Makna Ra’sul Ilmi Khasyatullah: Puncak Ilmu Adalah Rasa Takut dan Khawatir kepada Allah
Ra’sul Ilmi Khasyatullah adalah ungkapan dalam bahasa Arab رَأْسُ الْعِلْمِ خَشْيَةُ اللهِ yang memiliki makna bahwa puncak dari ilmu adalah rasa takut kepada Allah. Dalam konteks ini, ilmu yang sejati tidak hanya berupa pengetahuan teoritis, tetapi juga membuahkan rasa takut (khasyyah) kepada Tuhan serta menghasilkan akhlak yang mulia dan amal saleh.
Khasyatullah bukanlah rasa takut seperti ketakutan terhadap binatang buas. Melainkan rasa takut yang didasari oleh rasa hormat, pengagungan, dan cinta kepada Allah. Ketakutan ini justru membuat seseorang semakin dekat kepada-Nya, bukan menjauh. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Fatir ayat 28:
وَمِنَ ٱلنَّاسِ وَٱلدَّوَآبِّ وَٱلْأَنْعَٰمِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Arab-Latin:
Wa minan-nāsi wad-dawābbi wal-an’āmi mukhtalifun alwānuhụ każālik, innamā yakhsyallāha min ‘ibādihil-‘ulamā`, innallāha ‘azīzun gafụr
Artinya:
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang yang berilmu). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Dari ayat ini, kita dapat memahami bahwa orang-orang yang beriman dan berilmu adalah mereka yang memiliki rasa takut kepada Allah. Khasyatullah menjadi indikator bahwa ilmu yang kita miliki benar-benar bermanfaat dan berdampak positif dalam kehidupan kita.
Ketakutan sebagai Bentuk Keimanan
Pernahkah kita merasa kurang maksimal dalam beribadah atau melakukan amal saleh karena kesibukan mengurus anak atau keluarga? Ini adalah hal yang biasa dialami oleh kaum perempuan. Dalam salah satu tausiahnya, Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri menyampaikan bahwa rasa khawatir dan takut ini menunjukkan adanya keimanan. Ia menjelaskan bahwa ketakutan terhadap Allah adalah tanda bahwa ilmu kita benar-benar bermanfaat.
Ustadz Dzikri mengatakan bahwa sesungguhnya yang takut kepada Allah adalah ulama (orang yang berilmu). Ia menegaskan bahwa “ilmu itu rasa takut, ilmu itu rasa khawatir.” Bukan sekadar banyak meriwayatkan atau berbicara tentang hukum A, B, C, tetapi ilmu itu adalah rasa takut kepada Allah, seperti yang ditegaskan para ulama.
Contohnya, di bulan Ramadan, banyak ibu merasa khawatir karena harus mengurus anak dan keluarga, sehingga merasa tidak bisa maksimal beribadah. Namun, ketakutan ini timbul karena adanya ilmu dan keimanan. Oleh karena itu, ia memberi semangat kepada kaum perempuan untuk tetap optimis dan tidak mudah terpuruk.
Persiapan Ramadhan yang Berbeda-Beda
Ustadz Dzikri menekankan bahwa setiap orang akan diukur sesuai dengan kondisi dan kemampuannya masing-masing. Allah berfirman dalam Surat Al-Isra ayat 84:
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا
Arab-Latin:
Qul kulluy ya’malu ‘alā syākilatih, fa rabbukum a’lamu biman huwa ahdā sabīlā
Artinya:
Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.
Maknanya adalah bahwa setiap orang memiliki cara persiapan yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi mereka. Misalnya, dalam bulan Syaban, beberapa wanita mempersiapkan diri dengan multitasking, sementara yang lain sedang dalam masa nifas. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperbanyak puasa sunnah.
Namun, hal tersebut tidak berarti mereka kalah atau tertinggal. Karena ketika seseorang sedang dalam masa nifas, ia tidak wajib berpuasa. Itu adalah aturan Allah yang harus dijunjung. Ketaatan kepada aturan Allah adalah bentuk ketaatan yang sejati. Jadi, tidak semua orang diukur dengan standar yang sama.
Menghindari Perbandingan yang Tidak Sehat
Yang sering menjadi masalah adalah kebiasaan kita untuk membandingkan diri dengan orang lain. Pola pikir dunia sering kali membawa kita ke dalam kebiasaan membandingkan diri dengan pihak lain. Padahal, agama kita mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kondisi dan situasi yang berbeda. Inilah keindahan dari agama Islam, di mana kita berinteraksi dengan Yang Maha Bijak atas segala keputusan-Nya.
Dengan demikian, kita tidak perlu merasa kalah atau tertinggal jika kondisi kita berbeda. Kita hanya perlu berusaha sesuai dengan kemampuan dan kondisi kita masing-masing. Wallahualam bishawabi.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”












