Perdebatan tentang Kreativitas Anak dalam Lomba Mewarnai
Di pelataran kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DKP) Kabupaten Bulukumba, selembar kertas gambar mewarnai telah memicu gelombang perdebatan sengit. Sebuah video protes yang viral dari salah satu orang tua peserta telah memicu gelombang simpati hingga polemik di media sosial.
Kontroversi hasil lomba mewarnai tingkat Taman Kanak-Kanak (TK), yang merupakan bagian dari Festival Literasi 2025, dipicu oleh protes Misna Kardi, ibunda peserta bernama Azalea. Polemik ini tidak hanya memanas di media sosial tetapi juga menyeret pandangan kalangan profesional seni.
Nurul Iftitah Abrar, S.Pd., M.Sn., seorang seniman, kurator, dan akademisi yang akrab disapa Ulva, turut memberikan analisis tajam. Latar belakang Ulva yang memiliki pendidikan magister di bidang Penciptaan Seni Kriya dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta memberikan bobot signifikan pada kritiknya.
Ulva bukanlah nama asing. Ia dikenal aktif di bidang seni rupa, sering terlibat dalam pameran lokal, nasional, hingga internasional, dan baru-baru ini menjadi kurator dalam Vanka Exhibition #2: Utopia-Distopia. Karya artistiknya banyak dipengaruhi material alam dan kerap mengangkat isu sosial yang berkaitan dengan Seksime dan Feminisme, seperti dalam pameran tunggalnya “Pteridophyta Artwear” dan karya multimedia internasionalnya, “Ibu Bumi & Puan”.
Melalui pesan singkat yang kini menjadi perhatian publik, Ulva menanggapi polemik hasil lomba yang diadakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DKP) Kabupaten Bulukumba.
Dua Aliran dalam Lomba Mewarnai dan Pentingnya Technical Meeting
Ulva menguraikan, bahwa dalam lomba mewarnai ada dua ketentuan dalam penilaian point kreativitas peserta:
- Pertama, tidak boleh menambahkan objek tambahan, peserta diwajibkan fokus meng-eksplorasi teknik mewarnai.
- Kedua, boleh menambahkan objek sesuai imajinasi peserta, peserta diberi kebebasan dalam berkreasi.
“Itulah kenapa pentingnya diadakan technical meeting antara juri dan peserta sebelum kegiatan lomba diadakan. Karena dalam hal ini lomba untuk anak TK berarti pas TM diwakili oleh pendamping atau ortu setiap peserta. Pentingnya pernyataan yang jelas dari panitia terkait aturan atau batasan untuk peserta,” urai Ulva dalam sebuah komentar di media sosial, dikutip pada Ahad, 30 November 2025.
Ia juga mengingatkan pentingnya untuk tidak membatasi imajinasi anak.
“Langit senja tak selalu jingga, di belahan bumi lain kadang merah muda, kadang ungu, karena kita sebagai orang dewasa tidak pernah melihat langit yg demikian bukan berarti hal demikian tidak niscaya ada,” ungkapnya.
Imajinasi anak akhirnya terpenjara, menurut Ulva, karena terbiasa didikte oleh orang dewasa.
“Sungguh miris hal yang demikian. Imajinasi anak terkadang memang melampaui imajinasi orang dewasa yang sudah terpenjara oleh realitas keseharian yang memuakkan. Imajinasi anak itu masih murni, mereka bebas membayangkan ada probabilitas 5 matahari diatas 1 rumah dalam gambar mereka,” kata Ulva.
Pujian untuk Teknik Canggih Azalea
Dalam pandangan profesionalnya, Ulva menilai bahwa karya Azalea jauh lebih unggul secara eksplorasi teknik mewarnai menggunakan krayon dibandingkan gambar pemenang.
“Secara eksplorasi teknik mewarnai menggunakan krayon, sepengamatanku lewat foto, lebih unggul yang ini [karya Azalea]. Dia terapkan teknik scrapping, blending dan gradation,” tulis Ulva.
Karya Azalea menampilkan kompleksitas yang jarang ditemukan pada anak seusia TK: sebuah gambar rumah, sekolah, dua anak membaca di bawah pohon, dan latar langit yang menunjukkan gradasi warna halus. Penerapan teknik scrapping (mengikis warna), blending (pencampuran warna), dan gradation (tingkatan warna) menunjukkan kemampuan teknis yang maju.
Sebaliknya, kritik keras dilontarkan untuk gambar yang dinobatkan sebagai juara lomba:
“Gambar yang dapat juara itu terlalu flat, bahkan teknik blending-nya kurang sekali, cenderung mentah, tidak ada eksplorasi teknik sama sekali, hanya sekedar mewarnai saja,” tegasnya.
Penilaian kritis ini memperkuat protes Misna Kardi, yang merasa kriteria penjurian tidak didasarkan pada kualitas teknis dan eksplorasi seni rupa. Sebagai putri dari pegiat literasi di Bulukumba, Aidar Milyar, tanggapan Ulva mempertegas bahwa kontroversi ini melampaui sekadar kekalahan; ini adalah isu tentang standar apresiasi terhadap bakat anak.
DKP Bulukumba: Regulasi adalah Keadilan
Menanggapi video protes Misna Kardi yang viral, DKP Bulukumba sebagai penyelenggara Festival Literasi 2025 telah mengeluarkan klarifikasi resmi pada Kamis, 27 November 2025. Panitia menegaskan bahwa ada aturan krusial yang harus dipatuhi: peserta dilarang keras menambahkan unsur atau objek gambar lainnya di luar media yang telah disediakan.
DKP Bulukumba beralasan bahwa ketentuan tersebut bertujuan untuk:
- Menjaga keaslian komposisi gambar.
- Menjamin keseragaman media lomba.
- Menjamin prinsip keadilan dan objektivitas penilaian.
Mereka berpendapat penambahan gambar berpotensi mengubah struktur dan proporsi, sehingga dapat memengaruhi objektivitas. Dewan juri, menurut DKP, telah berpegangan teguh pada aturan ini.
“Terkait protes dalam video yang beredar, dewan juri menegaskan bahwa karya peserta yang dipersoalkan dinilai tidak sesuai ketentuan karena adanya penambahan unsur gambar di luar gambar resmi dari panitia. Penilaian tersebut dilakukan semata-mata berdasarkan aturan lomba yang berlaku secara adil bagi seluruh peserta,” tutup pernyataan resmi DKP Bulukumba.
Sanggahan Misna Kardi: Tak Ada Juknis Sebelum Lomba!
Sanggahan Misna Kardi terhadap klarifikasi DKP Bulukumba menciptakan titik konflik baru: masalah sosialisasi peraturan.
“Maaf untuk menanggapi klarifikasi panitia lomba tentang penambahan gambar di awal memang tidak ada penyampaian peraturan lomba dari panitia, dan ini juga ada pembenahan dari Nak AZALEA,” tutur Misna Kardi di akun media sosialnya.
Misna menambahkan, ia yakin yang dilakukan Azalea (seperti mewarnai awan dan tanah) adalah bagian dari teknik mewarnai dan kreasi, bukan penambahan objek baru.
Pernyataan Misna ihwal ketiadaan juknis sebelum lomba diperkuat oleh kesaksian beberapa orang tua peserta lainnya.
“Tidak ada technical meeting itu hari antara panitia dan orang tua. Seharusnya hasil penilaian dirapatkan oleh juri. Tidak sekejap memberikan keputusan,” ujar seorang ibu peserta lainnya yang enggan disebutkan namanya.
Hingga kini, DKP Bulukumba belum memberikan klarifikasi lanjutan terkait klaim Misna Kardi mengenai ketiadaan pemberitahuan juknis sebelum lomba. Penyelenggara juga belum merespons permintaan publik agar visual karya semua juara dipublikasikan untuk perbandingan—sebuah langkah yang penting untuk membuktikan transparansi dan kompetensi penjurian.
Polemik ini kembali menegaskan pentingnya pengumuman juknis secara wajib dan jelas sebelum lomba, mengingat aturan penambahan ornamen pada lomba mewarnai memang berbeda-beda di setiap ajang, dan kredibilitas para orang dewasa dalam menilai kreasi anak adalah hal yang paling utama.












