Ingin Sehat Saat Puasa? Ini Perbedaan Intermittent Fasting dan Puasa Ramadan

Perbedaan Puasa Ramadhan dan Intermittent Fasting

Puasa Ramadhan dan intermittent fasting (puasa intermiten) seringkali dianggap sama karena keduanya memiliki prinsip pembatasan waktu makan. Namun, terdapat perbedaan signifikan dalam tujuan, aturan, serta dampak pada kesehatan. Berikut penjelasan lengkapnya.

Tujuan yang Berbeda

Puasa Ramadhan merupakan bagian dari ibadah umat Muslim, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran spiritual, disiplin diri, serta memperkuat hubungan dengan Tuhan. Sementara itu, intermittent fasting diterapkan sebagai metode pola makan yang bertujuan untuk menurunkan berat badan, meningkatkan metabolisme, atau bahkan mengoptimalkan kesehatan secara keseluruhan.

Menurut Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Mahmud Aditya Rifqi, perbedaan utama terletak pada niat dan tujuan pelaksanaannya. “Puasa Ramadhan fokus utamanya adalah ibadah. Sementara intermittent fasting umumnya diterapkan dengan tujuan kesehatan, seperti pengaturan berat badan atau perbaikan metabolisme,” jelasnya.

Aturan dan Pola Makan

Secara konsep, kedua jenis puasa ini menerapkan prinsip time-restricted eating atau pembatasan waktu makan. Di Indonesia, durasi puasa Ramadhan sekitar 13–14 jam, dimulai dari sahur hingga berbuka. Selama periode tersebut, umat Muslim tidak boleh mengonsumsi makanan maupun minuman.

Sementara itu, intermittent fasting memiliki variasi metode yang lebih fleksibel. Contohnya, metode 16:8 yang melibatkan 16 jam berpuasa dan 8 jam waktu makan. Misalnya, seseorang hanya makan antara pukul 12.00 hingga 20.00, lalu kembali berpuasa hingga keesokan hari. Ada juga metode 5:2 (lima hari makan normal dan dua hari pembatasan kalori), eat stop eat, hingga one meal a day (satu kali makan dalam sehari).

Mahmud menjelaskan bahwa tingkat keketatan aturan juga berbeda. “Pada puasa Ramadhan, selama waktu berpuasa tidak boleh ada asupan makanan maupun minuman. Sedangkan pada intermittent fasting, masih diperbolehkan minum air putih atau minuman non-kalori seperti kopi tanpa gula,” tambahnya.

Pentingnya Gizi Seimbang

Meskipun berbeda, prinsip gizi seimbang tetap menjadi kunci utama dalam kedua jenis puasa tersebut. Tubuh membutuhkan waktu sekitar 3–6 jam untuk mencerna makanan secara optimal. Selain itu, tubuh memiliki ritme biologis alami dalam mengatur proses pencernaan, penyerapan zat gizi, hingga pembuangan sisa metabolisme.

Karbohidrat sebagai sumber energi utama akan disimpan dalam bentuk glikogen apabila tidak langsung digunakan. Ketika tubuh tidak mendapat asupan makanan, cadangan glikogen tersebut akan dipecah kembali menjadi glukosa guna memenuhi kebutuhan energi.

“Puasa, baik Ramadhan maupun intermittent fasting, dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin. Ini baik untuk pengendalian gula darah,” jelas Mahmud.

Waspadai Defisit Energi Berlebihan

Meski bermanfaat, Mahmud mengingatkan agar pelaku puasa tetap memperhatikan kebutuhan kalori minimal tubuh atau basal metabolic rate (BMR). Setiap individu memiliki kebutuhan energi dasar agar organ-organ vital tetap bekerja dengan baik, bahkan saat sedang beristirahat.

“Jika asupan kalori terus-menerus berada di bawah kebutuhan minimal, tubuh bisa mengalami defisit energi yang berbahaya. Awalnya lemak memang terbakar, tetapi jika berlanjut, tubuh dapat menggunakan protein otot sebagai sumber energi. Ini dapat menurunkan massa otot,” paparnya.

Karena itu, dalam praktik puasa intermiten, pengurangan kalori sebaiknya dilakukan secara bertahap, sekitar 300–500 kkal dari kebutuhan harian, tanpa melewati batas minimal kebutuhan tubuh.

Adapun saat menjalani puasa Ramadhan, masyarakat diimbau tidak sekadar memindahkan porsi makan pagi dan siang ke malam hari dalam jumlah besar. “Jangan sampai setelah berbuka justru makan berlebihan dalam waktu berdekatan. Tubuh bisa terbebani,” katanya.

Mahmud menyarankan pola makan dengan satu kali makan utama setelah berbuka, sahur yang cukup, serta tambahan camilan sehat bila diperlukan. Kebutuhan cairan minimal delapan gelas per hari tetap harus dipenuhi dengan membaginya saat berbuka, malam hari, dan sahur.

Konsumsi makanan tinggi serat seperti sayur dan buah juga dianjurkan agar rasa kenyang bertahan lebih lama dan energi tetap stabil selama berpuasa. Ia menambahkan, hidangan berkuah seperti soto dapat menjadi pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh.

“Puasa Ramadhan adalah momen ibadah, tetapi dari sisi kesehatan juga bisa menjadi kesempatan memperbaiki pola makan. Kuncinya ada pada pengaturan yang seimbang dan sesuai kebutuhan tubuh,” pungkasnya.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *