Daerah  

Dua Bulan Pasca Bencana, Warga Tapteng Masih Kekurangan Air Bersih

Kekurangan Air Bersih Berdampak pada Kesehatan dan Kehidupuan Warga Tapteng

Dua bulan setelah bencana banjir dan longsor yang menimpa Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, warga masih menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih. Hal ini menjadi tantangan besar bagi masyarakat sehari-hari, terutama dalam menjaga kebersihan dan kesehatan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, banyak warga terpaksa membeli air dengan harga Rp 1.000 per jeriken. Meski harganya tergolong murah, pengeluaran tersebut tetap memberatkan bagi keluarga yang tinggal di daerah terisolasi. Misalnya saja Yani, warga Kelurahan Sibuluan Indah, Kecamatan Pandan. Ia harus berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih, karena tidak ada pasokan air yang stabil di wilayahnya.

Air bersih yang dibeli Yani digunakan bukan hanya untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK), tetapi juga untuk membersihkan rumah pasca perbaikan setelah bencana. “Sulit kali, tiap hari harus antre pagi dan sore hari. Sudah sejak bencana belum ada air hidup,” ujarnya kepada Tribun Medan.

Selain itu, Yani memiliki tiga anak yang harus mandi setiap pagi sebelum berangkat sekolah. “Rumah kami sudah selesai diperbaiki, tapi pembersihan dari perbaikan itu butuh banyak air. Ada tiga anak yang masih sekolah. Semua di Tapteng, khususnya di Kecamatan Pandan ini gak ada air hidup. Gimana kalau air enggak hidup terus?” tambahnya.

Ansyah Sitompul, warga lainnya, juga mengeluhkan kondisi serupa. Ia lebih memilih mengambil air dari masjid dengan sistem bayar seikhlasnya. “Tiap hari kita mengantre mengambil air, angkat air. Capek juga. Paling lama pernah saya mengantre setengah jam. Dan pernah juga mengambil air subuh-subuh, biar gak mengantre,” katanya.

Ia berharap agar air segera hidup seperti sebelum bencana. “Karena air adalah kebutuhan utama masyarakat. Sudah dua bulan berlalu, berharap lah ini menjadi perhatian khusus untuk pemerintah. Karena kalau tidak ada air, penyakit bisa mulai bermunculan,” ujarnya.

Perbaikan Infrastruktur Air di Tapteng

Menurut data dari akun Instagram resmi Pemkab Tapteng @pemkabtapanulitengah, beberapa kecamatan telah menyelesaikan perbaikan air secara 100 persen. Di antaranya adalah Kecamatan Barus Sosorgodang, Manduamas, Sorkam, Tapian Nauli, Sitahuis, dan Lumut. Namun, beberapa kecamatan masih dalam proses perbaikan.

Perbaikan air yang masih dalam proses pekerjaan mencapai 79,18 persen dan masih dalam tahap perbaikan aktif yakni kecamatan Pandan, Sarudik, dan Tukka. Sementara itu, kecamatan Pinang Sori dan Kolang baru selesai 80 persen dan masih dalam perbaikan aktif. Kecamatan Badiri, Sibabangun, dan Sitahuis (Aek Marende) masih belum dilakukan perbaikan.

Penyakit Pasca Bencana Banjir dan Longsor

Pelaksana tugas (Plt) Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah Lisna Panjaitan menyebutkan bahwa penyakit terbanyak pasca bencana adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (Ispa). Berdasarkan data Dinkes Tapteng per Rabu (7/1/2026) pukul 13.00 WIB, jumlah kasus Ispa mencapai 9.729 pasien.

Menurutnya, penyebab utama Ispa adalah padatnya tempat pengungsian dan sulitnya mendapatkan air bersih pasca bencana. “Kategori penyakitnya masih ringan, tidak ada yang sampai sesak nafas,” jelasnya saat dikonfirmasi Tribun Medan.

Selain Ispa, penyakit kulit, hipertensi, diare akut, Influenza Lika Illnes (ILI), dan suspek demam tifoid juga ditemukan. Jumlah kasus penyakit kulit mencapai 4.164, hipertensi 1.625, diare akut 1.139, ILI 128, dan suspek demam tifoid 102.

Kecamatan Tukka mendominasi kasus Ispa, diare, dan penyakit kulit, sementara ILI didominasi oleh Kecamatan Aek Raisan, dan suspek demam tifoid oleh Kecamatan Sibabangun.

Upaya Penanganan Kesehatan di Posko Pengungsian

Lisna menegaskan bahwa posko pengungsian di Tapteng sudah sesuai standar dan lebih layak. “Meskipun kita bekerjasama dengan DLH maupun tim sanitari, tetap saja tidak sepenuhnya berjalan normal pasca bencana,” tuturnya.

Upaya penanganan kesehatan dilakukan di seluruh posko setiap hari, termasuk menyediakan tempat cuci tangan dan disinfektan untuk meminimalisir penyakit Ispa. Ia mengimbau penyintas banjir untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan sekitar tenda pengungsian dan mengikuti arahan dari tim medis.

Dampak Bencana pada Masyarakat

Bencana banjir dan longsor yang terjadi pada 25 November 2025 lalu menimbulkan kerusakan parah di sejumlah kecamatan. Berdasarkan data BPBD Sumut pukul 08.00 WIB, Rabu (7/1/2026), jumlah korban meninggal di Tapteng mencapai 129 orang dan hilang 35 orang. Angka ini terbanyak dibanding kabupaten/kota lain di Sumut.

Dengan situasi seperti ini, masyarakat masih membutuhkan bantuan dan perhatian pemerintah untuk mempercepat pemulihan infrastruktur air dan kesehatan.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *