
Masalah Monyet di Kampung Mekarjaya
Warga di kampung Mekarjaya, Desa Kutawaringin, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, kini diresahkan oleh keberadaan sejumlah monyet ekor panjang (Macaca Fascicularis) yang sering berkeliaran di area pemukiman. Menurut informasi dari warga setempat, kawanan monyet ini berasal dari Gunung Tawilis dan sering kali masuk ke permukiman warga.
Monyet ekor panjang adalah spesies primata yang tersebar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Hewan ini dikenal memiliki ekornya yang lebih panjang dari tubuhnya, bulu berwarna abu-abu kecoklatan, serta kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap berbagai habitat, termasuk dekat pemukiman manusia.
Perilaku Monyet yang Sulit Dikendalikan
Banyak warga mengeluhkan kesulitan dalam mengendalikan gerombolan monyet yang jumlahnya lebih dari sepuluh ekor. Bahkan, serangan monyet ini telah berlangsung selama lima bulan terakhir. Wawan, salah satu warga kampung Mekarjaya, menyebutkan bahwa tidak mudah untuk menangani situasi ini.
“Kami bingung, mau dibunuh tidak boleh, diusir justru balik menyerang. Bahkan anjing pun tidak bisa menakuti mereka,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ada kejadian dimana anjing yang biasanya menakuti hewan lain malah dikejar oleh lima ekor monyet hingga kabur.
Meskipun belum pernah menyerang atau menggigit manusia, keberadaan monyet ini membuat warga merasa tidak nyaman. Puluhan monyet sering bergelantungan di pohon-pohon dan berkeliaran di area pemukiman. Namun, menurut Wawan, monyet-monyet tersebut tampak jinak dan hanya mencari makanan.
“Bahkan jika diberi makan seperti pisang atau pepaya, mereka akan memakan makanan tersebut lalu kembali ke hutan,” tambahnya.
Dampak pada Pertanian dan Kehidupan Warga
Perlu diketahui bahwa monyet-monyet ini bukan hanya mengganggu kenyamanan warga, tetapi juga merusak areal pertanian. Kepala Desa Kutawaringin, Syarif Hidayat, mengakui bahwa permasalahan ini sudah berlangsung cukup lama dan sulit diatasi.
“Masalah monyet ini sudah muncul sebelum saya menjadi kepala desa tahun 2020. Bahkan saat kampanye pemilihan kepala desa, salah satu isu utama yang diajukan masyarakat adalah bagaimana mengendalikan penjarahan monyet,” katanya.
Menurut Syarif, monyet-monyet ini dulu hanya merusak tanaman di lereng Gunung Tawilis. Akibatnya, banyak warga tidak lagi berani bercocok tanam di daerah tersebut. Saat ini, gerombolan monyet dari Gunung Tawilis yang berjarak sekitar 4 kilometer dari perkampungan, semakin mendekat ke area pemukiman.
Pihak desa telah beberapa kali mengirim surat permohonan bantuan kepada pemerintah kabupaten, tetapi sampai saat ini belum ada tindakan nyata. “Sudah lebih dari tiga kali kami mengirim surat permohonan bantuan, tapi sampai sekarang belum ada respons,” ungkap Syarif.
Kejadian Unik dan Mengundang Tawa
Ada kejadian lucu yang juga mengagetkan warga. Suatu hari, tiga ekor monyet, dua induk dan satu anaknya, tiba-tiba masuk ke kantor desa. Syarif bercanda bahwa ia kira monyet-monyet itu ingin membuat KTP.
Keberadaan monyet-monyet ini menjadi tantangan besar bagi warga dan pihak desa. Meski belum ada tindakan nyata dari pihak pemerintah, warga berharap agar masalah ini dapat segera diatasi agar kenyamanan dan keamanan di kampung Mekarjaya dapat dipulihkan.












