Keindahan Toko Buku di Yogyakarta
Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai kota pelajar, tetapi juga menjadi surga bagi para pencinta buku. Selain toko buku besar yang sudah cukup terkenal, kota ini juga memiliki banyak toko buku indie yang unik dan menarik. Beberapa toko yang patut dikunjungi antara lain Buku Akik, Berdikari Book and Coffee, Mojok Store, Shira Media, Solusi Buku, Warung Sastra, Reinaisansi Coffee and Theotraphi, dan lainnya.
Walaupun waktu saya di Yogyakarta sangat terbatas, saya berusaha memilih toko-toko yang lokasinya dekat dan mudah diakses. Sayangnya, hampir semua toko buku di sini buka pada pukul 10 pagi. Ini membuat sedikit kesulitan bagi para pengunjung yang ingin mengunjungi beberapa toko dalam satu hari.
Namun, kabar bahwa Mojok Store buka dari jam 9 pagi membuat rencana saya berubah. Dari sinilah pengalaman saya mengunjungi toko buku di Yogyakarta dimulai.
Mojok Store dan Taman Baca Impian
Beberapa bulan lalu, saya pernah bercerita tentang buku antologi saya yang baru terbit. Di dalamnya terdapat kekhawatiran akan masa tua dan keinginan untuk membangun taman baca. Ternyata, apa yang saya tulis dan gambarkan kini muncul di hadapan saya. Mojok Store adalah wujud nyata dari taman baca yang saya impikan.
Bangunan Mojok Store terbuat dari kayu dan memiliki halaman berumput yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan seperti workshop, diskusi, atau bedah buku. Lokasinya tidak terlalu ramai dan terletak di daerah yang tidak jauh dari pusat kota. Ada area parkir yang cukup luas dan bangunan dengan dua lantai. Lantai pertama digunakan sebagai toko buku, sedangkan lantai kedua berfungsi sebagai perpustakaan.
Yang saya suka dari tempat ini adalah ketenangannya. Meski tidak terlalu ramai, suasana yang tenang membuat saya merasa nyaman. Banyak buku-buku dari berbagai penerbit seperti Post, Kobam, Mizan, Diva Press, Gramedia, Baca, dan buku-buku asing. Koleksi buku ditata berdasarkan tema seperti perempuan, pendidikan, agama, dan buku anak-anak.
Saya juga tertarik dengan rak-rak yang disusun secara kreatif. Salah satu buku yang saya bawa pulang adalah “Sentimentalisme Calon Mayat.” Saya sempat naik ke lantai dua untuk melihat kondisi perpustakaan mereka. Meski agak panas, koleksi bukunya cukup menarik. Ada bangku dan meja kerja di tengah ruangan serta rak-rak buku di sekitarnya.
Salah satu hal yang menarik adalah kebijakan mereka yang pro terhadap aktivitas merokok. Bahkan di beberapa sudut ada slogan pembelaan rokok seperti “Merokok adalah aktivitas legal yang dilindungi Undang-undang.” Rak khusus mereka juga menyediakan buku-buku tentang rokok dan kopi dengan judul “Kretek, Kopi dan Riset Penelitian.”
Buku Akik dan Keviralannya
Tidak lengkap rasanya berkunjung ke Yogyakarta tanpa mengunjungi Buku Akik. Bahkan artis seperti Dias Sastro pernah mengunjungi dan membagikannya di media sosial. Lokasinya masih satu arah dengan Mojok Store, tetapi lebih jauh sedikit.
Buku Akik terlihat seperti oase di tengah gurun. Meskipun tidak berada di dekat pepohonan, penataan tokonya sangat unik dan estetik. Ketika saya datang, toko ini sedang ramai pengunjung. Mungkin karena keviralannya atau efek dari postingan Dian Sastro. Banyak muda-mudi yang sedang berfoto-foto atau bahkan melakukan prewedding.
Di sini, pengunjung bisa melakukan berbagai aktivitas seperti membeli buku, membaca, berburu aksesoris lucu, atau mencoba membeli blind book. Cara mereka mengklasifikasikan buku mengingatkan saya dengan Gramedia Jalma. Ada keterangan kecil di bagian bawah buku yang menjelaskan isi bukunya.
Rak khusus untuk pencinta kucing juga menarik perhatian. Ada buku-buku tentang kucing dan pernak-pernik kucing yang membuat sudut ini semakin menggemaskan. Rak puisi dengan tulisan “Selamat Menunaikan Ibadah Puisi” juga menarik perhatian.
Buku Akik juga memiliki berbagai aksesoris yang unik dan lucu, seperti postcard, gelang, cincin, enamel pin, dan topi. Bahkan ada deretan piringan hitam dan kaset lawas yang mungkin hanya sebagai pajangan atau koleksi.
Hal-hal seperti ini membuat toko semacam ini disebut-sebut menjual experience. Pengunjung tidak sekadar membeli buku lalu pulang, tetapi juga bisa berbincang dan bertukar cerita. Meskipun saya tidak membawa pulang satu buku pun, saya yakin bahwa Yogyakarta tidak kalah dari Jakarta dalam hal toko buku. Jadi, jika Anda ke Yogyakarta, jangan lewatkan untuk mengunjungi toko bukunya.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."












