Kemenangan Dramatis Irlandia di Budapest Mengubah Nasib dalam Kualifikasi Piala Dunia 2026
Di tengah suasana dingin dan penuh tekanan di Budapest, Timnas Irlandia menulis kisah yang sangat dramatis dalam babak kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa. Dalam pertandingan melawan Hungaria di Stadion Puskas Arena, Minggu malam waktu setempat, tim yang dikenal dengan sebutan The Boys in Green berhasil bangkit dari ketertinggalan dan memastikan tempat mereka di babak playoff setelah menang 3-2 dalam laga yang berakhir sangat menegangkan hingga detik terakhir.
Irlandia datang ke pertandingan ini dengan beban besar, yaitu harus menyapu bersih dua laga tersisa agar bisa lolos. Namun, mereka langsung terkejut pada menit ketiga ketika Daniel Lukacs memanfaatkan kesalahan lini belakang mereka untuk mencetak gol pembuka. Gol cepat itu langsung mengguncang rencana Irlandia dan membuat pendukung tuan rumah bersorak semakin keras. Namun, bagi skuad Stephen Kenny, menyerah bukanlah pilihan.
Troy Parrott, penyerang muda yang musim ini tampil gemilang bersama AZ Alkmaar, menjadi motor kebangkitan tim. Pada menit ke-15, ia dengan tenang mengeksekusi penalti untuk menyamakan kedudukan. Gol ini tidak hanya memulihkan skor, tetapi juga memberikan kembali kepercayaan diri kepada tim yang sempat runtuh akibat gol pembuka Hungaria.
Namun, drama babak pertama belum berakhir. Pada menit ke-37, Barnabas Varga—yang menjadi tulang punggung serangan Hungaria sepanjang kualifikasi—menerima umpan matang dari Milos Kerkez dan kembali membawa tuan rumah unggul 2-1. Irlandia kembali tertinggal dan harus memulai dari nol lagi.
Babak kedua menjadi panggung ketabahan Irlandia. Meskipun waktu terus berjalan dan tekanan semakin menumpuk, mereka tetap mempertahankan intensitas permainan. Sementara itu, Hungaria yang hanya butuh hasil imbang untuk menjaga peluang, memilih bermain lebih konservatif. Keputusan ini justru membuka ruang bagi Irlandia untuk menekan.
Menit ke-80 menjadi titik balik. Parrott, lagi-lagi, muncul sebagai penyelamat setelah memaksimalkan kemelut di kotak penalti Hungaria. Gol keduanya mengubah skor menjadi 2-2 dan membuat momentum bergeser total ke kubu tim tamu. Stadion yang sebelumnya bergemuruh mendadak hening.
Dan pada menit 90+6, ketika pertandingan tampak akan berakhir imbang, Parrott menulis babak pamungkas dari kisah heroik ini. Serangan cepat Irlandia berujung pada sepakan mendatar yang tak mampu dibendung kiper Hungaria, sekaligus menyempurnakan hattrick gemilangnya. Para pemain Irlandia berlari ke sudut lapangan, merayakan gol yang bukan hanya menentukan laga, tetapi juga nasib mereka di ajang kualifikasi.
Kemenangan ini membawa Irlandia mengakhiri Grup F di posisi kedua dengan 10 poin, cukup untuk mengamankan tiket playoff. Sebaliknya, Hungaria yang mengakhiri turnamen dengan delapan poin, dipastikan tersingkir dari peluang menuju Piala Dunia 2026—sebuah pukulan telak bagi tim yang pernah tampil di turnamen besar beberapa tahun lalu.
Apa yang dilakukan Irlandia dalam dua pertandingan terakhir—mengalahkan Portugal dan Hungaria—akan dikenang sebagai salah satu periode paling menggetarkan dalam sejarah sepak bola mereka. Parrott, dengan lima gol hanya dalam dua laga, kini muncul sebagai simbol harapan dan generasi baru sepak bola Irlandia.
Babak playoff menanti, dan tantangan akan semakin berat. Namun setelah bangkit dari dua kali ketertinggalan dan mengubah tekanan menjadi kemenangan, Irlandia telah menunjukkan bahwa mereka adalah tim yang mustahil diabaikan. Di Budapest, mereka bukan hanya memenangkan pertandingan—mereka memenangkan kembali takdir mereka sendiri.












