5 Pemain Paling Tidak Adil di Super League! Bintang Persebaya Catat Rekor Terburuk

Lima Pemain dengan Rekor Kedisiplinan Terburuk di Super League 2025/2026

Super League 2025/2026 kembali memanas menjelang pekan ke-13 akhir pekan ini. Di tengah persaingan ketat perebutan posisi papan atas, perhatian publik justru tertuju pada lima pemain yang mencatatkan rekor kedisiplinan terburuk sejauh musim ini.

Francisco Rivera: Pemain dengan Pelanggaran Terbanyak

Nama paling mencolok dalam daftar tersebut adalah Francisco Rivera dari Persebaya Surabaya. Gelandang serang asal Meksiko itu menjadi pemain dengan catatan pelanggaran terbanyak, mencatat total 11 poin fair play hasil dari satu kartu kuning dan dua kartu merah hanya dalam sembilan kali penampilan.

Rekor tersebut membuat Rivera kini menjadi pemain dengan reputasi paling buruk di klasemen disiplin Super League. Aksi agresifnya di lapangan sering memicu kontroversi, terutama ketika tensi laga meningkat dan emosi sulit dikendalikan.

Performa Rivera sebenarnya cukup impresif dari sisi kontribusi serangan, tetapi catatan kedisiplinannya menjadi catatan merah bagi tim Green Force. Dua kartu merah yang diterimanya membuat Persebaya Surabaya harus bermain dengan sepuluh pemain dalam dua laga penting, situasi yang berpengaruh besar terhadap hasil akhir pertandingan.

Pelatih Persebaya Surabaya dikabarkan telah memberikan teguran keras kepada Rivera agar lebih tenang menghadapi tekanan di lapangan. Pemain 30 tahun itu diharapkan bisa memperbaiki sikapnya agar tidak kembali merugikan tim di sisa musim.

Alexis Gómez: Gaya Bermain yang Keras

Di posisi kedua ada Alexis Gómez, gelandang serang Persijap Jepara asal Argentina. Gómez mencatat total sembilan poin fair play setelah mengoleksi empat kartu kuning dan satu kartu merah dari tujuh penampilan musim ini.

Gaya bermain Gómez yang keras dan penuh determinasi sering membuatnya terlibat duel fisik di lini tengah. Namun, intensitas tinggi tersebut sering berubah menjadi pelanggaran berisiko tinggi yang berujung kartu dari wasit.

Kontribusinya bagi Persijap sebenarnya cukup signifikan dalam membangun serangan. Meski begitu, Gómez perlu menyeimbangkan semangatnya dengan kedewasaan bermain agar tidak terus menjadi beban tim akibat akumulasi kartu.

Betinho: Kecenderungan Tekel Keras

Peringkat ketiga ditempati Betinho, gelandang bertahan Arema FC asal Brasil yang juga dikenal punya gaya bermain keras. Dia mencatat total delapan poin fair play dari tiga kartu kuning dan satu kartu merah dalam delapan penampilan.

Betinho memang menjadi sosok penting dalam menjaga keseimbangan di lini tengah Arema FC. Namun, kecenderungan melakukan tekel keras membuatnya sering berurusan dengan wasit dan kehilangan kendali di momen krusial pertandingan.

Sama seperti Gómez, Betinho harus menahan agresivitas agar tak merugikan Singo Edan yang tengah berjuang memperbaiki posisi di klasemen. Pelatih Arema FC disebut mulai mempertimbangkan rotasi untuk menjaga kestabilan tim di laga-laga berikutnya.

Moisés Gaúcho: Intensitas Tinggi yang Berujung Pelanggaran

Di posisi keempat ada Moisés Gaúcho, gelandang bertahan Bhayangkara Presisi Lampung FC yang juga berasal dari Brasil. Dia mengoleksi tiga kartu kuning dan satu kartu merah dalam sembilan pertandingan, dengan total delapan poin fairplay yang identik dengan Betinho.

Moisés dikenal sebagai pemain yang tak kenal kompromi dalam duel perebutan bola. Sayangnya, intensitasnya sering berujung pelanggaran keras yang justru menguntungkan lawan lewat bola mati.

Bhayangkara Lampung FC saat ini memang sedang berjuang keluar dari papan bawah klasemen. Kehilangan Moisés akibat skorsing jelas menjadi kerugian besar karena perannya di lini tengah sangat vital dalam transisi bertahan ke menyerang.

Luciano Guaycochea: Emosional di Laga Besar

Satu nama lain yang melengkapi daftar lima besar pemain paling tidak fair play musim ini adalah Luciano Guaycochea dari Persib Bandung. Gelandang asal Argentina tersebut mengoleksi satu kartu kuning kedua dan satu kartu merah, dengan total delapan poin fair play dari tujuh laga yang dimainkan.

Guaycochea kerap tampil emosional saat laga berjalan ketat, terutama di laga-laga besar yang sarat gengsi. Kondisi itu sering membuatnya kehilangan fokus hingga melakukan pelanggaran yang tak perlu dan berujung kartu.

Meski demikian, peran Guaycochea dalam skema serangan Persib tetap krusial. Dia memiliki kemampuan menciptakan peluang dan mengatur tempo permainan, namun harus menyeimbangkan semangatnya agar tidak kembali tersandung masalah disiplin.

Sistem Penilaian Fair Play

Data fair play Super League 2025/2026 dihitung berdasar sistem poin yang diterapkan Transfermarkt. Kartu kuning bernilai satu poin, kartu kuning kedua tiga poin, dan kartu merah lima poin.

Lima pemain di atas menjadi catatan tersendiri dalam daftar kedisiplinan kompetisi yang baru memasuki paruh pertama musim. Persaingan Super League yang semakin ketat membuat emosi dan tensi di lapangan sulit dihindari.

Namun, kontrol diri tetap menjadi faktor penting bagi setiap pemain untuk menjaga keseimbangan tim dan menunjukkan profesionalisme di level tertinggi sepak bola Indonesia.

Kini, publik menantikan apakah lima pemain ini mampu memperbaiki catatan mereka di sisa musim. Dengan semangat baru dan kedewasaan bermain, bukan tidak mungkin mereka bisa berubah menjadi sosok penting yang membantu timnya meraih hasil maksimal di Super League 2025/2026.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *