Budaya  

Rahmah El Yunusiyyah, Sang Pemimpin yang Berkibarkan Merah Putih Pertama di Sumatra Barat

Kisah Heroik Rahmah El Yunusiyyah, Sang Pahlawan Nasional yang Mengibarkan Bendera Merah Putih

Rahmah El Yunusiyyah adalah salah satu tokoh paling penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sebagai cicit dari sang pahlawan, Fauziah Fauzan El Muhammady berbagi kisah-kisah luar biasa tentang perjuangan dan dedikasinya yang tak kenal lelah. Salah satu momen paling bersejarah dalam hidupnya adalah saat ia menjadi orang pertama yang mengibarkan bendera merah putih di Sumatra Barat.

Peran Rahmah dalam Pengibaran Bendera Merah Putih

Menurut Fauziah, Rahmah El Yunusiyyah memilih Asrama Diniyyah Putri Padang Panjang sebagai tempat berkumpulnya para tokoh pejuang. Bahkan Bung Karno pernah singgah ke sana setelah dibuang ke Bengkulu dan bertemu dengan Rahmah di rumahnya. Mereka membicarakan kepastian bahwa bendera negara ketika Indonesia merdeka akan selalu berbentuk merah putih.

“Kesepakatan itu dibuat di rumah Bu Rahmah, bahwa bendera negara harus tetap merah putih,” jelas Fauziah.

Saat kabar kemerdekaan tiba, Rahmah langsung bertindak. Ia menggunakan selendang putih milik seorang santri dan kain tenun merah hasil karya santri lainnya untuk membuat bendera. Kain tenun ini sangat langka pada masa itu, sehingga santri dilatih untuk menenun sendiri.

“Di depan asrama Diniyyah Putri, bendera merah putih dikibarkan. Titik tersebut hingga kini masih sama, hanya ganti tiang saja,” tambah Fauziah.

Perlawanan terhadap Kebijakan Penjajah

Rahmah tidak hanya berjuang melalui pengibaran bendera. Ia juga melawan kebijakan Belanda yang ingin menghapus kurikulum Islam di Diniyyah Putri dan melarang pernikahan secara Islam. Saat itu, beliau dipanggil ke kantor Belanda dan diberi tawaran menarik, seperti gedung sekolah yang bagus jika menghapus kurikulum.

Namun, Rahmah menolak mentah-mentah. “Sampai lapuk pun tulangku di liang kubur, aku tidak akan pernah menerima kerja sama dengan kalian,” ucapnya.

Tindakan itu membuat Jenderal Belanda geram. Namun, Rahmah tetap teguh dan menyatakan, “Kalau begitu, saya yang menentang tuan-tuan.” Akibatnya, beliau akhirnya ditahan selama hampir dua tahun.

Perjuangan dalam Masa Penjajahan Jepang

Selain itu, Rahmah juga melakukan perjuangan besar saat Jepang menjajah. Ia pergi ke Medan untuk menemukan perempuan Minang yang diculik dan dibawa ke kamp kerja seks. Dengan bantuan pendamping yang ahli dalam bidang kebidanan, beliau berhasil membawa pulang perempuan-perempuan tersebut melalui negosiasi.

“Beliau bisa bertemu dengan istri jenderal Jepang dan melakukan tukar menukar. Ini luar biasa,” ujar Fauziah.

Pernikahan dan Dukungan Suami

Rahmah menikah di usia 16 tahun. Namun, ia tidak mengabaikan perannya sebagai perempuan. Beliau mengajarkan kepada murid-muridnya bahwa perempuan boleh menjadi siapa saja selama tidak bertentangan dengan aqidah dan sunah, serta memiliki izin dari suami.

“Perjanjian pranikah sudah dilakukan sejak awal. Ini adalah bentuk dukungan dari suami,” jelas Fauziah.

Kemampuan sebagai Bidan

Selain sebagai pendidik dan pejuang, Rahmah juga memiliki kemampuan sebagai bidan. Ia belajar selama 1-2 tahun setelah mempelajari agama. Menurut Fauziah, ini mirip dengan Ibnu Sina, di mana dasar agama menjadi fondasi sebelum mengambil ilmu kedokteran.

Kesimpulan: Pentingnya Belajar Sejarah

Kisah Rahmah El Yunusiyyah menunjukkan betapa pentingnya belajar sejarah. Banyak hal yang dianggap inovasi modern ternyata sudah ada sejak dahulu. Dari pengibaran bendera merah putih hingga perjanjian pranikah, semua ini mencerminkan semangat perjuangan dan keberanian yang tak pernah padam.

Hafsha Kamilatunnisa

Hafsha Kamilatunnisa adalah seorang Jurnalis yang mengangkat kisah masyarakat, kegiatan sosial, dan gerakan komunitas. Ia aktif dalam kegiatan sukarelawan, hobi memotret aksi sosial, dan membaca kisah inspiratif. Motto: “Empati adalah kekuatan terbesar penulis.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *