Renungan Katolik: Melakukan Apa yang Harus Kami Lakukan
Renungan Katolik hari ini mengajak kita untuk merenungkan tentang panggilan kita sebagai hamba Allah. Kita dipanggil untuk melayani Tuhan dan sesama bukan demi pujian atau imbalan, melainkan karena kasih kita kepada-Nya. Segala kebaikan yang kita lakukan berasal dari kasih karunia Allah. Maka, kita hendaknya tetap rendah hati dan mengakui bahwa kita hanyalah hamba yang melakukan tugas yang dipercayakan kepada kita.
Seperti Santo Martinus dari Tours, marilah kita setia melaksanakan tugas dan panggilan kita, meskipun kecil dan tidak terlihat, karena di sanalah kita memuliakan Allah. Renungan ini disiapkan untuk hari Selasa, peringatan wajib Santo Martinus dari Tours Uskup dan Pengaku Iman, serta para martir lainnya. Warna liturgi hari ini adalah putih.
Bacaan Liturgi
Bacaan Pertama: Kebijaksanaan 2:23-3:9
Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan, dan dijadikan-Nya gambar hakekat-Nya sendiri. Tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu. Jiwa orang benar ada di tangan Allah, dan siksaan tiada menimpa mereka. Menurut pandangan orang bodoh mereka mati nampaknya, dan pulang mereka dianggap malapetaka, dan kepergiannya dari kita dipandang sebagai kehancuran, namun mereka berada dalam ketenteraman. Kalaupun mereka disiksa menurut pandangan manusia, namun harapan mereka penuh kebakaan. Setelah disiksa sebentar mereka menerima anugerah yang besar, sebab Allah hanya menguji mereka, lalu mendapati mereka layak bagi diri-Nya. Laksana emas dalam dapur api diperiksalah mereka oleh-Nya, lalu diterima bagaikan korban bakaran. Maka pada waktu pembalasan mereka akan bercahaya, dan laksana bunga api berlarian di ladang jerami. Mereka akan mengadili para bangsa dan memerintah sekalian rakyat, dan Tuhan berkenan memerintah mereka selama-lamanya. Orang yang telah percaya pada Allah akan memahami kebenaran, dan yang setia dalam kasih akan tinggal pada-Nya. Sebab kasih setia dan belas kasihan menjadi bagian orang-orang pilihan-Nya.
Mazmur Tanggapan: Mazmur 34:2-3,16-17,18-19
Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu.
Bait Pengantar Injil: Yohanes 14:23
Barangsiapa mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepada-Nya.
Bacaan Injil: Lukas 17:7-10
Yesus bersabda kepada para murid, “Siapa di antaramu yang mempunyai seorang hamba, yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu waktu ia pulang dari ladang, ‘Mari segera makan?’ Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu, ‘Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai aku selesai makan dan minum! Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum’. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena ia telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kalian. Apabila kalian telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kalian berkata, ‘Kami ini hamba-hamba tak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.’
Renungan Harian Katolik
Tema renungan hari ini adalah “Melakukan apa yang harus kami lakukan”. Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, kita dipanggil untuk melayani dengan kerendahan hati dan tanpa mengharapkan pujian atau imbalan. Dalam Kitab Kebijaksanaan Salomo (3:1-9), kita membaca tentang jiwa orang benar yang berada di tangan Allah, dan siksaan tidak akan menimpa mereka. Di mata orang bodoh mereka tampak mati, dan kepergian mereka dianggap sebagai malapetaka, dan kepergian mereka dari tengah kita sebagai kebinasaan, tetapi mereka berada dalam damai. Sekalipun di mata manusia mereka menerima siksaan, namun pengharapan mereka penuh dengan kehidupan kekal.
Allah telah menguji mereka, dan mendapati mereka layak bagi-Nya. Seperti emas dalam perapian, Ia telah menguji mereka, dan Ia menerima mereka sebagai kurban persembahan yang sempurna. Dalam Injil Lukas 17:7-10, Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak. Setelah selesai bekerja, apakah tuannya akan berterima kasih kepadanya? Tidak, tetapi ia akan menyuruhnya untuk menyiapkan makan malam dan melayani dia. Yesus menyimpulkan, “Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.”
Perumpamaan ini mengajarkan kita bahwa kita tidak boleh mengharapkan pujian atau imbalan atas pelayanan kita. Kita hanyalah hamba-hamba yang melakukan tugas yang telah dipercayakan kepada kita oleh Tuhan. Sikap yang benar adalah kerendahan hati dan kesadaran bahwa segala sesuatu yang baik yang kita lakukan berasal dari kasih karunia Allah. Santo Martinus dari Tours adalah contoh nyata dari seseorang yang menghidupi ajaran Yesus ini. Ia dikenal karena kerendahan hatinya, belas kasihannya kepada orang miskin, dan pelayanannya yang tanpa pamrih. Ia membagi-bagikan sebagian besar kekayaannya kepada orang miskin dan mengabdikan diri untuk melayani Allah dan Gereja. Ia menjadi seorang uskup yang bijaksana dan penuh kasih, serta melakukan banyak mukjizat selama hidupnya.
Hidupnya adalah kesaksian tentang bagaimana kita dapat menemukan sukacita sejati dalam melayani Allah dan sesama dengan kerendahan hati. Refleksi kita adalah tentang Motivasi: Mengapa kita melayani? Apakah kita melakukannya untuk mencari pujian atau pengakuan, ataukah kita melakuknya karena kasih kita kepada Allah dan sesama? Kerendahan Hati: Apakah kita memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa segala sesuatu yang baik yang kita lakukan berasal dari kasih karunia Allah? Apakah kita menghindari kesombongan dan keangkuhan? Kesetiaan: Apakah kita setia dalam melakukan tugas yang telah dipercayakan kepada kita, meskipun tidak ada yang melihat atau menghargai kita?
Pesan untuk kita, pertama: pada hari ini, marilah kita merenungkan panggilan untuk melayani Allah dan sesama dengan kerendahan hati dan tanpa mengharapkan imbalan. Kedua, semoga kita diberi kekuatan untuk mengikuti teladan Santo Martinus dari Tours dalam kasih dan pengorbanan. Ketiga, mari kita berdoa agar kita selalu terbuka untuk menerima kasih karunia Allah dan menjadi saksi yang hidup bagi-Nya di dunia ini.












