Perluasan Piala Dunia Membuka Peluang bagi Negara Kecil
Perluasan jumlah peserta Piala Dunia dari 32 menjadi 48 tim akhirnya menunjukkan dampaknya. Dua negara kecil, Curaçao dan Cape Verde, resmi memastikan tiket ke Piala Dunia 2026, sebuah pencapaian yang bahkan sempat diprediksi oleh Presiden FIFA Gianni Infantino sejak 2017.
Pada saat itu, keputusan FIFA untuk memperluas turnamen sempat menuai kontroversi. Banyak pihak menilai kebijakan tersebut bermotif politik, sementara lainnya khawatir kualitas turnamen justru akan menurun. Namun, ekspansi ini ternyata membuka pintu sejarah bagi negara-negara yang sebelumnya hanya bisa bermimpi tampil di pentas terbesar sepak bola dunia.
Negara Kecil Cetak Sejarah
Curaçao kini menjadi negara dengan populasi terkecil yang pernah lolos ke Piala Dunia, melewati rekor sebelumnya yang dipegang Islandia. Cape Verde menempati posisi ketiga terkecil. Infantino tak ketinggalan memberi selamat.
“Selamat kepada Curaçao. Dalam siklus keempat sebagai negara independen, kalian menginspirasi dunia dengan pencapaian luar biasa ini,” ujarnya.
Tidak hanya dua negara tersebut. Uzbekistan dan Yordania juga mencatat debut mereka. Bahkan, peluang kuda hitam lainnya seperti New Caledonia, Suriname, Kosovo, dan Albania masih terbuka melalui jalur playoff.
Kembalinya beberapa negara lama pun turut mewarnai. Skotlandia, Norwegia yang berarti Erling Haaland akhirnya tampil di Piala Dunia dan Austria memastikan comeback setelah absen sejak 1998. Haiti juga kembali setelah terakhir kali tampil pada 1974.
Pelatih Skotlandia, Steve Clarke, menyebut lolosnya timnya sebagai “momen fantastis.”
Banyak Peluang, Tapi Raksasa Masih Tersandung
Dengan format baru, jatah slot wilayah meningkat. CONCACAF kini memiliki enam tiket langsung plus dua playoff, sementara Afrika naik dari lima menjadi sembilan tiket langsung.
Meski begitu, ekspansi tidak menjamin kemapanan negara besar. Italia, juara dunia empat kali, kembali berada di ujung tanduk. Usai finis kedua di fase grup, Gli Azzurri harus melewati playoff untuk menghindari absen tiga edisi beruntun.
Pelatih Gennaro Gattuso geram dengan format baru.
“Dulu runner-up terbaik bisa lolos langsung. Sekarang aturannya berbeda,” keluhnya.
Di sisi lain, sejumlah negara top tetap tampil dominan. Inggris lolos dengan rekor sempurna tanpa kebobolan. Norwegia, pemuncak grup Italia, juga tak terkalahkan. Belgia, Prancis, Belanda, Spanyol, Kroasia, dan Swiss pun melenggang dengan performa impresif.
Perubahan Peta Kekuatan?
Kesulitan Italia bukan semata soal format, tetapi juga menandai merosotnya performa yang sudah tampak sejak 2010. Jerman pun mengalami tren serupa usai tersingkir di fase grup dua edisi terakhir.
Di luar Eropa, situasi yang sama dialami Nigeria. Setelah tampil dominan pada era 1994 hingga 2018, kini Super Eagles gagal lolos dua edisi berturut-turut.
Mampukah Para Pendatang Baru Beri Kejutan?
Curaçao dan Cape Verde bukan sekadar peserta baru. Keberhasilan mereka diyakini dapat memicu perkembangan sepak bola di negara masing-masing sesuai harapan FIFA saat menambah jumlah peserta.
Sejarah menunjukkan bahwa keajaiban selalu mungkin di Piala Dunia. Mulai dari AS yang mengalahkan Inggris pada 1950, Arab Saudi yang menumbangkan Argentina pada 2022, hingga Morocco yang menyingkirkan Portugal, Spanyol, dan Belgia untuk menjadi tim Afrika pertama yang mencapai semifinal.
Dengan jarak kualitas yang makin tipis, tim-tim yang dulu dianggap kecil kini memiliki peluang menantang negara-negara elite.
Harapan Tuan Rumah Amerika Serikat
Sebagai tuan rumah bersama Kanada dan Meksiko, Amerika Serikat berharap melampaui capaian terbaiknya perempat final 2002. Pembantaian 5-1 atas Uruguay baru-baru ini semakin menambah optimisme publik.
Namun, favorit juara tetap berada di tangan raksasa seperti Argentina, Brasil, Prancis, dan Spanyol, empat dari delapan negara yang pernah mengangkat trofi sepanjang sejarah 95 tahun turnamen.












