JAKARTA – Pada hari Sabtu (28/2/2026), sebuah peristiwa yang memicu ketegangan global terjadi. Serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran membuka bab baru dalam konflik geopolitik. Iran segera merespons dengan menutup jalur udara, menciptakan situasi yang semakin memperburuk ketidakpastian.
Investor mulai panik, dan premi risiko langsung mengalami penyesuaian. Ini bukan lagi sekadar krisis bayangan atau kekhawatiran biasa, tetapi sudah menjadi realitas nyata. Perang bergerak dari isu ke tindakan nyata, sehingga ketidakpastian mulai merambat ke sektor minyak, logistik, dan keuangan.
Tidak hanya di Teluk Persia, dampaknya akan meluas hingga ke pom bensin di Berlin, industri petrokimia di Banten, pabrik garmen di Salatiga, atau eksportir elektronik di Batam. Rantai nilai global saat ini sangat terhubung oleh jaringan logistik, kapal, dan sistem pembiayaan perdagangan. Ketergantungan ini membuat saluran ekonomi menjadi rentan terhadap goncangan akibat perang.
Perang ini menjadi puncak dari ketegangan global yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Di Eropa, perang antara Rusia dan Ukraina memaksa perubahan pada jalur energi. Eropa mulai mengurangi ketergantungan pada sumber daya energi Rusia, sementara Rusia menurunkan harga ke Asia. Perubahan rute logistik terjadi, tetapi tetap bersifat volatil.
Volatilitas tidak lagi menjadi fenomena sementara seperti 2022. Di Indo-Pasifik, persaingan teknologi antara AS dan Tiongkok mengganggu pasokan chip dan memicu pengetatan perdagangan alat litografi serta teknologi tinggi. Rantai pasok terbelah sesuai garis politik, dan efisiensi kalah oleh pertimbangan keamanan.
Di Laut Merah, serangan Houthi terhadap jalur Suez menyebabkan kapal harus memutar lewat Tanjung Harapan. Hal ini meningkatkan waktu tempuh hingga 10–14 hari. Premi asuransi juga meningkat, dan harga barang di pasar akhir tidak bisa terhindar dari kenaikan meskipun inflasi global tampaknya berhasil dikelola.
Dari sudut pandang makro, dunia masih terlihat “tahan banting” dan resilien. IMF memproyeksikan pertumbuhan global sekitar 3,3% pada 2026. Inflasi mulai mereda, meski Amerika Serikat sedang pulih lebih lambat dari target. Bank Dunia menyebut ekonomi global cukup resilien, tetapi ada ketimpangan. Seperempat negara berkembang masih berada di bawah tingkat pendapatan per kapita 2019.
Dekade ini menjadi periode pertumbuhan terlemah sejak 1960-an. Pesannya jelas: kita tidak sedang menuju resesi, tetapi menjalani jalan yang mahal dan berliku. Kita membayar “premi geopolitik” dalam bidang energi, logistik, dan pembiayaan. Meskipun premi ini hanya beberapa dolar, pada neraca arus kas, biaya pengiriman, stok tambahan, dan bunga kredit yang lebih mahal muncul.
Lonjakan War Premium
Mari lihat sektor minyak. Ketika rudal diluncurkan, pasar langsung menambahkan “war premium” untuk menunjukkan pengaruh risiko terhadap harga. Para analis yakin bahwa proyeksi harga Brent tahun ini terkerek, dengan premi geopolitik sekitar US$4–US$10 per barel yang ditambahkan di harga. Tahun lalu, dalam satu pekan eskalasi Iran-Israel, Brent melonjak sekitar US$10 lalu turun saat gencatan berlaku.
Artinya, lonjakan bisa cepat, turunnya juga bisa cepat. Namun volatilitas itulah yang menambah biaya. Perusahaan menimbun stok, kapal memilih rute lebih mahal, dan asuransi menebal. Kita membayar mahal agar barang tiba tepat waktu. Dan semakin lama perang berlarut, semakin tebal premi yang ditanggung konsumen—risiko melonjak massif dan sistematis.
Kini ke saluran yang sering terlewat namun rentan: pembiayaan perdagangan. UNCTAD mencatat lebih dari 90% perdagangan dunia bertumpu pada trade finance. Ketika risiko naik, bank koresponden mundur teratur, limit fasilitas L/C mengempis. Premi asuransi laut akibat perang (war-risk insurance) melonjak, mendekati 1% nilai kapal saat serangan di Laut Merah yang lalu.
Ini bukan angka abstrak, namun menentukan apakah bisnis bisa mengekspor minggu depan. Di saat yang sama, BIS menyorot dunia keuangan yang rapuh oleh defisit fiskal besar dan likuiditas yang rapuh, menyiratkan guncangan geopolitik kecil sekalipun bisa menjalar cepat menjadi penundaan kontrak dan pengiriman, peningkatan biaya dan risiko perdagangan naik.
Bisa jadi arus kas macet bukan karena permintaan hancur. Namun karena saluran kreditnya menyempit dan bisnis terutama perusahaan kecil dengan likuiditas terbatas kehabisan napas.
Mitigasi Risiko
Lalu apa respons alternatif yang berpotensi muncul untuk menghadapi kejadian yang tidak biasa ini? Pertama, bisnis yang terdampak perang dapat mengadopsi kebijakan memindahkan fasilitas operasi ke negara sahabat (friendshoring), namun itu mungkin tidak cukup. Untuk aspek keuangan, friendshoring pembiayaan menjadi salah satu opsi.
Kedua, sebagai jalur perdagangan yang padat, muncul urgensi konsorsium reasuransi koridor maritim untuk Bab el Mandeb dan Hormuz di mana pemerintah, bank, dan reasuradur global melakukan pooling the risk sehingga premi tidak melonjak setiap goncangan muncul. Biayanya lebih murah daripada subsidi/extra-costs logistik dadakan.
Ketiga, dengan melihat dominasi pembiayaan trade finance di atas, kebutuhan akan trade finance backstop regional makin terasa. ADB, IsDB, atau AIIB dapat menjadi confirming bank cadangan ketika bank (swasta) koresponden menarik diri. Ini menjaga transaksi L/C pebisnis tetap berjalan.
Keempat, akan makin banyak perusahaan yang menerapkan “safe channel” untuk teknologi tinggi atau strategis, disertai white list komponen non-sensitif dengan audit penggunaan akhir (end use).
Namun, strategi “small yard, high fence” umumnya efektif bila cakupan benar-benar terbatas dan bukan malahan memagari keliling kawasan industri.
Keempat, strategi contingent options komoditas lintas negara dapat diadopsi, bukan dengan mengunci harga mati, tetapi fokus untuk melindungi dari lonjakan ekstrem agar arus barang dan kas tetap terjaga.
Langkah ini juga bukan merupakan silver bullet, namun biayanya lebih rendah daripada menghadapi pembatasan trade finance setiap kali sirene berbunyi.
Perang ini tampaknya mulai menggeser “premi geopolitik” menjadi norma baru, bukan lagi sekedar anomali. Setiap hari perang berlanjut, premi menebal di tiga titik: minyak, logistik, trade finance.
Meski IMF dan Bank Dunia memberi harapan bahwa pertumbuhan dunia masih terjaga, ingat “resiliensi” tidak selalu berarti keadilan (fairness) utamanya bagi pebisnis/eksportir kecil.
Ekonomi kuat di atas kertas, tapi melemah di keseharian. Krisis geopolitik yang bersifat low-frequency & high-impact memberi pelajaran bahwa bukan soal harga (price stabilization) saja yang perlu di kelola, namun juga jalur barang dan saluran pembiayaan lintas negara.
Perang tidak hanya melambungkan harga minyak, namun juga menyuntik ketidakpastian di setiap aspek bisnis. Dan kita akan menyaksikan bagaimana strategi pebisnis Indonesia meresponsnya.












