Penemuan Jenazah Mahasiswi di Sungai Pasuruan
Pada Selasa (16/12/2025) pagi sekitar pukul 06.30 WIB, seorang petani jagung menemukan jenazah seorang perempuan yang tergeletak di aliran sungai kecil dekat Jalan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan. Saat itu, saksi memarkirkan kendaraannya di sekitar jembatan dan melihat tubuh korban yang tidak bergerak.
Saksi kemudian memanggil warga lain sebelum melaporkan temuan tersebut ke Polsek Wonorejo. Petugas segera mengamankan lokasi dengan memasang garis polisi untuk penyelidikan lebih lanjut. Kapolsek Wonorejo, AKP Sugiyanto, menjelaskan bahwa tim Inafis Polres Pasuruan langsung dikerahkan ke lokasi untuk melakukan identifikasi awal.
Tidak ditemukan kartu identitas seperti KTP atau barang bukti lainnya di sekitar korban. Oleh karena itu, petugas melakukan pemeriksaan sidik jari guna mengenali identitas gadis tersebut. Hingga pemeriksaan awal selesai, identitas korban belum diketahui secara pasti, namun dipastikan berjenis kelamin perempuan dan berusia masih muda.
Tindik di Pusar Jadi Petunjuk
Kasat Reskrim Polres Pasuruan, AKP Adimas Firmansyah, menjelaskan bahwa pengungkapan identitas ini berhasil dilakukan setelah tim Inafis mengidentifikasi sidik jari serta ciri fisik tertentu pada tubuh korban. Salah satu ciri fisik menonjol yang ditemukan adalah adanya tindik pada bagian pusar.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, korban bernama Faradila Amalia Najwa (21), kelahiran 15 April 2004, yang beralamat di Dusun Taman, Desa Tiris, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo. Lebih lanjut, Adimas menyatakan bahwa korban merupakan putri dari pasangan Ramelan dan Siti. Pihak kepolisian pun telah menjalin komunikasi dengan keluarga korban untuk keperluan pemeriksaan lebih lanjut sekaligus proses penyerahan jenazah kepada pihak keluarga.
Motif Pembunuhan Terungkap
Dikutip dari berbagai sumber, Bripka AS, anggota Polres Probolinggo, tega menghabisi nyawa adik iparnya sendiri, FAN (21), karena ingin menguasai harta korban. Pelaku mengajak teman kecilnya, SY, untuk menghabisi nyawa adik iparnya, FAN (21), dengan cara mencekiknya hingga tewas.
Jenazah FAN kemudian dibuang oleh pelaku di Pasuruan dalam kondisi tertelungkup, mengenakan jaket hitam, celana panjang warna krem, serta helm berwarna pink. Bripka AS saat ini sudah diamankan oleh petugas dan ditahan di Polda Jawa Timur.
Motif pembunuhan itu terungkap setelah penyidik melakukan pemeriksaan intensif terhadap pelaku. Dalam pemeriksaan, polisi juga berhasil menemukan fakta baru bahwa pelaku sebelumnya juga sempat mengambil uang sebesar Rp 10 juta milik korban.
Dirreskrimum Polda Jatim Kombes Pol Widi Atmoko mengungkap, berdasarkan hasil pemeriksaan, ada dua motif utama pembunuhan, yakni sakit hati dan ingin menguasai harta milik korban. “Yang kami temukan dan sudah kami yakini ada dua yaitu sakit hati dan ingin menguasai harta korban,” kata Widi Atmoko, Senin (29/12/2025).
Motif ingin menguasai harta korban itu diperkuat dengan temuan penyidik bahwa tersangka pernah mengambil harta korban. “Karena kami mendapatkan beberapa jejak yang bersangkutan sudah mengambil harta korban,” ujarnya.
Bripka AS juga diketahui pernah mengambil uang korban sebesar Rp10 juta. “Uang (korban) yang baru diambil Rp10 juta,” ungkap Widi.
Keluarga Korban Beri Keterangan
Menurut Ramlan, ayah korban, hubungan pelaku dengan korban tidak harmonis. Tak hanya dengan korban, hubungan terduga pelaku dengan kakak pertama korban juga tidak harmonis. Ramlan sendiri mengaku terakhir kali berkomunikasi dengan korban pada 14 Desember lalu. Saat itu korban menghubunginya untuk diisikan token listrik.
Setelah itu tidak ada komunikasi lagi dan dirinya akhirnya mendapatkan kabar kalau putrinya ditemukan meninggal dari pihak kepolisian. “Sebelum anak saya ditemukan meninggal dunia, dari CCTV kos nya itu terlihat dijemput oleh ojol. Kemudian tahunya kalau anak saya meninggal dunia keluarga dihubungi Polres Pasuruan setelah identitasnya diketahui dari sidik jari,” kata Ramlan, Rabu (17/12/2025).
Setelah mendapatkan informasi dari kepolisian soal kematian anaknya, Ramlan langsung meminta 2 sopir pribadinya dan Bripka AS yang saat itu sedang berada di rumahnya sendiri di Kecamatan Kraksaan untuk datang ke rumah sakit Bhayangkara Watukosek, Sidoarjo.
Menurut Ramlan, selama ini korban merupakan bendahara keluarga. Dia pun menduga pembunuhan terhadap anaknya itu dilatarbelakangi karena pelaku ingin menguasai harta benda milik anaknya tersebut. “Anak saya ini kayak bendahara keluarga,” jelas Ramlan.
Terlebih, kata Ramlan, saat ditemukan, beberapa barang anak saya seperti HP dan dompet yang berisi ATM tidak ditemukan. “Tapi ATM nya sudah diurus dan sudah diblokir,” pungkasnya.
Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”












