Banyak kesalahpahaman tentang kunyit hitam di Indonesia, peneliti dorong DNA barcoding untuk keakuratan



Jabar, Bogor – Praktik penjualan rimpang yang dikenal sebagai “kunyit hitam” di pasar tradisional kembali menjadi sorotan. Secara kasat mata, rimpang berwarna gelap kebiruan dengan aroma tajam kerap dianggap sebagai satu jenis tanaman. Namun, secara ilmiah, rimpang tersebut dapat berasal dari spesies berbeda, yakni Curcuma caesia dan Curcuma aeruginosa. Perbedaan spesies ini dinilai bukan sekadar persoalan nomenklatur, melainkan berkaitan langsung dengan kandungan senyawa aktif, profil farmakologi, serta keamanan konsumsi.

Sejumlah kajian menunjukkan bahwa tingkat kesalahan identifikasi (misidentifikasi) tanaman dari genus Curcuma di pasar tradisional Asia dapat mencapai 30 hingga hampir 50 persen. Kondisi ini berpotensi menyebabkan ketidaksesuaian khasiat hingga risiko bagi konsumen. Indonesia sendiri merupakan salah satu pusat keanekaragaman Curcuma di kawasan tropis Asia. Dengan kekayaan tersebut, para ahli menilai diperlukan ketepatan identifikasi yang lebih kuat untuk mendukung klaim sebagai “tanah rempah”.

Dampak Terhadap Industri Herbal

Kesalahan identifikasi tanaman obat dinilai dapat berdampak luas, mulai dari mutu produk hingga reputasi industri herbal nasional. Dalam konteks perdagangan global, autentikasi spesies menjadi faktor penting. Data International Trade Centre (ITC) tahun 2023 mencatat nilai ekspor global produk berbasis Curcuma telah melampaui 2,3 miliar dolar AS. Permintaan meningkat sekitar 18 persen per tahun sejak 2020. Indonesia termasuk salah satu eksportir utama, dengan volume ekspor rimpang mencapai lebih dari 142.000 ton pada 2022. Namun, hanya sekitar 23 persen produk yang disertai dokumentasi identifikasi spesies secara akurat. Celah ini membuka potensi praktik substitusi dan pemalsuan (adulteration) yang dapat merugikan konsumen serta menurunkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.

Keterbatasan Metode Konvensional

Selama ini, identifikasi tanaman obat umumnya dilakukan melalui pengamatan morfologi, seperti bentuk daun, warna bunga, dan struktur rimpang. Metode ini telah lama menjadi dasar ilmu botani. Namun, untuk spesies yang berkerabat dekat, pendekatan visual dinilai memiliki keterbatasan. Faktor lingkungan, umur tanaman, hingga proses penyimpanan dapat memengaruhi bentuk, warna, dan aroma rimpang, sehingga meningkatkan risiko kekeliruan.

DNA Barcoding sebagai Solusi

Sebagai alternatif, para peneliti mendorong penggunaan teknologi DNA barcoding untuk memastikan identitas spesies secara lebih akurat. Metode ini memanfaatkan penanda genetik tertentu sebagai “sidik jari biologis” yang dapat diverifikasi melalui analisis laboratorium. Dalam penelitian yang dikembangkan di SEAMEO BIOTROP, digunakan pendekatan multi-lokus dengan kombinasi marker seperti rbcL, matK, psbK-psbI, dan trnL-trnF. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan ketepatan identifikasi hingga tingkat spesies, khususnya untuk membedakan rimpang yang secara morfologi sangat mirip.

Dorongan Penguatan Sistem Nasional

Para ahli menilai Indonesia perlu membangun sistem identifikasi tanaman obat yang terintegrasi. Sistem tersebut mencakup pengembangan basis data terbuka, teknologi deteksi lapangan yang portabel, serta integrasi metode molekuler ke dalam standar nasional produk herbal. Selain itu, verifikasi berbasis sains juga dinilai penting bagi berbagai pemangku kepentingan, termasuk industri fitofarmaka, regulator seperti BPOM, serta program konservasi tanaman obat.

Menjaga Kepercayaan dan Keberlanjutan

Tanaman obat tidak hanya dipandang sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga bagian dari identitas budaya dan sumber penghidupan masyarakat. Oleh karena itu, ketepatan identifikasi menjadi fondasi dalam menjaga kepercayaan konsumen dan keberlanjutan pemanfaatan biodiversitas. Para peneliti menegaskan bahwa upaya perlindungan dan pemanfaatan kekayaan hayati harus dimulai dari pemahaman yang akurat terhadap identitas spesies. Pemanfaatan teknologi seperti DNA barcoding dinilai menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa produk herbal Indonesia memenuhi standar ilmiah dan tuntutan pasar global.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *