Komunitas Bermain Yogyakarta: Membangkitkan Kembali Permainan Tradisional
Di tengah dominasi gawai dan permainan digital yang semakin menguasai kehidupan sehari-hari, khususnya bagi generasi Z, muncul sebuah komunitas yang berupaya untuk menghidupkan kembali permainan tradisional Indonesia. Komunitas Bermain Yogyakarta (KBM Jogja) menjadi salah satu wadah yang menawarkan pengalaman bermain yang menyenangkan sambil melestarikan budaya lokal.
KBM Jogja awalnya didirikan di Jakarta, tepatnya di GBK (Gelora Bung Karno), pada Agustus 2024. Awalnya hanya sebagai aktivitas sederhana untuk sekadar bermain, namun kegiatan ini kemudian viral setelah diunggah di media sosial. Dari situ, KBM Jogja berkembang pesat hingga mencakup sekitar 15 region di seluruh Indonesia, termasuk Bandung, Jabodetabek, Palembang, dan Padang.
Misi dan Tujuan Komunitas
Menurut Deandra Fajri, Ketua Kelas ketiga KBM Jogja, misi utama komunitas ini adalah memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda. “Zaman sekarang terutama Gen Z itu sudah kurang lah buat permainan zaman dahulu, sudah berpatok dengan handphone game,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa KBM Jogja ingin membuktikan bahwa permainan tradisional tetap bisa dinikmati dan tidak kalah menarik dibandingkan permainan digital.
Selain itu, KBM Jogja juga bertujuan untuk menjadi ruang aman bagi muda-mudi dalam membangun relasi dan teman baru. Komunitas ini tidak hanya tentang bermain, tetapi juga menjadi jembatan sosial yang dapat membantu orang-orang yang merasa kesulitan dalam mencari teman atau enggan keluar rumah.
Aktivitas dan Permainan yang Dilakukan
Setiap akhir pekan, biasanya pada hari Sabtu atau Minggu sore, Alun-Alun Kidul atau lokasi lain di Jogja akan dipenuhi tawa dan teriakan gembira dari para peserta KBM Jogja. Beberapa permainan yang rutin dimainkan meliputi lompat karet, congklak, bekel, ular naga, bentengan, tarik tambang, dan lempar sendal. Menurut Deandra, permainan yang paling digemari sejauh ini adalah lompat karet dan tarik tambang.
Meskipun bergerak secara mandiri, KBM Jogja telah berhasil menarik mitra kolaborasi. Eva Silviana, Humas PR komunitas, menjelaskan bahwa KBM Jogja telah menjalin kerja sama dengan beberapa pihak, seperti Gram Hotel Jogja pada momen HUT Kemerdekaan RI dan juga berkolaborasi dengan Wardah.
Ruang Sosial yang Ramah
KBM Jogja bukan sekadar tempat bermain, tetapi juga menjadi ruang aman dan jembatan sosial. Mayoritas pesertanya adalah mahasiswa, sehingga latar belakang mereka sangat beragam, ada yang dari Sulawesi, Bandung, Jawa Barat, dan daerah lain di luar Jogja. Deandra menjelaskan bahwa komunitas ini cocok bagi mereka yang enggan keluar rumah atau merasa kesulitan mencari teman.
Pengurus KBM Jogja yang berjumlah sekitar sebelas orang aktif memastikan semua peserta dapat berbaur. “Buat awal-awal pasti malu-malu ya apalagi ketemu banyak orang,” kata Deandra. Namun, pengurus akan mengajak mereka kenalan untuk memecah kebekuan.

Pengalaman Peserta dan Antusiasme Tinggi
Salah satu peserta permainan, Audris Khansa (23), menyampaikan kesannya terhadap aktivitas di KBM Jogja. “Bermain di komunitas ini bisa memberi sedikit hiburan dan me-refresh otak setelah seminggu beraktivitas. Soalnya kan bisa bermain sekaligus bertemu teman-teman lain,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa keputusan untuk coba ikut bermain di Alun-Alun Kidul bersama KBM Jogja ternyata membawanya mendapatkan banyak relasi dan teman baru. “Mereka super keren, baik, dan suportif,” tuturnya.
Sama halnya dengan Rio Zulfa Pambudi (24), peserta permainan lainnya, menurutnya yang paling menarik saat mengikuti KBM Jogja yaitu mendapat relasi dan teman baru. Bagi Rio, menyempatkan momen untuk bermain ditengah kesibukan merupakan cara untuk menjaga kestabilan mental diri sendiri.
KBM Jogja pernah mencetak rekor kehadiran sampai kurang lebih 150 orang dalam satu sesi bermain di Alun-Alun Kidul Yogyakarta. Hal tersebut menjadi wujud nyata apresiasi dan antusiasme muda-mudi terhadap kegiatan bermain permainan tradisional bersama Komunitas Bermain Yogyakarta.












