyak tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mereka yang menjaga irigasi, mengamati lingkungan, menjaga gunung, atau memelihara situs budaya, tetapi tak pernah masuk sorotan. “Dan ini juga berlaku bagi mereka yang bekerja di sektor-sektor yang memang itu tidak banyak orang mengetahuinya gitu ya, terkait dengan kepentingan publik ya, terkait dengan resiko publiknya,” ujar dia.

Andi bukan satu-satunya, tetapi ia adalah wajah dari mereka yang bekerja dalam waktu panjang, dengan tekad yang tak banyak dimiliki orang. Rakhmat menilai, dedikasi mereka sebagai sesuatu yang lahir dari nilai filosofis, bukan kebutuhan materi. “Nah jadi ini yang menurut saya Pak Andi bekerja atas dasar nilai-nilai kemanusiaan gitu ya,” ucap dia.

Rakhmat kemudian membandingkan pengabdian Andi dengan para penjaga gunung, kuncen, penjaga hutan adat, atau relawan lingkungan yang bekerja tanpa pamrih. Mereka juga menjalani laku, sebuah praktik pengabdian yang tak bisa diajarkan, hanya bisa dihayati. “Mereka memiliki nilai-nilai yang memiliki filosofis atau nilai-nilai yang melekat dalam laku mereka gitu ya, ini hanya orang-orang tertentu yang memang memiliki panggilan tadi gitu ya,” ujar dia.

Pekerjaan itu seringkali tidak dianggap sebagai profesi. Tidak memiliki kepastian gaji, tidak dilimpahi penghargaan, bahkan jarang diingat. Namun mereka tetap bertahan, karena telah menyatu dengan lingkungan yang mereka jaga. “Ya, itu adalah hidup dari mereka di situ gitu kan, yang membuat mereka itu terintegrasi antara apa yang dia hadapi,” ujar dia.

Identitas yang Lahir dari Pengabdian

Menurut Rakhmat, Andi tidak pernah berusaha tampil sebagai sosok yang heroik. Ia tidak membangun citra, tidak mengumbar jasa. Tetapi publik melihat nilai itu sendiri lewat tindakan-tindakannya. “Pak Andi dengan sendirinya dia tidak ingin menunjukkan itu kepada orang lain ya, tapi dia bekerja, tapi dia perilaku dia, laku dia itu adalah itu menggambarkan itulah nilai dia sendiri gitu loh,” kata dia.

Identitas itu muncul secara alamiah, seseorang yang mengabdi tanpa menunggu sorotan. Dan justru karena itulah ia dihormati. “Orang akan melihat itu bahwa oh sosok Pak Andi, orang yang berjuang, orang yang bisa menyelamatkan, mencegah,” jelas dia.

Sosok inspiratif Menurut Rakhmat, sosok Andi Sudirman bukan sekadar penjaga bendung biasa. Ia adalah figur yang mengabdikan hidupnya pada alam, lingkungan, dan masyarakat hilir Ciliwung. “Orang-orang seperti Pak Andi ini adalah orang-orang yang berjuang atau memiliki panggilan ya, jadi Pak Andi ini adalah orang yang bekerja sesuai dengan tanggilan hatinya,” ujar Rakhmat.

Rakhmat menekankan pentingnya menghargai dan mengapresiasi orang-orang yang mengabdikan diri pada alam. Sosok seperti Andi menjadi contoh nyata bagaimana pengabdian terhadap lingkungan dapat memberi manfaat bagi masyarakat luas. “Jadi pada dasarnya menurut saya kita harus mengapresiasi orang-orang yang bekerja dalam lingkungan, yang mengabdi pada alam, pada lingkungan, pada kestarian, hutan, gunung, sungai gitu ya, irigasi gitu ya di berbagai daerah gitu ya,” kata dia.

Pengalaman dan dedikasi Andi bisa menjadi inspirasi dan pelajaran berharga bagi generasi muda. “Kita bisa menyediakan inspirasi, respect kepada mereka, dan itulah kita perlu menjadi, belajar, bahwa belajar dari alam, belajar dari lingkungan, belajar dari hutan, dari sungai, gunung, dari bendungan, itu adalah bisa melalui belajar dari sosok-sosoknya Pak Andi, dan seterusnya,” ungkap dia.

“Artis Katulampa”

Di lingkungan Bendung Katulampa, nama Andi Sudirman telah lama melekat sebagai sosok yang bukan sekadar penjaga bendung. Ia dikenal banyak orang, dihormati warga. Predikat “artis Katulampa” bahkan muncul karena kehadirannya yang kerap terlihat di berbagai pemberitaan, terutama ketika banjir mengancam Jakarta.

Warga terbiasa melihatnya muncul di layar televisi, memberikan keterangan, atau diwawancarai media terkait kondisi bendung. “Ya dia mah emang dikenal baik orangnya, ga di kampungnya atau disini baik sama orang peduli sama warga pada senang orang-orang di sini ke dia mah,” kata Ayu.

“Dibilang orang sini mah artis Katulampa kan dia mah ke mana-mana kan masuk TV kan wawancara iya jadinya bilangnya artis Katulampa,” sambung Ayu. Namun, segala atensi publik tak pernah membuat Andi berubah. Kehidupannya tetap sederhana, dan kedekatannya dengan warga tetap terjaga.

Salah satu kebiasaan yang diingat betul warga adalah kebiasaan Andi mentraktir mereka setiap Jumat sebelum ia pensiun. “Kalau belum pensiun mah nih orang pulang ngaji, jumatan, di giring ke warung saya ‘nih ke uwa nih’, Jumat berkah, yang gorengan yang gado-gado yang lontong sayur di traktirin sama dia,” ucap Ayu.

Selain bekerja menjaga bendung, Andi juga terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan. Ia pernah menjadi Ketua RT, ikut mendata warga yang membutuhkan bantuan, hingga mencoba mencalonkan diri sebagai Ketua RW. “Waktu jadi RT juga aktif ngedata masyarakat yang ga punya rumah, diajuin sama dia, bagus dia mah jadi RT juga kontribusinya besar, sempat nyalonin juga jadi RW cuman ga dapat, iseng katanya,” ujar Ayu.

Teladan bagi Warga

Menurut Herman (62), warga lainnya, Andi sudah menjadi sosok yang akrab bagi masyarakat. Ia hampir selalu terlihat berada di sekitar bendung, apa pun cuacanya. “Udah lama banget, sekitar 90-an, tapi tiap pagi-sore udah sering lihat beliau di bendung. Udah kayak bagian kampung aja,” ujar Herman.

Bagi warga, ketelatenan Andi adalah ciri yang paling menonjol. Ia tak pernah keberatan ketika ditanya, dan selalu menjawab dengan ramah dan sabar. “Telaten dan sabar orangnya. Yang paling kelihatan ya ramahnya, warga tanya apa aja dijelasin sabar,” kata Herman.

Herman pun menyampaikan apresiasi dan harapan untuk sosok yang begitu besar jasanya bagi lingkungan mereka. “Makasih banyak lah. Dedikasinya luar biasa. Udah jadi teladan, bukan cuma penjaga bendung tapi juga bagian dari kampung. Semoga sehat selalu, tetep bisa bagi pengalaman ke generasi selanjutnya,” ujar dia.

Empat Dekade Mengabdi

Sejak 1 Oktober 2025, Andi Sudirman, penjaga bendung yang selama 40 tahun menjadi pengirim informasi awal banjir bagi Jakarta dan wilayah sekitarnya, resmi menuntaskan masa tugas. Bersama istrinya, Atikah, ia tinggal di Mess “Mendung”, tempat yang menjadi saksi pengabdian panjangnya.

Lahir di Sukabumi pada 17 Juli 1967, Andi menempuh pendidikan dasar hingga menengah di kampung halamannya sebelum melanjutkan SMA di Bogor. Perjalanan sebagai penjaga bendung dimulai pada 1 Oktober 1987, saat ia masih bekerja sebagai honorer bergaji puluhan ribu rupiah. “1 Oktober udah pensiun. Tapi masih di wilayah, masih di komunitas. Dari awal masuk 1987 masih honorer, masih Rp25.000-Rp50.000, sampai tahun ke tahun ya monitor banjir,” ujarnya sambil tersenyum.

Sebelum benar-benar mantap, Andi sempat mencoba menjadi Marinir namun kerap gagal di tahap seleksi. “Dulu sempat nyoba marinir, tapi gagal terus, bukan rezeki. Takdirnya emang di pengairan,” kata Andi.

Di tengah rutinitas menjaga bendung, ia tetap melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar S1 dari Universitas Samsul Ulum Sukabumi melalui program kelas jauh di Bogor.

Bekerja 24 Jam

Andi sekaan tak pernah memberi jeda pada waktu. Bekerja hampir sepanjang hari tanpa benar-benar mengenal batas antara bekerja dan beristirahat. Sejak fajar menyentuh pepohonan di tepi Ciliwung hingga matahari kembali tenggelam di langit Bogor, Andi berada di bendung. Ia mengawasi perubahan debit air, mengecek kondisi bangunan, dan memastikan informasi yang disampaikan ke warga.

“Kalau hujan lebat, kita standby terus. Monitor debit, koordinasi dengan relawan, koordinasi dengan BMKG, semua data dicek berkali-kali. Setiap perubahan air itu bisa berarti,” ujar Andi. Bahkan malam hari jarang memberinya kesempatan untuk benar-benar terlelap. Telepon dari wartawan atau pesan dari relawan bisa datang kapan pun, memanggilnya kembali ke tugas yang tak pernah selesai.

Dedikasi yang terus menyala ini bukan semata kewajiban pekerjaan, melainkan wujud cintanya pada alam dan pada keselamatan masyarakat. “Ini pekerjaan yang dijalani sepenuh hati. Kadang lelah, tapi kalau kita ikhlas, semua terasa ringan. Yang penting warga aman, alam dijaga, itu yang utama,” kata Andi.

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *