Daerah  

Sedihnya Nasib Penyintas Banjir di Lambung Bukik Jelang Lebaran

Kondisi Penyintas Banjir Bandang di Hunian Sementara Kapalo Koto

Terik matahari yang menyengat di atas Hunian Sementara (Huntara) Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, pada hari Sabtu (14/3/2026), seolah tidak mampu mengusik kegundahan yang terasa dalam hati Murni. Warga Kelurahan Lambung Bukik ini duduk bersimpuh, menatap kosong ke arah deretan bangunan semipermanen yang kini menjadi satu-satunya tempat bernaung bagi keluarganya.

Bagi Murni, hitungan hari menuju hari raya tahun ini tidak lagi ditandai dengan aroma mentega atau persiapan toples-toples kue kering. Tradisi tahunan yang biasanya disambut dengan sukacita itu kini terasa hambar, tergerus oleh realitas pahit pascabencana banjir bandang yang menghantam akhir tahun lalu.

“Persiapan raya kali ini sedikit berbeda. Kami tidak fokus ke kue, tapi bagaimana ekonomi ke depan,” ujar Murni saat ditemui di sela aktivitasnya. Kalimat itu meluncur bukan sebagai keluhan, melainkan sebuah refleksi atas situasi yang memaksanya untuk mendefinisikan ulang prioritas hidup.

Banjir bandang itu tidak hanya merusak rumah, tetapi juga merampas sumber penghidupan utama warga. Sawah-sawah yang dulunya menjadi tumpuan harapan kini tertutup material lumpur dan bebatuan, tidak lagi bisa digarap dalam waktu dekat. Murni menyadari betul bahwa tinggal di Huntara bukanlah solusi permanen. Ia merasa ada sesuatu yang lebih mendesak daripada sekadar merayakan kemenangan setelah bulan Ramadhan, yaitu kepastian tentang bagaimana asap dapur akan terus mengepul di masa depan.

Kekhawatiran Murni kian beralasan seiring dengan mulai menipisnya aliran bantuan dari berbagai pihak. Masa tanggap darurat telah lama berlalu, dan perhatian publik perlahan mulai teralihkan ke isu-isu lain, meninggalkan para penyintas dalam ketidakpastian.

“Bantuan pun tidak banyak lagi sekarang. Pertanyaannya, sampai kapan kita harus mengharapkan bantuan?” ucapnya. Nada suaranya menyiratkan keinginan kuat untuk mandiri, meski modal untuk bangkit kembali nyaris tidak ada.

Perubahan dalam Persiapan Lebaran

Kondisi serupa dialami oleh Ija, warga Lambung Bukik lainnya yang juga menghuni kompleks Huntara tersebut. Bagi Ija, Lebaran kali ini adalah fase adaptasi yang sangat berat bagi mental dan fisik para penyintas. Ija mengakui, untuk urusan dapur jelang hari raya, ia bahkan belum berani memastikan apakah tradisi merendang (memasak rendang) bisa dilakukan.

Rendang yang biasanya menjadi simbol kemapanan dan kegembiraan di ranah Minang, kini terasa seperti kemewahan yang sulit dijangkau. “Untuk merendang, belum tentu. Soalnya kami masih terkendala ekonomi dan harus beradaptasi dengan suasana sekarang,” tutur Ija.

Kendala biaya belanja bumbu dan daging menjadi tembok besar yang sulit ditembus di tengah kondisi keuangan yang belum pulih. Ija memandang bahwa esensi hari raya tahun ini bukan lagi terletak pada apa yang tersaji di atas meja. Baginya, bertahan hidup dan tetap bersama keluarga di tengah keterbatasan sudah merupakan sebuah pencapaian tersendiri yang patut disyukuri.

Ia menekankan pentingnya sikap batin dalam menghadapi cobaan ini. Menurutnya, satu-satunya cara untuk tidak terpuruk dalam kesedihan adalah dengan melipatgandakan rasa sabar dan keikhlasan dalam menerima kenyataan yang ada.

“Perbanyak sabar dan ikhlas. Raya tahun ini tentu sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tapi hidup harus tetap berjalan,” tambah Ija dengan suara lirih namun tegas.

Tantangan Ekonomi Pasca-Bencana

Apa yang dialami Murni dan Ija di Huntara Kapalo Koto menjadi potret nyata dari rapuhnya ketahanan ekonomi warga pascabencana. Hilangnya aset produktif seperti lahan pertanian membuat pemulihan ekonomi berjalan jauh lebih lambat dibandingkan pemulihan fisik bangunan.

Kini, para penyintas Lambung Bukik ini hanya bisa berharap adanya solusi jangka panjang yang mampu mengembalikan kemandirian mereka. Bukan sekadar bantuan pangan sesaat, melainkan skema pemulihan mata pencaharian yang memungkinkan mereka kembali berdikari tanpa harus terus menanti uluran tangan bantuan.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *