Budaya  

Jejak Terakhir Sang Jenderal di Rumah Kolonial

Pengalaman Tak Terduga di Museum Jenderal Sudirman

Mengunjungi tempat di mana Panglima Besar Jenderal Sudirman mengembuskan napas terakhir bukanlah bagian dari rencana kami. Ini menjadi sebuah kebetulan yang justru tidak akan pernah saya lupakan.

Siang itu, saya dan Kompasianer Latipah Rahman (Lala) sedang menyantap bakso kerikil di Jalan Ade Irma Suryani, Magelang. Di tengah kesibukan mulut kami mengunyah, mata kami tak bisa berhenti menatap ke sekitar. Di seberang jalan, sebuah bangunan tua mencuri perhatian.

“Museum Sudirman”.
Tulisan raksasa itu terpampang jelas di bagian depan bangunan, seolah sengaja mengakhiri rasa penasaran siapapun yang melintas. Sembari menunggu hujan reda, sebelum melanjutkan perjalanan ke Semarang, kami memutuskan untuk mendekat.

Pintu utamanya tertutup, namun jendelanya terbuka. Kami bingung harus masuk lewat mana. Insting mendorong kami menuju ke belakang bangunan. Di sana, beberapa orang tengah duduk santai. Seorang pemuda dengan sigap berdiri begitu melihat kedatangan kami.

“Museumnya buka?” tanya saya seketika.

“Buka. Untuk berapa orang?” jawabnya sembari mengarahkan kami masuk melalui pintu belakang.

Saya sempat mengira pertanyaan itu berkaitan dengan harga tiket. Ternyata tidak, museum ini tidak menarik karcis, alias gratis.

Pemuda itu memperkenalkan diri sebagai Ardani. Seorang penjaga di museum Sudirman. Usianya tampak lebih muda dari saya. Tanpa diminta, ia bergegas membuka pintu, menyalakan lampu agar suasana lebih terang. Ia ramah dan tampak senang dengan kedatangan saya dan Lala. Mungkin karena di hari itu tak nampak satu pun pengunjung selain kami.

Ardani mulai menjelaskan setiap ruangan dan benda yang ada di sana. Saat itu saya baru menyadari, saya dan Lala sedang berdiri di bekas rumah yang menjadi saksi jasa besar seorang pahlawan bangsa. Di tempat inilah Jenderal Soedirman mengembuskan napas terakhirnya setelah menahan sakit dalam waktu yang cukup panjang.

“Ini ruang penyucian jenazah Soedirman,” kata Ardani sembari menunjuk sebuah ruangan memanjang yang ukurannya tidak terlalu besar. Di dalamnya tampak sebuah meja -tempat jenazah sang jenderal dahulu dimandikan.

Karena kami masuk dari pintu belakang, ruangan yang pertama kami lihat adalah bagian dalam rumah: ruang makan, kamar tidur dan baru kemudian ruang tamu.

Di setiap sudut, tersimpan benda-benda peninggalan Jenderal Sudirman dan keluarga. Salah satunya meja makan bergaya klasik dengan 6 buah kursi yang berada di ruang belakang.

Ada pula ranjang asli tempat sang jenderal menamatkan lelah, lengkap dengan kelambu putih. Rangka besinya tak terlihat begitu kokoh, sementara kasur dan kelambu sudah dipenuhi debu, pertanda usianya yang panjang. Saya tak berani menyentuhnya, semua terlihat rapuh, seolah mudah roboh oleh satu karena kecerobohan kecil.

Perabot rumah tangga seperti meja, kursi, kasur, lemari masih asli meski terlihat sudah dimakan usia. Di setiap tembok dipajang foto-foto serta potongan berita lawas tentang perjalanan hidup Jenderal Soedirman.

Beberapa foto memperlihatkan beliau yang tengah bersama Sang Plokamator, Ir. Soekarno atau tertawa santai bersama para perwira. Ada juga dokumentasi proses pemakaman sebelum jenazahnya dipindahkan ke taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Yogyakarta.

Dedikasi Jenderal Soedirman untuk negeri ini tidak perlu diragukan. Pada Agresi Militer Belanda II tahun 1948, ia tetap memimpin perang gerilya meski dalam kondisi sakit dan bahkan harus ditandu.

Tahun 1949, ia memutuskan untuk beristirahat di sebuah rumah bekas residence era kolonial, yang kini menjadi Museum Sudirman ini. Di sanalah ia tinggal bersama keluarga hingga menghembuskan napas terakhir.

Bukan sekadar bangunan peninggalan era kolonial, rumah ini menjadi saksi sejarah bagaimana sang panglima besar menghabiskan sisa hari-harinya, beristirahat dari lelahnya perang, ditemani rasa sakit yang semakin menjadi-jadi.

Di salah satu ruangan dipajang sebuah replika tandu, alat bantu yang digunakan untuk mengangkut sang Jenderal selama perang gerilya. Tandu ini menjadi simbol betapa sulitnya kondisi beliau di masa itu. Tak seorangpun sanggup membayangkan, harus berperang gerilya tapi dengan ditandu. Foto-foto ketika beliau ditandu menjadi gambaran bagaimana kondisi saat itu.

Selain tandu, terdapat pula replika jubah yang dulu dikenakan Sudirman. Jubah panjang ini memang identik dengan beliau, sering kita jumpai dalam foto-foto di buku sejarah maupun di internet.

Di ruang tamu, masih tersimpan set meja dan kursi berbahan rotan yang kini tampak rapuh. Di dekatnya dipajang riwayat pangsar sang Jenderal dengan ukuran cukup besar. Ada juga perangko dan matang uang Rupiah tahun 1968 bergambar Sudirman mulai dari 1 rupiah, 2,5 rupiah, 5 rupiah hingga 10 rupiah.

Museum ini memang tidak besar dan megah layaknya museum-museum lain, namun ia menyimpan jejak sejarah salah satu tokoh nasional yang berjasa besar bagi bangsa Indonesia.

Bangunannya terdiri atas 2 bagian. Yang saya tapaki ini merupakan kediaman Jendral Sudirman dan keluarganya sementara bangunan di belakangnya ditempati oleh ajudan militer.

Kini, bangunan belakang difungsikan sebagai area publik untuk berbagai kegiatan seperti lokakarya, seminar, lomba dan sejenisnya.

Sebelum menjadi rumah dinas, bangunan ini pernah dihuni oleh salah seorang Belanda yang bekerja sebagai perawat. Ardani sempat bercerita, beberapa tahun lalu ada orang Eropa bernama Andreas datang ke Magelang untuk mencari jejak tempat tinggalnya di masa kecil.

Usianya dulu masih 6 tahun. Ia tak bisa mengingat alamat rumahnya secara pasti. Ia hanya tahu apa-apa saja yang ada di sekitar rumahnya seperti kali, lapangan dan taman. Usianya memang sudah renta tapi ingatan tentang masa kecilnya cukup terawat dengan baik.

Masalahnya adalah ia mencari alamat rumah dari masa sebelum kemerdekaan yang notabene itu sudah lama sekali. Wajah kota Magelang sudah banyak berubah. Namun berbekal ingatan kecilnya dan bantuan komunitas sejarah setempat, Andreas akhirnya berhasil menemukan rumah itu. Rumah yang kini menjadi Museum Jenderal Sudirman.

Jauh sebelum di tempati sang panglima besar, Andreas dan keluarganyalah yang lebih dulu merangkai kenangan di rumah ini. Seiring dengan perubahan sejarah, kepemilikan rumah ini pun berpindah ke tangan Angkatan Darat.

Kini, Andreas kecil sudah menjadi lelaki tua renta. Ia datang jauh-jauh dari tanah Eropa untuk mencari jejak sejarahnya sendiri. 2 kali ia datang ke Magelang, dan kunjungan keduanya, ia anggap sebagai yang terakhir. Untuk menghormati perjalanannya, komunitas sejarah di Magelang menggelar acara perpisahan khusus untuknya.

Begitulah cerita yang saya dapat dari Ardani.

Mendengar kisah itu, saya jadi sadar bahwa setiap orang punya jejak sejarah yang -bagi dirinya- amat berarti. Kalau Andreas saja dengan sungguh-sungguh ingin menelusuri dan mengenang sejarah masa kecilnya sendiri, mengapa kita sering tidak peduli dengan jejak sejarah orang-orang yang berjasa besar bagi kemerdekaan bangsa ini?

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *