Negeri Manusela, Perjalanan yang Menantang dan Penuh Makna
Negeri Manusela, yang terletak di Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, mungkin bukan lokasi yang mudah dijangkau. Namun justru dari keterbatasan akses inilah, ratusan orang tetap memilih datang dengan tujuan yang beragam, mulai dari penelitian hingga sekadar menapaki perjalanan panjang.
Dari data yang tersimpan rapi dalam buku tamu pemerintah negeri, sejak 2011 hingga awal April 2026, sebanyak 395 pengunjung telah tiba di wilayah yang berada di tengah pegunungan Pulau Seram itu. Mereka berasal dari berbagai daerah di Maluku, luar provinsi, hingga mancanegara seperti Jerman, Prancis, Rumania, dan sejumlah negara di Asia.
Jumlah tersebut mungkin tidak besar, namun setiap kunjungan menyimpan cerita perjalanan yang tak sederhana. Perjalanan menuju Manusela masih sama seperti satu dekade lalu, tanpa jalan raya atau kendaraan. Hanya langkah kaki dan tekad yang menjadi sarana utama untuk mencapai tempat ini.
Pengunjung harus menempuh perjalanan selama 2 hingga 3 hari melalui jalur selatan melalui Negeri Hatumete atau jalur utara via Negeri Kaloa. Sepanjang perjalanan, mereka harus melewati medan terjal, mendaki, menuruni lembah, serta melintasi hutan lebat dengan tingkat risiko yang tidak kecil. Namun bagi sebagian orang, justru di situlah nilai perjalanan itu berada.
Di kejauhan dari Manusela, Puncak Gunung Binaya dan Gunung Murkele berdiri kokoh, seolah menjaga negeri adat ini dari hiruk-pikuk dunia luar. Manusela bisa dibilang sebagai “Permata tersembunyi di Indonesia Timur, Maluku”.
Dari ratusan pengunjung, tidak semua datang dengan tujuan yang sama. Sebagian diantaranya merupakan peneliti yang tertarik pada kekayaan flora dan fauna di kawasan Manusela yang masih alami. Hutan di wilayah itu dinilai masih menyimpan keanekaragaman hayati yang relatif terjaga, sehingga menjadi lokasi penting untuk riset.
Di sisi lain, ada pula pengunjung yang datang tanpa agenda penelitian. Mereka hanya ingin merasakan perjalanan panjang, menikmati suasana hutan, serta melihat langsung kehidupan masyarakat di perkampungan pegunungan yang jauh dari akses transportasi hingga terbatasnya jaringan seluler.
Setiap pagi hingga sekitar pukul 08.00 WIT, kampung masih diselimuti kabut tebal. Udara segar dan lingkungan yang alami menjadi keseharian warga. Masyarakat setempat hidup dari hasil alam, seperti sagu, buah-buahan, wortel, kentang, bawang, kacang, yang ditanam tanpa pupuk kimia. Hasil alam itu hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, karena akses jalan kaki puluhan kilo dengan medan terjal membuat distribusi ke luar wilayah terbatas.
Yohsua Lilihata, yang sejak dulu menjadi bagian dari staf pemerintah negeri, masih mengingat betul bagaimana mereka menyambut setiap tamu yang datang. “Dari dulu sampai sekarang, siapa yang datang tetap menjadi tanggung jawab negeri. Itu adat kami,” ujarnya saat ditemui pada kediamannya di Manusela.
Hal yang menarik, selama lebih dari 15 tahun kunjungan, tidak pernah tercatat musibah serius yang menimpa pengunjung. Warga percaya, alam dan leluhur Gunung Tanah masih menjaga Manusela.
Ke depan, masyarakat lokal berharap setiap orang yang ingin datang dapat berkoordinasi terlebih dahulu dengan pemerintah negeri atau warga setempat. Selain untuk keselamatan, hal itu juga menjadi bagian dari penghormatan terhadap kehidupan masyarakat di sana.
Di Manusela, perjalanan bukan sekedar tujuan sampai. Tentu bagi 395 orang yang pernah menapakinya, setiap langkah adalah pengalaman, entah untuk ilmu pengetahuan, atau sekedar untuk merasakan sunyi yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."












