Kehidupan Ibu di Medan yang Dibunuh Anak, Antar Jemput Sekolah dan Sering Jalan-Jalan Tanpa Suami

Kehidupan Harian Faizah Soraya yang Tertutup

Faizah Soraya (42) ditemukan tewas bersimbah darah di rumahnya, Jalan Dwikora, Medan, pada Rabu subuh. Diduga korban ditikam sebanyak 20 kali menggunakan pisau dapur oleh anak bungsunya sendiri, AI (12), yang masih duduk di bangku kelas 6 SD.

Berdasarkan kesaksian warga, korban dikenal sebagai ibu yang rutin mengantar jemput dan jalan-jalan bersama kedua anaknya tanpa didampingi suami. Meski tinggal selama 20 tahun di kompleks Jalan Dwikora, Medan Sunggal, Sumatera Utara, Faizah dikenal sebagai pribadi yang tertutup.

“Kalau bertemu korban, paling hanya sekadar menyapa saja. Tidak pernah mengobrol lama atau ikut kumpul-kumpul,” kata seorang warga berinisial N, dikutip dari laporan lokal.

Selalu Bertiga Bersama Anak



N menuturkan, aktivitas harian Faizah lebih banyak dihabiskan hanya bersama kedua anaknya, Shamikha Alzena Siagian anak pertama dan SAS alias AI (12) anak kedua. Faizah terlihat rutin mengantar dan menjemput mereka sekolah. Selain itu, Faizah juga sering mengajak keduanya berjalan-jalan. Namun, dalam rutinitas tersebut, warga jarang melihat kebersamaan Faizah dengan suaminya, Alham Humala Siagian.

“Kami sering melihat korban pergi bertiga dengan kedua anaknya. Mengantar sekolah atau jalan-jalan selalu bertiga, hampir tidak pernah bersama suaminya,” ungkap N. Faizah juga terlihat tidak pernah mengunggah sosok suami di Instagram pribadinya. Bahkan di hari-hari penting seperti ulang tahun anak, sosok Alham tidak pernah tampak.

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa pasangan suami istri tersebut telah lama pisah ranjang. Faizah tidur bersama kedua anaknya di lantai satu, sementara sang suami menempati kamar di lantai dua. Meski dari luar terlihat baik-baik saja, warga mengaku kerap mendengar pertengkaran hebat. Suara cekcok hingga bunyi barang dibanting sering terdengar dari dalam rumah.

“Korban juga sering memarahi anak pertamanya sampai suaranya terdengar ke luar rumah,” lanjut warga.

Keretakan Rumah Tangga

Keretakan ini dikonfirmasi oleh kerabat korban, Dimas. Ia menyebut hubungan rumah tangga Alham dan Faizah sudah tidak harmonis selama lima tahun terakhir. “Dalam 5 tahun terakhir suami korban doyan selingkuh dan diduga ada hutang (mungkin akibat judol),” tulis Dimas dalam postingan yang telah diizinkan untuk dikutip.

Menurut Dimas, Faizah sebenarnya menolak bercerai meski telah dikhianati. “Si korban tidak mau bercerai karena korban adalah anak dari orang tua yang bercerai. Korban tidak mau anaknya merasakan seperti apa yang dia rasakan jadi korban perpisahan,” katanya.

Kronologi Kejadian



Peristiwa ini terungkap setelah Faizah Soraya pertama kali ditemukan oleh anak pertamanya pada pukul 05.00 WIB, Rabu (10/12/2025). Saat mendapati ibunya terkapar bersimbah darah, anak sulung korban langsung menjerit histeris. Berdasarkan informasi yang dihimpun, si bungsu AI terlihat sedang memegang pisau dapur. Korban diduga ditusuk sebanyak 20 kali oleh AI.

Saat kejadian, sang suami tidak langsung membawa istrinya ke rumah sakit, namun menghubungi pihak RS Colombia serta petugas Polsek Medan Sunggal. Petugas dari Unit Reskrim Polsek Medan Sunggal dan tim Inafis Polrestabes Medan yang tiba di lokasi segera melakukan olah TKP. Polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa senjata tajam jenis pisau yang diduga digunakan dalam kejadian tersebut.

Hingga saat ini, suami dan anak pertama korban telah diperiksa oleh polisi sebagai saksi. Setelah olah TKP selesai, jenazah korban dibawa ke RS Bhayangkara Medan untuk autopsi. Kini, jenazah korban telah disemayamkan dan dikebumikan oleh pihak keluarga.

Terduga Pelaku Masih Dibawa Umur

Pihak kepolisian memberikan klarifikasi mengenai identitas pelaku. Kanit PPA Polrestabes Medan, Iptu Dearma Agustina, meluruskan informasi bahwa AI bukan siswi SMP seperti kabar yang beredar sebelumnya. “Bukan SMP, tapi SD di salah satu sekolah di Medan,” jelasnya, Jumat (12/12/2025).

Saat ini, AI sedang menjalani observasi psikologi forensik di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Medan. “Masih kami observasi psikologi forensik. Sudah 2 hari kami lakukan observasi,” ujar Iptu Dearma.

Sementara itu, Kasatreskrim Polrestabes Medan, AKBP Bayu Putro Wijayanto, mengonfirmasi bahwa AI telah diamankan dan sedang menjalani pemeriksaan intensif dengan pendampingan sang ayah. Proses ini dilakukan dengan hati-hati mengingat usia pelaku yang masih di bawah umur.

“Pelaku sudah dibawa ke Polrestabes Medan, hingga kini masih proses pendalaman dan pemeriksaan dengan pendampingan. Masih kita periksa, karena masih kecil dan trauma, dan harus ada pendamping nih,” ucap AKBP Bayu.

Polisi masih terus mendalami motif di balik perbuatan tersebut, termasuk jumlah pasti luka tusukan pada korban. Penyelidikan juga diarahkan untuk mengungkap kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain.

“Intinya masih penyelidikan, untuk memastikan siapa pelaku atau memang itu pelaku utama atau ada pelaku lainnya. Saksi ayah dan kakaknya pelaku, anak itu (terduga pelaku) juga sudah ngaku,” tutup Iptu Dearma.

Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *