Rombongan PMI Lhokseumawe Berjalan Kaki 78,4 KM Akibat Jalan Ambles dan Longsor
Sebuah perjalanan yang sangat berat dilalui oleh rombongan Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Lhokseumawe, M Agam Khalilullah. Rombongan tersebut terpaksa melakukan perjalanan jalan kaki sejauh 78,4 kilometer dari Kabupaten Bener Meriah menuju Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh. Perjalanan ini dilakukan karena jalan KKA (Bener Meriah-Aceh Utara) mengalami ambles dan dipenuhi longsoran tanah.
Perjalanan dimulai setelah rombongan mengikuti kegiatan PMI Provinsi Aceh di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, pada 25 hingga 26 November 2025. Setelah acara selesai, mereka berencana pulang. Namun, jalan lintas Bireuen-Takengon sudah mulai tertimbun longsoran. Akibatnya, rombongan harus bertahan selama tiga hari di Kota Takengon.
Pada Sabtu (29/11/2025), rombongan mencoba menggunakan mobil untuk melanjutkan perjalanan. “Kami yang pertama melintas. Alhamdulillah lewat hingga sampai ke Bener Meriah,” kata Agam Khalilullah. Di Bener Meriah, mereka menitipkan mobil di rumah teman dan kemudian memutuskan untuk berjalan kaki.
Menurut data dari Google Maps, jarak antara Bener Meriah dan Lhokseumawe adalah sekitar 78,4 km. Rombongan mulai berjalan pada pukul 17.00 WIB atau pukul 5 sore. Meskipun begitu, medan yang dilalui sangat berbahaya. Ada beberapa titik jalan yang putus total, sehingga mereka harus turun ke bawah tebing mencari jalur alternatif. Selain itu, ada juga jalan yang dipenuhi lumpur akibat longsoran.
“Ada juga badan jalan yang dipenuhi bebatuan karena longsor. Tapi kami dengan penuh kehati-hatian tetap berupaya melintas,” ujar Agam. Istirahat sambil makan seadanya dari bekal yang mereka bawa dilakukan sekitar pukul 22.00 WIB atau pukul 10 malam. Mereka tiba di lokasi pengungsian warga setempat yang masih berada dalam wilayah Kabupaten Bener Meriah.
Pada pukul 06.00 WIB, tepatnya masuk hari Minggu (30/11/2025), rombongan kembali berjalan kaki. Medan yang dilalui masih sangat berat karena ada jalan yang amblas dan longsoran. “Hitungan kami, ada sekitar delapan titik yang jalannya putus total. Sedangkan untuk longsor, sangat banyak,” katanya.
Saat memasuki Gunung Salak, yang berada dalam wilayah Aceh Utara, medan tidak separah sebelumnya. Meski demikian, masih ditemukan beberapa lokasi yang ditutupi longsoran atau jalan amblas. “Sekitar pukul 5 sore, kami pun sampai ke Simpang KKA Aceh Utara dengan selamat,” ujarnya.
Setelah sampai di Simpang KKA, rombongan mengisi daya handphone dan menelepon temannya agar dijemput. Dari lokasi tersebut, mereka kembali menggunakan mobil untuk pulang ke Lhokseumawe.
Agam memberikan pesan kepada warga bahwa jika memang tidak darurat, sebaiknya menghindari perjalanan lintas KKA karena kondisi medan yang sangat berbahaya.
Korban Banjir Aceh Utara Terus Bertambah
Di sisi lain, banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Utara terus meningkatkan jumlah korban jiwa. Hingga Senin (1/12/2025) malam, jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 81 orang. Sementara itu, 90 warga lainnya masih hilang.
Situasi darurat ini membuat Bupati Aceh Utara, H Ismail A Jalil, MM (Ayah Wa), turun langsung ke lapangan untuk memastikan distribusi logistik bagi puluhan ribu pengungsi yang tersebar di ratusan titik pengungsian.
Banjir yang berlangsung selama lima hari terakhir disebabkan oleh cuaca ekstrem, tingginya curah hujan, serta kedangkalan sungai. Kondisi ini diperparah oleh jebolnya beberapa tanggul dan tebing sungai di Kecamatan Samudera, Nibong, Lhoksukon, dan Langkahan, serta meluapnya aliran Krueng Keureuto, Krueng Ajo, Krueng Nisam, Krueng Jambo Aye, dan Krueng Sawang.
Upaya penanganan semakin sulit karena pemadaman total jaringan listrik dan komunikasi di sebagian besar wilayah Aceh Utara. Internet dan layanan telepon tidak berfungsi, sehingga menghambat penyampaian laporan darurat, koordinasi evakuasi, dan distribusi logistik.
Banyak permukiman penduduk masih terendam banjir dan lumpur, sehingga akses petugas menuju lokasi pengungsian juga terhambat.












