DEPOK,
Jalan berlubang di bawah bayang beton flyover Jalan Arif Rahman Hakim, tepat di sekitar Stasiun Depok Baru, menjadi pemandangan harian bagi ribuan orang yang melintas setiap hari. Di jalur sempit itu, pejalan kaki, angkot yang berhenti sembarangan, dan barisan lapak pedagang yang menempel di dinding beton berpadu dalam ruang yang sama menciptakan potret kota yang hidup, tapi juga semrawut.
Bagi Wawan (34), pedagang pisang yang sudah delapan tahun berjualan di bawah flyover, kondisi jalan yang rusak bukan lagi keluhan baru, melainkan bagian dari keseharian. “Kalau hujan dikit langsung becek, Mbak. Aspalnya udah nggak rata, bolong-bolong. Kadang air nyiprat ke dagangan saya,” ujar Wawan, sembari menata tandan pisang kepada , Senin (10/11/2025).
Wawan memutuskan pindah ke lokasi itu karena dianggap strategis dekat dengan pasar dan stasiun. Kini, strategi itu berbalik menjadi ujian. Genangan air membuat pembeli enggan berhenti, sementara kendaraan sering melintas sembarangan. “Pemerintah pernah datang, katanya mau diperbaiki. Tapi sampai sekarang belum kelihatan. Ya kita cuma bisa berharap, biar dagangan tenang, pembeli nyaman,” kata dia.
Di belakang Wawan, tampak angkot berhenti di atas jalan yang retak. Asap knalpot bercampur bau tanah lembab, menambah sesak udara di bawah jembatan layang yang seharusnya menjadi area sirkulasi publik.
Antara rezeki dan risiko
Sejak area di bawah flyover berubah fungsi menjadi pasar darurat, Surya (40), pedagang sayur, sudah hafal ritme tempat itu. “Kalau pagi-pagi, motor sama angkot rebutan jalan sama kita yang jualan. Kadang sampai kena semprotan air got karena ban lewat lubang,” kata Surya.
Lapaknya berdiri di atas terpal biru, bersebelahan dengan pedagang buah dan gorengan. Ia tahu betul area itu dilarang untuk berdagang, tapi kondisi ekonomi tak memberi banyak pilihan. “Pernah kami ngadu ke kelurahan, katanya mau dicek. Tapi ya sampai sekarang begitu-begitu aja. Kalau hujan, kami kasih papan biar nggak becek,” ucap dia.
Bagi Surya, tempat itu lebih dari sekadar lokasi berdagang, tapi juga satu-satunya ruang hidup. “Cuma di sini jualan bisa laku. Harapannya cuma satu, pemerintah lihat juga tempat begini. Jangan cuma perhatikan yang di tengah kota aja,” ungkap dia.
Jalan rusak yang jadi ‘identitas’
Bagi Supartono (39), sopir angkot trayek D01, kondisi jalan di kolong flyover bukan sekadar gangguan melainkan “identitas”. “Lubangnya di situ-situ aja tiap tahun. Kalau hujan, air nutup lubang, penumpang bisa kebanting pas mobil lewat,” ujar dia.
Kerusakan jalan itu juga berdampak langsung pada jumlah penumpang. “Orang jadi males lewat sini, katanya takut becek dan macet. Padahal ini rute utama dari stasiun ke pasar,” kata dia.
Supartono berharap pemerintah tak menunggu keluhan viral dulu baru bertindak. “Kalau diperbaiki dikit aja udah bagus. Kasih penerangan juga, malam-malam gelap banget, bahaya,” harap Supartono.
Flyover jadi ruang hidup
Lian (31), rekan sesama sopir angkot, menambahkan, malam hari adalah waktu paling berisiko. “Kalau hujan sama malam hari, wah, udah kayak kubangan. Kadang angkot harus muter biar enggak nyangkut di genangan,” kata dia.
Ia tak menyalahkan pedagang yang berjualan di bawah flyover, tetapi berharap ada penataan menyeluruh. “Pernah sih ada Satpol PP datang, nyuruh pedagang mundur. Tapi ya balik lagi kayak gini. Yang penting jalannya dirapihin dulu biar semuanya bisa tertib,” ujar Lian.
Menurutnya, masalah jalan bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga ekonomi. “Kalau jalan bagus, lalu lintas lancar, pedagang juga nggak ganggu, semua senang,” ucap dia.
Tak jauh dari situ, Ganis (33), warga Perumka juga menuturkan keprihatinannya terhadap kondisi Jalan Stasiun Depok Baru yang rusak. “Hampir tiap hari saya lewat sini, Mbak. Jalannya amburadul, becek, kalau hujan pasti licin,” keluhnya.
Ia sempat melapor lewat RW, tapi responsnya menggantung. “Katanya ini wewenangnya Pemkot, tapi belum ada anggaran. Jadi ya kami tunggu aja,” kata dia.
Meski begitu, Ganis mengakui kawasan itu tetap hidup. “Di balik kumuhnya, tempat ini rame terus. Ada yang dagang, ada yang kerja, ada yang nunggu angkot. Kalau ditata bagus, pasti lebih enak dipandang dan aman,” ujar Ganis.
Penataan
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Abdul Rahman (Abra), mengakui, kawasan di bawah flyover Stasiun Depok Baru perlu penataan ulang. “Perlu ada penataan kembali, baik jalur hijau maupun penertiban kios. Kami juga akan berkoordinasi dengan Diskumrim dan Satpol PP,” ujar Abra kepada .
DLHK berencana menambah fasilitas tempat sampah pemilahan dan layanan angkut sampah rutin. Namun, kebersihan bukan hanya tugas pemerintah. “Timbulan sampah di wilayah tersebut bisa mencapai 50 ton per hari. Perlu kesadaran masyarakat, pedagang, dan pengunjung untuk tertib membuang sampah,” ucap dia.
Tumpang tindih
Pengamat tata kota Yayat Supriatna menilai akar persoalan di kawasan itu bukan sekadar soal jalan rusak, tapi juga tumpang tindih kewenangan. “Kalau penataan sekitar stasiun dan pasar itu harus dipertanyakan status tanahnya. Kalau bukan milik Pemkot, ya mereka nggak bisa intervensi,” kata Yayat.
Menurut Yayat, banyak aset publik di Depok terutama yang terkait terminal dan stasiun berada di bawah kewenangan pusat atau provinsi. “Terminal tipe A milik nasional, tipe B milik provinsi, dan tipe C baru milik kota. Jadi kalau tanah di depan Stasiun Depok Baru bukan aset Pemkot, ya susah diapa-apain,” ujar dia.
Masalah transportasi bukan termasuk pelayanan dasar dalam struktur APBD, sehingga anggarannya terbatas. “Kalau bukan urusan dasar seperti kesehatan atau pendidikan, biasanya dananya kecil. Jadi kalau mau ditata, ya harus integrasi antar lembaga,” ucap dia.
Yayat menyarankan agar pemerintah daerah bekerja sama dengan pusat melalui Direktorat Jenderal Integrasi Antarmoda Kementerian Perhubungan, agar bisa mewujudkan kawasan transit yang layak dan terhubung.
Secara fungsional, area flyover Depok Baru adalah simpul vital penghubung antara transportasi kereta, angkot, dan pasar tradisional. Tapi di lapangan, integrasi itu justru tidak terlihat.
mengamati aktivitas pada Senin (10/11/2025) siang. Deretan pelajar menyeberang di antara genangan, pedagang sibuk menata dagangan, sementara pengendara motor menerobos jalur pejalan kaki. Sisa sayur dan plastik menumpuk di pinggir trotoar, beberapa bahkan mengalir ke saluran air. Tak ada papan informasi, tak ada marka jalan, tak ada drainase yang berfungsi.
Di satu sisi, kawasan ini hidup karena ekonomi rakyat bertahan. Di sisi lain, ia menandakan lemahnya perhatian terhadap tata ruang dan fungsi kota. Selama bertahun-tahun, warga Depok terbiasa dengan pemandangan yang sama di sekitar Pasar Kemiri Muka. Jalan rusak dianggap hal biasa, genangan menjadi teman musim hujan, dan tumpukan sampah seperti bagian dari lanskap kota. Namun, di balik semua itu, tersimpan harapan yang sederhana.
“Yang penting jalannya rapih, airnya nggak nggenang,” kata Wawan, pedagang pisang. “Kalau ditata bagus, pasti lebih enak dipandang dan aman,” sambung Ganis, warga Perumka.
Kawasan di bawah flyover Stasiun Depok Baru memang bukan jantung kota, tapi denyutnya mewakili kehidupan urban yang sesungguhnya campuran antara kebutuhan ekonomi, mobilitas warga, dan kelalaian tata ruang. Setiap lubang di jalan itu bukan sekadar cacat aspal, melainkan tanda dari sistem kota yang belum berjalan utuh. Sebuah pengingat bahwa kemajuan tak hanya diukur dari gedung tinggi, tapi dari seberapa layak warga melangkah di jalannya sendiri.












