Bencana Tanah Longsor di Bandung Barat: Keluarga Kehilangan Rumah dan Anggota Keluarga
Bencana alam tanah longsor kembali melanda wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB), Provinsi Jawa Barat. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu (26/1/2026) sekitar pukul 02.00 WIB, menerjang Kampung Babakan RT 05 RW 11, Kelurahan Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua. Material tanah yang bercampur air deras dari lereng Gunung Burangrang menerjang pemukiman warga secara mendadak saat sebagian besar penduduk tengah tertidur lelap.
Seorang korban bernama Adi (34) kehilangan rumah dan 11 anggota keluarganya akibat bencana ini. Rumah yang dihuni 11 orang rata tertimbun longsor, sementara Adi dan istrinya selamat karena berada di rumah lain. Longsor terjadi sekitar pukul 03.00 WIB saat korban diduga tengah tertidur lelap. Hingga kini, Adi masih menunggu hasil pencarian Tim SAR terhadap seluruh anggota keluarganya yang tertimbun.
Kegundahan Adi
Di lokasi kejadian, Adi terlihat menatap hamparan tanah kosong di Kampung Kuda, RT 1/10, Desa Pasirhalang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Tatapan mata Adi tampak kosong saat melihat rumah keluarganya yang sudah rata dengan tanah. Puing bangunan rumah yang sebelumnya ditempati oleh 11 anggota keluarganya itu sudah tidak terlihat akibat tertimbun material longsor.
Meski terlihat tegar, tubuh Adi tampak lemas. Dia hanya bisa pasrah sambil menunggu keajaiban agar semua anggota keluarganya bisa segera ditemukan oleh Tim SAR gabungan yang masih melakukan pencarian. “Total ada 11 saudara yang masih dicari. Kalau istri selamat karena saat kejadian, lagi sama saya di rumah atas,” ujarnya saat ditemui di lokasi kejadian.
Adi mengatakan, 11 saudaranya itu tinggal satu atap di rumah yang kini sudah rata dengan tanah. Sedangkan, saat kejadian longsor itu, kemungkinan besar mereka sedang tertidur pulas mengingat longsor terjadi sekitar pukul 03.00 WIB.
Teriakan Dini Hari
Adi pun masih ingat betul, betapa mencekamnya situasi saat longsor terjadi. Di tengah gelapnya dini hari itu, jeritan warga disertai suara gemuruh terdengar dari rumahnya yang ada di bagian atas titik longsor. “Warga teriak-teriak jam 3 subuh, awalnya saya gak tahu longsor. Saya kira Sesar Lembang (gempa). Ditambah hujan angin, pas lihat pagi kaget semua rumah di sudah sudah rata,” ucapnya.
Di pagi hari saat hari pertama longsor terjadi, Adi sontak langsung menghubungi semua saudaranya itu. Namun, hingga saat ini tidak membuahkan hasil, sehingga dia menduga mereka tertimbun longsor. “Kemarin sudah mencari sama Tim SAR, tapi belum ada hasil. Sekarang, katanya ada 5 orang yang ketemu tapi itu gak tahu saudara saya atau bukan,” kata Adi.
Update Korban
Marsekal Madya M Syafii, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), memberikan update informasi terkait jumlah korban bencana tanah longsor yang terjadi di Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat Sabtu (24/1/2026) dini hari. Menurutnya, informasi sementara total ada 113 orang korban dari 34 kepala keluarga yang terdampak longsor Cisarua.
“Dalam pelaksanaan operasi (pencarian korban) hari pertama, informasi sementara korban yang terdampak ada 113 korban dari 34 kepala keluarga, itu informasi awal,” kata M Syafii dalam keterangan persnya, Minggu (25/1/2026) pagi.
Sejauh ini, korban yang berhasil diselamatkan adalah 23 orang. Sementara itu, masih ada sekitar 80 orang warga Cisarua yang dinyatakan hilang.
Dugaan Prajurit TNI Hilang
Kodam III/Siliwangi menanggapi kabar dugaan hilangnya 23 prajurit TNI setelah bencana tanah longsor menerjang Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, pada Sabtu (24/1/2026). Informasi tersebut menyebutkan bahwa puluhan orang dilaporkan menjadi korban, termasuk dugaan keterlibatan anggota TNI di antara mereka yang hingga kini belum ditemukan.
Berdasarkan data sementara, longsor tersebut mengakibatkan delapan orang meninggal dunia, sementara 82 orang lainnya dilaporkan belum ditemukan. Di tengah proses pendataan itu, muncul kabar bahwa 23 orang di antaranya merupakan prajurit TNI, meski hingga saat ini informasi tersebut masih dalam tahap penelusuran dan belum dapat dipastikan kebenarannya.
Kepala Penerangan Kodam III/Siliwangi, Kolonel Inf Mahmuddin, mengatakan pihaknya masih melakukan pengecekan terkait dugaan tersebut. Ia menegaskan belum memperoleh informasi pasti apakah ada anggota TNI yang termasuk dalam daftar korban selamat maupun korban yang masih hilang. Konfirmasi resmi, kata dia, akan disampaikan setelah proses verifikasi selesai dilakukan.
Mahmuddin menjelaskan, saat ini fokus utama aparat adalah proses evakuasi dan pencarian korban bersama tim gabungan. “Upaya pencarian beberapa kali terkendala cuaca ekstrem, berupa hujan lebat disertai angin kencang, yang membuat kondisi di lokasi menjadi tidak aman bagi petugas. Aliran air dan material longsoran yang masih bergerak juga menyulitkan penggunaan alat berat,” ujarnya.












