Serial Anne with an E yang dirilis oleh Netflix secara global di tahun 2017 banyak diminati oleh banyak orang, terutama karena ceritanya yang sederhana namun memiliki banyak makna tersirat di dalamnya. Isu-isu yang ada dalam film tersebut tampaknya masih menjadi gambaran kompleks yang relevan hingga saat ini. Film yang diadaptasi dari novel klasik berjudul Anne of Green Gables karya Lucy Maud Montgomery—yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1908—merupakan bagian pertama dari seri novel tentang petualangan Anne Shirley.
Secara sederhana, serial ini memberikan pandangan baru kepada penonton tentang perjuangan Anne melawan perbedaan, diskriminasi gender, hilangnya kebebasan berpendapat, pentingnya pendidikan untuk wanita, serta memberikan persepsi baru tentang perempuan kepada khalayak umum. Meskipun berlatar belakang tahun 1890-an, justru inilah yang menjadi tantangan utama serial ini dalam menyelesaikan segala persoalan yang oleh banyak orang dianggap skeptis untuk dilakukan oleh seorang gadis kecil. Serial ini menunjukkan betapa kekuatan, keberanian, dan keteguhan hati menjadi tonggak utama bagi Anne untuk bisa bergerak maju dalam menemukan solusi dari setiap runtut permasalahan.
Insight Penting Terkait Representasi Isu Hukum dan Keadilan dalam Seri Anne with an E
1. Ketimpangan Gender dan Patriarki
Karena berlatar belakang abad ke-19, Anne menghadapi banyak sekali tantangan, terlebih karena ia adalah seorang perempuan. Representasi perempuan pada zaman itu hanya dianggap sebagai alat; perempuan dinilai hanyalah sebagai istri yang dipandang rendah karena pekerjaannya hanya mengasuh anak dan membersihkan rumah. Sedangkan perempuan-perempuan berstatus sosial tinggi dianggap sebagai objek eksploitasi dalam urusan bisnis dan kebutuhan sosial.
Wanita dituntut untuk mahir dalam segala hal: bermusik, menjunjung tinggi kesopanan, menjaga martabat orang tua, serta memiliki kode etik yang tidak boleh dilanggar. Di sisi lain, Anne berperan sebagai seorang budak perempuan dan anak yatim yang dipaksa bekerja karena orang tuanya meninggal. Dari masa lalunya itu, Anne mendapat persepsi baru bahwa wanita juga bisa melakukan hal yang lebih dari semua batasan tersebut.
Hal yang sama dialami Diana (sahabat Anne) yang dituntut menguasai berbagai hal dan bahkan harus mengurungkan cita-cita karena status sosial yang menahan mimpinya. Anne sedikit demi sedikit membuktikan kepada seluruh orang di kotanya bahwa perempuan dapat bersatu dan melawan stigma kuno yang sudah mendarah daging di kota itu. Keberanian Anne menjadi pemantik api yang luar biasa dalam melakukan perubahan.
Ia mengangkat status gender wanita menjadi setara, menjadikan wanita sebagai representasi feminisme yang menghancurkan gerakan patriarki dan ketidakadilan dengan tangan mungilnya, suara lantangnya, tulisannya, puisinya—segala hal yang dianggap remeh dari seorang perempuan ternyata bisa membawa perubahan besar.
Women matter on their own, not in relation to a man. We all deserve the right to bodily autonomy and to be treated with respect and dignity. To say ‘stop’ and be heard instead of pushed, derided, and told that a man knows more about our basic rights and desires than we do. Women are not made whole by men. Women are made whole the moment they enter this world.
2. Pendidikan dan Kebebasan Berpendapat
Serial ini menampilkan bahwa ketimpangan sosial masih sering terjadi pada abad ke-19. Bagi perempuan, menyalurkan pendapat dan aspirasi merupakan hal tabu. Serial ini menunjukkan bagaimana Anne menjadi perwujudan untuk mengubah status quo dan stereotip pola pemikiran yang masih menjamur pada abad itu. Ia dengan berani membawa perbedaan pendapat meski ditentang oleh mayoritas. Namun dengan kecerdasannya, Anne mampu menggiring teman-teman, kemudian seluruh elemen masyarakat yang ada di sana.
Anne menjadi bukti bahwa persatuan dapat melawan timpang-tindihnya hukum yang terjadi.
3. Diskriminasi Sosial
Serial ini memberikan gambaran jelas bahwa diskriminasi kerap terjadi. Masyarakat membagi kelas sosial berdasarkan kekayaan, kekuasaan, ras, dan jabatan. Sebastian—teman Anne yang berasal dari Karibia—menghadapi rasisme yang sudah mengakar kuat seolah menjadi budaya buruk orang-orang abad ke-19.
Sebastian sulit mendapatkan pekerjaan karena orang kulit putih hanya menilai seseorang berdasarkan asal, status, ras, dan warna kulit. Ia juga sering bertengkar dengan ibunya yang keras. Dampak diskriminasi itu memengaruhi psikologis Sebastian dan ibunya yang bekerja sebagai pengasuh bagi orang kulit putih. Ibunya bahkan memperlakukan teman Sebastian yang berkulit putih secara berbeda.
Di sini, Anne memiliki peran penting untuk mengubah pandangan orang-orang terhadap Sebastian. Dengan keberanian menyampaikan opini serta tindakannya, ia berhasil membuat warga Avonlea menerima sepenuh hati kehadiran Sebastian. Ditambah kebaikan Sebastian dan dukungan teman-teman Anne, mereka memperjuangkan hak asasi manusia.
Serial ini jelas bukan hanya bercerita tentang seorang gadis kecil, melainkan tentang bagaimana pemikiran modern membangkitkan feminisme dan mendorong perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan. Serial ini berusaha mengubah status quo dan menghapus rantai cacat pikir struktural dalam masyarakat. Meski penuh konflik kompleks, serial ini menyajikan penyelesaian tak terduga melalui Anne.
Anne memberi tahu bahwa otonomi tubuh wanita—tangan, kaki, jari, mulut—segala hal yang dianggap rendah ternyata bisa membawa kontribusi besar.
“Girls can do anything a boy can do and more!”
Semoga kita dapat menjadi sosok seperti karakter Anne Shirley Cuthbert, yang mampu memperjuangkan keadilan di tengah runtuhnya penopang hukum itu sendiri.












