Dari jalanan ke panggung nasional, Yoga Ardian bina atlet cilik melalui Indosalto

Latar Belakang

Yoga Ardian (35) adalah seorang atlet dan pelatih profesional yang lahir dan tumbuh di RT 07, RW 08, Penjaringan, Jakarta Utara. Di gang sempit itu, ia membangun mimpi dan bakatnya dalam dunia akrobatik. Awalnya, Yoga menggeluti capoeira dan pernah dilatih oleh master dari Brasil. Selain itu, ia juga pernah menekuni wushu hingga mengikuti Kejuaraan Nasional dan sempat terjun ke dunia break dance.

Perjalanan Kehidupan

Gerakan-gerakan lentur dan ekstrem yang bisa ia lakukan saat ini merupakan hasil latihan di depan rumahnya yang hanya berupa gang sempit dengan lebar sekitar tiga meter. Perjuangan Yoga dalam merajut mimpi tentu saja tak mudah. Hinaan dan direndahkan sudah menjadi “makanan sehari-hari” baginya sejak kecil. Namun, hinaan itu tak membuat semangat Yoga untuk menggeluti dunia akrobatik luntur begitu saja. Di sisi lain, ia menyadari kemampuan akademiknya tak sebagus anak-anak lain, sehingga ia berusaha berlatih mati-matian untuk menumbuhkan bakatnya lewat dunia akrobatik.

Profesi dan Pengembangan

Mampu melakukan berbagai gerakan akrobatik yang sulit membuat Yoga lebih percaya diri karena merasa berbeda dengan orang lain. Perjuangan Yoga berlatih mati-matian pun kini membuahkan hasil. Selain menjadi atlet, lewat kemampuan akrobatiknya, ia sudah mencoba berbagai profesi, termasuk menjadi stuntman di sebuah film. Namun, profesi yang saat ini digeluti Yoga adalah dengan menjadi pelatih profesional di berbagai tempat kebugaran atau kelas private.

Bentuk Indosalto

Pencapaiannya sebagai atlet dan pelatih tidak membuat Yoga puas begitu saja. Selama tiga tahun terakhir, ia berusaha berbagi ilmu akrobatik kepada anak-anak di sekitar kediamannya. Cerita bermula pada tahun 2022, ketika pandemi Covid-19 masih melanda Indonesia dan membuat Yoga lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Pembatasan aktivitas masyarakat di luar rumah membuat Yoga mengajak teman-temannya untuk berlatih di rumah. Latihan yang dilakukan itu ternyata menyita perhatian anak-anak di sekitar rumah Yoga. Melihat antusiasme mereka, ia pun mencoba mengajak anak-anak tersebut untuk ikut latihan.

Komunitas Gratis

Setelah itu, baru ketemu anak-anak karena mereka kan sekolahnya di rumah terus banyak dari mereka yang lihat saya latihan satu di antaranya itu Acil atau Karlina. Selain Karlina, ada lima orang anak lainnya yang rutin ikut berlatih akrobatik di rumah Yoga sampai akhirnya terbentuk Indosalto. Indosalto merupakan komunitas akrobatik gratis yang didirikan Yoga sejak tiga tahun lalu. Lewat komunitas ini, anak-anak diajarkan gerakan-gerakan akrobatik dasar, di antaranya latihan keseimbangan dan kekuatan otot, kekuatan tangan dengan push up, hand stand, roll depan, tendangan, dan pukulan.

Kiprah Anak Didik

Namun, seiring berjalannya waktu, anak-anak mulai bosan dan tidak lagi rutin melakukan latihan di rumah Yoga. Dari enam anak, hanya Karlina saja yang tekun berlatih. Tekun berlatih, kini Karlina (15) atau lebih akrab disapa Acil sudah mampu melakukan berbagai gerakan akrobatik ekstrem, mulai dari koprol, backflip, charwheel, dan lain sebagainya. Kini, kemampuan Acil di bidang akrobatik bukan hanya ditunjukkan di gang sempit Penjaringan, tetapi juga di kancah nasional lewat berbagai ajang kejuaraan.

Membangun Kemandirian

Selain menjadi atlet, Yoga juga mendidik Acil agar bisa mandiri secara ekonomi di usianya yang masih belia dengan mengajaknya menjadi asistennya saat melatih akrobatik berbagai klien. Kini, setiap bulan Acil sudah memiliki penghasilan yang bisa digunakan untuk membeli baju, sepatu, dan perlengkapan sekolahnya sendiri tanpa merepotkan orangtua. Selain Acil, Yoga juga berhasil membuat anak didiknya yang lain lebih mandiri secara ekonomi.

Cetak Atlet Lain

Perjuangan Yoga untuk mencetak atlet di gang sempit tidak hanya sampai di Acil. Saat ini, ada enam anak lainnya yang rutin berlatih akrobatik di depan rumahnya. Anak-anak tersebut berusia sekitar lima hingga 15 tahun. Yoga juga melibatkan Acil untuk melatih rekan-rekannya agar memiliki kemampuan yang sama. Meski baru beberapa bulan berlatih, anak-anak ceria itu sudah bisa melakukan berbagai gerakan akrobatik ekstrem.

Persiapan Profesional

Melalui latihan itu, mereka dilatih kemampuan melompat, kekuatan otot bagian bawah dan perut, kecepatan gerakan, hingga memori otak. Semua latihan ini penting karena Yoga mempersiapkan anak didiknya menjadi profesional yang mampu melakukan gerakan akrobatik tanpa matras. Sekarang kita belajar capoeira, belajar tricking, dan gymnastic-nya juga bisa dilihat, kita bisa nendang, bisa salto, dan yang paling penting kita bisa lakukan itu di mana pun, jadi enggak usah bawa matras ke mana-mana dulu sih bilangnya profesional jadi kita desain untuk itu.

Tetap di Gang Sempit

Meski komunitas akrobatiknya kini dikenal banyak orang dan memiliki ratusan ribu pengikut di Instagram, Yoga memilih tetap berlatih di gang sempit. Sebab, gang di depan rumahnya menjadi lokasi yang paling mudah dijangkau anak-anak. Jadi, kalau ke taman mereka butuh ongkos, dan agak susah karena masih anak-anak takutnya nyebrangnya susah juga karena takut kena mobil atau motor. Apabila berlatih di taman, waktu perjalanan yang harus di tempuh sekitar 20 menit. Oleh karena itu, ia tetap memanfaatkan gang depan rumahnya sebagai ruang berlatih para bibit atlet nasional.

Tanggapan Warga

Berlatih di gang sempit memang tidak mudah. Mereka harus sering menggulung matras saat ada motor atau orang lewat. Yoga pun tak henti-henti meminta maaf kepada warga yang terganggu. “Maaf ya, maaf menganggu,” kata Yoga. Namun, warga sekitar sudah terbiasa dan memaklumi kegiatan yang digelar Yoga dan anak didiknya karena sudah berlangsung bertahun-tahun. Bahkan, tetangga-tetangganya pun mengaku sama sekali tidak terganggu meski teriakan anak-anak begitu nyaring ketika berlatih di depan rumahnya.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *