DENPASAR,
– Perempuan asal Bali yang berasal dari Singaraja, Kadek Ayu Sri Febryani (24), dalam balutan kebaya putih, meliuk anggun menyelami kedalaman Pantai Jemeluk, Amed, Kabupaten Karangasem.
Ketika tiba di dasar laut, tepat di depan site yang menyerupai pelinggih (tempat suci), Ayu bersimpuh dan mencakupkan tangan. Penyelaman yang dilakukan Ayu Febri kala itu bersama temannya, Putu Ota, guna memaknai Hari Suci Galungan, pada Rabu, 19 November 2025.
Ayu sengaja menyelam lebih awal, yakni pada 9 November, dan video penyelaman baru diunggah di akun media sosialnya sehari sebelum Galungan, atau saat Penampahan. Aktivitas Ayu itu pun menuai banyak pujian.
“Pertama kali ide itu muncul saat ingin menyambut Hari Raya Galungan, namun mengorelasikan dengan hobi saya yaitu freedive. Kebetulan di lokasi diving terdapat reef atau site yang menyerupai pura, meski sebenarnya itu adalah artificial reef (post office),” kata Ayu, Jumat (21/11/2025) sore.
Berangkat dengan spirit perayaan Galungan, Ayu Febri dan temannya memutuskan untuk mengenakan kebaya saat menyelam. “Kami juga percaya dengan wyapi wyapaka nirwikara yaitu Tuhan ada di mana-mana dan di manapun ada Tuhan. Guide yang merekam di bawah laut itu bernama Pak Made Parti dari Desa Les,” kata dia.
Mulai Menyukai Laut
Ayu Febri yang sehari-hari bekerja sebagai perawat klinik umum menceritakan saat pertama kali mencoba snorkeling, dia menyadari bahwa ternyata dirinya nyaman dan menyukai laut.
Mulai Maret 2025, Ayu akhirnya belajar freedive dengan mencoba sendiri di kolam renang biasa. Setelah nyaman berlatih di kolam renang, dia bertekad mengambil lisensi freedive di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, pada Juni 2025.
Sertifikat menyelam pun akhirnya digenggamnya. “Saya merasa nyaman ketika berada di laut sekaligus bisa refresh diri. Bumi ini 70 persen lautan, jadi saya penasaran dengan keindahan dan kehidupan yang ada di bawah laut,” ujarnya.
Dengan menyelami lautan, Ayu Febri juga ingin menembus batas dirinya yang semula tidak bisa berenang dan takut tenggelam, tetapi sekarang justru mampu dengan bebas menikmati indahnya bawah laut.
Ada kedamaian dan ketenangan yang dirasakannya ketika berada dalam air. Dalamnya lautan memberikan rasa hening ke dalam diri. Baginya, keindahan karang dan kehidupan di bawahnya memberikan wajah baru tentang makna pemandangan yang indah.
“Kadang sampai enggak pengen beranjak dari bawah laut karena rasa tenang dan indahnya. Namun napas keburu habis. Momen yang tidak akan terlupakan adalah ketika saya mencoba menelusuri karang yang sedikit dalam karena saking indahnya, sampai hidung saya berdarah karena tidak kuat dengan tekanan di kedalaman air,” kata Ayu.
Tips Menyelam yang Penting
Dia menyadari bahwa kesulitan saat menyelam adalah melawan pikiran sendiri. Pikiranlah yang menentukan bagaimana berlangsungnya penyelaman. Seseorang harus mampu mengendalikan pikiran agar tidak panik dan tetap harus melakukan briefing dengan teman atau buddy sebelum memulai penyelaman.
Sejauh ini, beberapa spot yang pernah dia selami, di antaranya di Nusa Penida dengan spot manta point, Tulamben dengan spot kapal usat Liberty. Selain itu, Amed dengan spot post office serta Japanese wreck, dan Menjangan Bali Barat dengan berbagai spot-nya.
Bagi Ayu, dari spot tersebut, yang paling membuatnya takjub yakni Menjangan Bali Barat, karena keindahan karangnya di bawah laut, spot karang yang menyerupai lorong-lorong.
“Jika berkunjung ke sana kita akan naik boat untuk bisa sampai ke spot freedive yang berada di pulau kecil serta banyak rusa di Menjangan,” kata dia.
Walaupun proses menyelam begitu menyenangkan, Ayu tetap mengingatkan agar tidak melakukan aktivitas apabila kondisi kurang fit, seperti pilek dan sakit kepala. Hal itu menjadi penting karena akan memengaruhi teknik ekualisasi saat menyelam di bawah laut.
“Yang paling penting juga jangan pernah freediving sendirian. Harus ada teman karena slogan utama freediving adalah never freedive alone,” ucap Ayu.












