Banjir Melanda Wilayah Jawa, Berdampak pada Pemukiman dan Sektor Pertanian
Banjir yang melanda sejumlah daerah di Pulau Jawa telah memberikan dampak signifikan terhadap masyarakat, baik dari segi pemukiman maupun sektor pertanian. Genangan air menggenangi permukiman hingga persawahan, sehingga menyebabkan gangguan besar dalam kehidupan sehari-hari.
Di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, banjir berdampak langsung pada sektor pertanian. Sebanyak 2.165 hektare lahan sawah terendam air akibat curah hujan yang tinggi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap ketersediaan pangan dan penghasilan petani. Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, Uun Junandar, menjelaskan bahwa luasan sawah yang terendam tersebar di 13 kecamatan. Ia juga menyampaikan bahwa sekitar 21 hektare sawah terancam gagal panen atau puso, meskipun masih bersifat sementara.
Kondisi ini memicu langkah-langkah penanganan dari pihak dinas pertanian. Mereka telah mengajukan permohonan bantuan benih padi kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten serta mengusulkan bantuan beras bagi para petani terdampak. Namun, sampai saat ini belum ada skema bantuan langsung dari pemerintah pusat maupun daerah untuk lahan yang telah masuk kategori puso.
Banjir di Jawa Tengah, Jenazah Warga Diantar dengan Perahu Kayu
Di Jawa Tengah, banjir melanda tiga kabupaten yaitu Pati, Jepara, dan Kudus. Penanganan bencana dilakukan oleh tim gabungan bersama pemerintah daerah, termasuk evakuasi warga, pendistribusian bantuan, serta pembersihan material longsor. Wilayah-wilayah terdampak mencakup beberapa kecamatan di ketiga kabupaten tersebut.
Di Kabupaten Pati, genangan air yang merendam permukiman menghadirkan suasana duka. Salah satu peristiwa yang viral di media sosial adalah saat jenazah warga Desa Mintobasuki dibawa menggunakan perahu kayu. Proses ini dilakukan karena mobil jenazah tidak dapat digunakan akibat kondisi jalan yang terendam air. Perahu kayu bermesin tempel digunakan sebagai ambulans air darurat untuk mengantarkan jenazah menuju pemakaman.
Sekretaris Desa Mintobasuki, Abdul Mustaji, menjelaskan bahwa keputusan penggunaan perahu disepakati antara keluarga dan warga setempat. Ia menambahkan bahwa jalur yang dilewati perahu melewati area persawahan yang kini telah berubah menjadi genangan air luas. Meski begitu, ada area tanah yang relatif lebih tinggi di lokasi pemakaman untuk proses penguburan.
Banjir di Desa Mintobasuki mulai terjadi sejak Sabtu sore akibat luapan Sungai Silugonggo. Data pemerintah desa mencatat sedikitnya 241 rumah terendam, dengan dampak mencapai 313 KK atau sekitar 800 jiwa. Ketinggian air di dalam rumah berkisar antara 5 hingga 60 sentimeter. Selain merendam permukiman, banjir juga melumpuhkan sektor pertanian. Tercatat, 6 hektare tanaman padi muda dan 65 hektare padi siap panen terendam air. Kerugian materiel akibat kerusakan lahan pertanian diperkirakan mencapai Rp515 juta.
Banjir di Lamongan, Harga Kebutuhan Pokok Naik
Selain di Jawa Tengah dan Banten, banjir juga melanda wilayah di Lamongan, Jawa Timur. Akibat air yang tak kunjung surut, harga kebutuhan pokok naik. Hal ini semakin membebankan warga yang terdampak banjir akibat luapan Sungai Bengawan Jero.
Kepala Dusun Glagah, Kecamatan Glagah, Suparjo, menjelaskan bahwa kondisi wilayah yang terisolasi dan sulitnya akses transportasi menyebabkan distribusi barang terhambat. “Banjir sudah berjalan 2 bulan, ekonomi, sembako dan yang lain mengalami kenaikan, akses jalan terendam hanya bisa dilewati dengan perahu,” ujar Suparjo.
Ia membeberkan kenaikan harga terjadi pada berbagai komoditas dapur, dengan rata-rata kenaikan berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 7.000 dari harga normal. Kenaikan ini sangat signifikan bagi warga yang aktivitas ekonominya juga terhenti akibat banjir.
Debit air di wilayah Bengawan Jero masih fluktuatif tergantung intensitas curah hujan. Warga pun diimbau tetap waspada terhadap potensi kenaikan debit air susulan sembari menunggu bantuan logistik dan normalisasi harga di pasar lokal.
Prediksi BMKG: Cuaca Ekstrem Mengancam Indonesia
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan potensi cuaca ekstrem terjadi di wilayah Indonesia pada bulan Januari 2026. Kondisi cuaca ekstrem tersebut berpotensi memicu banjir, tanah longsor, serta banjir bandang. Dilihat pada situs resmi BMKG pada Selasa (16/1/2026), sejumlah daerah termasuk Jawa Tengah diprediksi diguyur hujan lebat hingga sangat lebat (level Siaga) selama tiga hari.
Wilayah-wilayah tersebut berpotensi terdampak bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan pohon tumbang akibat cuaca ekstrem.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.












