Opini  

Pandangan budidaya bawang merah: tanah berbatu mengubah jalan buntu

Kehidupan di Tanah Muna yang Diberkahi

Bagi sebagian orang yang lahir di Pulau Muna, ada satu lagu daerah yang akrab sejak kecil—Wuna Nokokasinta. Dalam salah satu baitnya terdapat ungkapan yang sangat dikenal: “Witeno Wuna, wite barakati”—tanah Muna adalah tanah yang diberkahi.

Dulu, kalimat itu mungkin hanya terasa sebagai nostalgia tentang tanah kelahiran. Namun semakin dewasa, maknanya terasa lebih dalam: tanah yang diberkahi bukan sekadar tanah yang subur, melainkan tanah yang mampu memberi kehidupan bagi orang-orang yang menjaganya.

Makna itu mulai menemukan bentuknya hari ini. Di lahan batu kapur yang selama ini dianggap keras dan kurang produktif, para petani di Kabupaten Muna mulai menanam komoditas yang menuntut ketelatenan: bawang merah. Beberapa waktu lalu bahkan diberitakan panen perdana sekitar dua ton di Kecamatan Tongkuno Selatan dari lahan percobaan petani bersama pemerintah daerah.

Angkanya memang belum besar, tetapi cukup memberi pertanda bahwa di tanah kepulauan, bahkan lahan berbatu sekalipun dapat menumbuhkan tanaman bagi sumber kehidupan.

Ketegangan Geopolitik dan Stabilitas Pangan

Dalam beberapa waktu terakhir, tensi geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat. Konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas jalur perdagangan dunia, terutama di Selat Hormuz—jalur sempit yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global.

Selat ini bukan sekadar jalur pelayaran biasa. Ia adalah salah satu “gerbang energi” dunia. Ketika ketegangan geopolitik meningkat dan risiko gangguan distribusi muncul, harga minyak dunia sering kali langsung merespons.

Ada sebuah ungkapan populer dalam ekonomi global: kepakan sayap kupu-kupu di satu tempat dapat memicu badai di tempat lain. Dalam dunia yang saling terhubung, gejolak kecil di satu kawasan dapat menjalar jauh melampaui batas geografisnya.

Bagi negara seperti Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi, kenaikan harga minyak dapat berdampak luas. Biaya transportasi meningkat, ongkos logistik naik, dan harga berbagai barang ikut terdorong naik.

Sekilas, peristiwa yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun dalam ekonomi modern yang saling terhubung, gejolak global sering kali menjalar hingga ke pasar tradisional.

Rantai distribusi pangan ibarat urat nadi yang menghubungkan ladang petani dengan dapur rumah tangga. Ketika biaya logistik meningkat, denyut nadi itu ikut tersendat—dan harga pangan di pasar pun mulai bergejolak.

Dalam ilmu ekonomi, fenomena ini dikenal sebagai second round effect, ketika tekanan biaya pada sektor energi akhirnya merambat ke harga berbagai komoditas konsumsi. Karena itu, kekuatan produksi pangan lokal menjadi semakin krusial untuk menjaga stabilitas harga di tingkat masyarakat.

Ketergantungan Pasokan dan Kebuntuan Produksi

Di Sulawesi Tenggara, persoalan ini memiliki dimensi geografis tersendiri. Sebagai provinsi kepulauan, sebagian kebutuhan pangan masih dipasok dari daerah lain, terutama Sulawesi Selatan.

Data Statistik Pertanian 2025 menunjukkan kesenjangan produksi yang cukup mencolok. Pada tahun 2024, luas panen bawang merah di Sulawesi Selatan mencapai 18.974 hektare, menjadikannya salah satu sentra produksi utama nasional. Sebaliknya, Sulawesi Tenggara hanya memiliki sekitar 232 hektare luas panen bawang merah.

Artinya, kapasitas produksi Sulawesi Selatan hampir 80 kali lebih besar dibandingkan Sulawesi Tenggara. Ketimpangan ini membuat pasokan bawang merah di Sulawesi Tenggara sangat bergantung pada daerah lain.

Ketika distribusi dari wilayah produsen terganggu—baik karena cuaca maupun kendala logistik—harga bawang merah di wilayah kepulauan dapat dengan cepat melonjak. Dalam kondisi seperti ini, daerah hanya menjadi pasar konsumsi, bukan sentra produksi. Inilah yang selama ini menjadi semacam jalan buntu tak berkesudahan dalam pengelolaan pangan daerah.

Namun percobaan budidaya bawang merah di lahan batu kapur Kabupaten Muna mulai menunjukkan bahwa jalan buntu itu sebenarnya masih bisa dibalik.

Tanah Berbatu Membalikkan Pasar

Potensi pengembangan klaster bawang merah di Muna membuka peluang perubahan yang lebih besar: membalikkan struktur pasokan dari konsumsi menjadi produksi.

Selama ini Sulawesi Tenggara lebih banyak berperan sebagai pasar konsumsi, sementara sumber produksi utama bawang merah masih berasal dari luar daerah. Dalam perspektif ekonomi, kondisi ini dapat dijelaskan melalui konsep value chain. Rantai nilai bawang merah di Sulawesi Tenggara selama ini lebih banyak bergerak di hilir—perdagangan dan konsumsi—sementara aktivitas produksi berada di wilayah lain.

Jika produksi lokal mulai berkembang, posisi daerah dalam rantai nilai tersebut akan bergeser. Sulawesi Tenggara tidak lagi sekadar menjadi pasar, tetapi mulai mengambil peran sebagai bagian dari pusat produksi hortikultura. Di sinilah konsep klaster pertanian menjadi penting. Konsentrasi produksi di satu wilayah memungkinkan efisiensi budidaya, memperkuat jaringan distribusi, serta mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi baru di sekitar komoditas tersebut.

Klaster produksi juga berpotensi memicu kegiatan ekonomi turunan, mulai dari penyediaan benih, pengolahan pascapanen, hingga jasa transportasi dan perdagangan antarwilayah. Namun keberhasilan klaster tidak hanya bergantung pada faktor ekonomi. Ia juga bertumpu pada modal sosial petani—kerja sama dalam pengelolaan budidaya dan koordinasi waktu tanam serta berbagi pengetahuan lapangan.

Pendekatan ini sejalan dengan strategi pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dengan kerangka 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Ketika produksi lokal meningkat, pasokan menjadi lebih stabil dan rantai distribusi dapat dipersingkat. Kombinasi ini membantu menekan biaya logistik sekaligus menjaga keterjangkauan harga.

Dengan demikian, pengembangan klaster bawang merah tidak hanya memperkuat sektor pertanian, tetapi juga perlahan membalikkan struktur pasar. Saat ladang-ladang produksi tumbuh di tanah yang dulu dianggap keras, sesungguhnya yang berubah bukan hanya peta pertanian—melainkan arah ketahanan pangan daerah.

Menanam Harapan di Tanah Berbatu

Pada akhirnya, kisah budidaya bawang merah di Kabupaten Muna menyiratkan satu pelajaran penting: jalan buntu sering kali muncul bukan karena tidak ada jalan keluar, melainkan karena kita belum berani menempuh jalur memutar.

Terbukti lahan batu kapur yang selama ini dianggap keras dan tidak produktif mulai menunjukkan potensi sebagai ladang hortikultura baru. Jika pengembangan klaster bawang merah dilakukan secara konsisten, bukan tidak mungkin suatu hari Muna mampu menjadi salah satu penyangga pasokan bawang merah di Sulawesi Tenggara.

Dari daerah yang selama ini bergantung pada pasokan luar, Muna berpeluang membalikkan keadaan—menjadi bagian dari sumber produksi pangan regional. Bagi masyarakat Muna, keyakinan ini sebenarnya telah lama hidup dalam ungkapan lokal: “Witeno Wuna, Wite Barakati.” Tanah Muna adalah tanah yang diberkahi.

Ungkapan ini bukan sekadar kebanggaan budaya, melainkan keyakinan bahwa tanah yang dijaga dan diolah dengan kesungguhan akan selalu memberi kehidupan.

Di tanah yang konon diyakini sebagai wite barakati, bahkan tanah berbatu pun dapat menjadi lumbung pangan—selama ada keberanian untuk menanam harapan.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *