Benarkah Ikan Asin Sebabkan Kanker Nasofaring? Ini Penjelasan Dokter

Perdebatan Mengenai Bahaya Konsumsi Ikan Asin

Sebuah video yang viral di media sosial kembali memicu perdebatan mengenai keamanan pangan, terutama tentang risiko kesehatan dari konsumsi ikan asin. Video tersebut menyebarkan peringatan bahwa kebiasaan makan ikan asin, terutama jika dilakukan setiap hari, dapat membawa konsekuensi serius bagi tubuh.

Pengunggah video mengeklaim bahwa proses pengasinan dan penjemuran ikan dapat memicu terbentuknya nitrosamin, zat karsinogenik yang dikaitkan dengan kanker nasofaring. Selain itu, kandungan garam yang tinggi dalam ikan asin juga bisa menjadi pemicu hipertensi. Unggahan ini juga menyentil potensi penggunaan formalin pada sebagian produk ikan asin di pasaran, yang semakin memperbesar kekhawatiran warganet akan keamanan makanan sehari-hari.

Unggahan tersebut memantik pro kontra dan diskusi warganet tentang kebenarannya. Beberapa netizen memberikan pendapat mereka, seperti:

  • “Gada gada nenek gw dr kecil hobi bngt makan ikan asin.. umur nya thn ini udah 103 tahun.. gada kanker atau apa lh itu.. malah nenek gw alhamdulillah jarang bngt sakit. Cuma kurang penglihatan sama pendengaran doang.”
  • “Edukasi ngg hanya ke pembeli tapi juga ke penjual dan pengrajinnya ya… spy sebanyak mungkin mengurangi zat kimia yg berbahaya bagi tubuh.”
  • “Konteksnya di KONSUMSI TERLALU SERING.. segala sesuatu jg klo di konsumsi secara berlebihan ya pasti ada efek buruk.”

Lantas, benarkah makan ikan asin terlalu sering dapat memicu hipertensi dan dikaitkan dengan penyakit kanker nasofaring?

Ahli Gizi Benarkan Risiko Kesehatan Konsumsi Ikan Asin Terlalu Sering

Ahli gizi Dr. Tan Shot Yen menegaskan bahwa peringatan yang ramai dibahas di media sosial soal bahaya mengonsumsi ikan asin bukan sekadar kecemasan berlebihan. Menurutnya, benar bahwa risiko tersebut nyata jika ikan asin dikonsumsi setiap hari.

Dr. Tan menjelaskan bahwa proses pengasinan dan penjemuran yang menjadi ciri utama pembuatan ikan asin dapat memicu terbentuknya nitrosamin, senyawa karsinogenik yang dikaitkan dengan kanker nasofaring. Selain itu, kandungan garam yang tinggi dalam ikan asin juga meningkatkan risiko hipertensi.

Dengan dua faktor risiko sekaligus yakni paparan zat karsinogenik dan garam berlebih, mengonsumsi ikan asin secara rutin dinilai dapat memberi dampak serius bagi kesehatan jangka panjang.

Ahli Penyakit Dalam Ingatkan Risiko Jika Ikan Asin Dikonsumsi Harian

Dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, SpPD(K), dokter spesialis penyakit dalam konsultan, turut memperkuat peringatan soal bahaya konsumsi ikan asin berlebihan. Ia menegaskan bahwa risiko kesehatan memang nyata jika makanan itu dikonsumsi dalam jumlah besar dan terlalu sering.

Menurut Dr. Andi, ikan asin yang dikonsumsi dalam jumlah besar dan sering memang memiliki risiko terjadinya kanker nasofaring dan meningkatkan risiko hipertensi. Ia menyarankan untuk mengurangi konsumsi ikan asin dan beralih ke sumber protein laut yang lebih sehat.

“Saya setuju kita harus mengurangi konsumsi ikan asin. Jangan tiap hari. Lebih baik mengedepankan konsumsi ikan segar, dengan bumbu alami dan kadar garam yang tidak terlalu tinggi,” ujarnya.

Dr. Andi Khomeini juga mengingatkan bahwa risiko kesehatan dari ikan asin tidak lepas dari tingginya kandungan garam di dalamnya. Ia menegaskan bahwa ada batas aman yang seharusnya tidak dilampaui dalam konsumsi harian.

“Anjuran konsumsi garam itu 2.000 miligram per orang per hari, atau setara satu sendok teh,” ujarnya. Batas ini merupakan rekomendasi universal untuk menjaga kesehatan jantung dan menekan risiko tekanan darah tinggi.

Apa Itu Kanker Nasofaring?

Kanker nasofaring merupakan kanker langka yang tumbuh di area nasofaring, ruang di belakang hidung yang terhubung ke bagian belakang mulut. Bagian ini berada tepat di atas langit-langit mulut dan di dasar tengkorak, menjadi jalur udara dari hidung menuju tenggorokan sebelum masuk ke paru-paru.

Penyakit ini muncul ketika sel-sel di nasofaring berkembang tidak terkendali dan membentuk tumor ganas. Tumor tersebut dapat menyebar ke kelenjar getah bening, tulang, paru-paru, hingga hati.

Gejala paling umum adalah munculnya benjolan tidak nyeri di bagian belakang leher akibat pembengkakan kelenjar getah bening. Kondisi ini juga bisa memengaruhi telinga, memicu gangguan pendengaran atau infeksi telinga berulang, serta menyebabkan nyeri atau mati rasa pada wajah.

Jenis penanganannya sangat bergantung pada stadium kanker saat terdiagnosis.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *