Budaya  

Kota Ini Punya Kedai Kopi Terbanyak di Indonesia, Bukan Jakarta

Kota Surabaya: Episentrum Budaya Ngopi Nasional

Surabaya kini tidak hanya dikenal sebagai kota industri dan perdagangan, tetapi juga sebagai pusat budaya ngopi nasional. Berdasarkan data GoodStats.id yang diambil dari POI Data, hingga akhir 2025 terdapat sekitar 12.510 kedai kopi beroperasi di Surabaya, jumlah tertinggi di Indonesia. Angka ini mencakup sekitar 2,7 persen dari total 461.991 kedai kopi di seluruh Indonesia.

Fenomena ini menempatkan Surabaya di atas Kota Bogor dan Kabupaten Sidoarjo, yang masing-masing memiliki 11.459 dan 10.061 kedai kopi. Dominasi Surabaya menggarisbawahi peran penting kota-kota di Jawa Timur dalam membentuk lanskap budaya kopi nasional.

Sejarah dan Peran Surabaya

Sejarawan FX Domini BB Hera menyatakan bahwa posisi Surabaya sebagai kota dengan jumlah kedai kopi terbanyak bukanlah kebetulan. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh peran Surabaya sebagai pintu gerbang lalu lintas barang maupun migrasi manusia antara kawasan Indonesia Barat dan Timur.

“Surabaya tidak mengherankan karena secara demografis dan kultural menjadi jalur utama lalu lintas tersebut,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa dinamika ekonomi dan mobilitas manusia telah menjadikan Surabaya tumbuh menjadi kota besar dan sibuk sejak era kolonial. Pada masa itu, Surabaya menjadi kota terbesar dan tersibuk setelah Batavia, yang kini dikenal sebagai Jakarta.

Kafe sebagai Simbol Modernitas

Di tengah pertumbuhan ini, kafe tidak lagi sekadar tempat minum kopi, melainkan simbol modernitas kawasan urban. “Kafe seolah menjadi identitas baru modernitas sebuah wilayah,” kata FX Domini BB Hera.

Pemilihan istilah pun memengaruhi citra. Kata “kafe” lebih menjual dibanding “kedai kopi” atau “warung kopi”. Hal ini semakin terasa pasca-pandemi Covid-19 pada tahun 2021. Selain Work From Home (WFH), muncul kebiasaan baru bekerja dari kafe.

“Tren ini umum di kalangan mahasiswa hingga para pekerja dan wirausaha,” tambahnya. Ia juga menyebut bahwa sebagian pelaku usaha Food and Beverages (FnB) menyadari adanya segmen pasar WFC (Work From Cafe) yang cukup optimal.

Bukan Sekadar Budaya Global

Meski berkembang pesat, FX Domini BB Hera menilai perkembangan kedai kopi tidak bisa disederhanakan sebagai penetrasi budaya global atau kapitalisme semata. Menurutnya, segmen bisnis kafe sangat kompetitif di Jawa.

“Rasanya berlebihan untuk mengaitkan ini sebagai budaya global dan kapitalisme lantaran persaingan justru terlihat dari keberagaman konsep yang ditawarkan,” katanya. Persaingan ini terlihat dari segmen yang digarap, mulai dari tema khusus hingga interior dan eksterior arsitektur yang unik.

“Semakin berbeda, semakin dinamis kompetisinya ketimbang kedai kopi global seperti Starbucks yang memiliki benang merah di semua cabangnya,” ujarnya.

Perubahan Fungsi Ruang Publik

Dalam sejarahnya, kafe bahkan pernah menjadi ruang perubahan sosial. Kafe menjadi penggerak perubahan sosial karena fungsi utamanya adalah pertemuan dan percakapan, seperti yang terjadi dalam Revolusi Prancis.

Meningkatnya jumlah kafe juga menandai pergeseran fungsi ruang publik. Namun FX Domini BB Hera menekankan bahwa hal ini bergantung pada karakter tempatnya. “Warung tradisional kita rerata tidak dirancang untuk ruang pertemuan dan percakapan dengan durasi lama,” ujarnya.

“Kedai atau warung kopi berbeda, lahan dan ketersediaan ruang bagi para pengunjungnya bersifat lebih rileks.” Bagi budaya lokal, masyarakat makin diperkaya karena setiap tempat kuliner memiliki segmen pasar dan pengunjungnya masing-masing.

Pengaruh Media Sosial

Media sosial juga berperan dalam dominasi kafe. “Dalam posisi ini ada jarak memang antara kafe yang lebih sering berlalu lalang di media sosial ketimbang tempat kuliner lain,” ujarnya.

Cangkrukan yang Beradaptasi

Dalam konteks Jawa Timur yang dikenal egaliter, kafe dinilai tidak mengikis budaya kolektif, melainkan memperkuatnya. Budaya cangkrukan terus beradaptasi dengan ruang dan zaman. Tidak menutup kemungkinan, konsep kafe terus mengalami evolusi dan inovasi untuk mengakomodir budaya cangkrukan.

Namun, di balik maraknya kafe, tantangan bisnis tetap besar. “Masih jarang ditemui kafe yang bisa bertahan lebih dari 5–10 tahun,” pungkas FX Domini BB Hera.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *