Viral RS Multazam Gorontalo, Janji Operasi ERACS Ternyata Hanya Cesar

Pengalaman Traumatis Saat Persalinan di Rumah Sakit Multazam

Seorang perempuan berusia 26 tahun, yang mengaku sebagai warga Kecamatan Bintauna, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara, mengungkapkan pengalamannya yang traumatis saat menjalani persalinan di Rumah Sakit (RS) Multazam, Kota Gorontalo. Ia meminta agar nama lengkapnya tidak dipublikasikan, dengan inisial SRO.

SRO mengatakan bahwa ia memilih untuk bersalin menggunakan metode ERACS (Enhanced Recovery After Cesarean Surgery), sebuah prosedur yang dirancang untuk mempercepat pemulihan pascaoperasi dibandingkan operasi caesar konvensional (SC). Namun, setelah operasi selesai, ia merasa dikhianati karena ternyata hanya dilakukan operasi SC biasa.

Perbedaan antara ERACS dan Operasi Caesar Konvensional

ERACS menekankan pendekatan pemulihan pascaoperasi dengan teknik anestesi yang lebih baik, manajemen nyeri yang efektif, serta pemberian nutrisi dan mobilisasi dini. Tujuannya adalah mempercepat pemulihan dan mengurangi rasa sakit. Sebaliknya, operasi caesar konvensional fokus pada proses bedah itu sendiri, sehingga pemulihannya lebih lambat.

SRO menyampaikan bahwa ia telah meminta secara jelas kepada dokter AW, yang disebut-sebut ahli dalam menangani persalinan ERACS, agar operasi dilakukan sesuai metode tersebut. Ia juga menjalani antenatal care (ANC) sebagai syarat administrasi BPJS, sementara biaya ERACS sebesar Rp2,2 juta harus dibayarkan sendiri.

Masalah Selama Proses ANC

Proses ANC yang dilalui SRO tidak berjalan mulus. Ia menghadapi berbagai kendala seperti klinik rujukan yang tutup, alat medis yang belum steril, dan puskesmas yang tidak beroperasi. Meskipun begitu, ia tetap berusaha memenuhi persyaratan demi mendapatkan persalinan dengan metode ERACS.

Pada 7 Desember 2025, SRO masuk ke RS Multazam sebagai pasien BPJS kelas 1. Ia menandatangani informed consent ERACS dan dijanjikan operasi sesuai metode yang diminta. Namun, dari awal masuk rumah sakit, ia mengalami beberapa kelalaian. Ia ditempatkan di kamar kelas 3 dan diminta mencari sendiri kamar kelas 1 karena kesalahan input data oleh pihak rumah sakit.

Malam sebelum operasi, biaya ERACS dibayarkan secara penuh. Ia juga menjalani prosedur puasa sebagaimana protokol ERACS, dan kembali diyakinkan oleh perawat bahwa ia merupakan pasien dokter AW yang akan menjalani operasi ERACS.

Kekeliruan dalam Operasi

Keesokan harinya, 8 Desember 2025, sekitar pukul 09.00 WITA, operasi dilakukan oleh dokter AW. Namun, kondisi pascaoperasi justru jauh dari yang ia bayangkan. Ia merasakan nyeri hebat yang tidak sesuai dengan gambaran pemulihan cepat yang selama ini dijanjikan dalam metode ERACS.

Pada malam hari, seorang bidan dari ruang VK datang dan menyampaikan bahwa persalinan yang dijalaninya bukan ERACS, melainkan sectio caesarea (SC) konvensional akibat miskomunikasi internal. Akibatnya, biaya ERACS dikembalikan. SRO menggambarkan momen tersebut sebagai titik kehancuran emosionalnya.

Kelalaian Lain yang Menghancurkan

Ia mengungkapkan bahwa bidan tersebut sempat menyentuh bayi tanpa mencuci tangan setelah memegang uang, sebuah kelalaian serius lainnya. Alih-alih mendapatkan pemulihan psikologis, keesokan harinya SRO mengaku justru mendapat tekanan. Ia didatangi perawat yang menanyakan unggahan media sosial terkait kejadian yang dialaminya.

Saat dokter AW datang menjenguk, ia merasa tidak diberi ruang untuk menyampaikan keluhan secara terbuka. Ia merasa disudutkan dan dimanipulasi secara emosional hingga merasa bersalah atas kejadian yang jelas bukan kesalahan dirinya.

Tindakan Rumah Sakit yang Dianggap Tidak Etis

Beberapa waktu kemudian, pihak manajemen RS Multazam turut mendatanginya. Menurut pengakuannya, ia dibujuk agar unggahan media sosial dihapus, bahkan diminta menandatangani surat persetujuan pembatalan ERACS. Permintaan itu ia tolak.

SRO menilai, tindakan RS Multazam telah melanggar tiga prinsip dasar etik medis, yakni autonomy (kebebasan individu), veracity (kejujuran), dan fidelity (kesetiaan). Ia menyampaikan ini bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk mencari keadilan dan agar kejadian serupa tidak menimpa pasien lain.

Hingga kini, ia mengaku masih menunggu itikad baik dan tanggung jawab dari pihak rumah sakit. Ia menegaskan akan terus menuntut keadilan sampai haknya terpenuhi.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *