Korban Penipuan Lowongan Kerja di Kamboja Masih Terjebak
Hingga Minggu (22/2/2026), sembilan warga Jambi masih terjebak di Kamboja. Nama-nama mereka antara lain Andri Budi Sanjaya, Deri Setiawan, Dison, Rangga Gustianto, Rizky Warnizon, Vikky Pratama Putra, Audy Lyliana Putri, Syehdi, dan Chilva Shety Priyanka Elwani. Mereka bersama ratusan warga negara Indonesia (WNI) lainnya menjadi korban penipuan lowongan kerja di luar negeri, khususnya di Kamboja.
Selain berasal dari Jambi, ada juga WNI asal Bengkulu, Sumatra Selatan, dan terbanyak dari Sumatera Utara. Pengalaman mengejutkan yang dialami oleh para korban ini mulai terungkap melalui kesaksian Andri Budi Sanjaya, salah satu warga Jambi yang masih terjebak di Kamboja.
Kesaksian tentang Kondisi yang Menyedihkan
Andri mengaku menyaksikan rekannya kejang-kejang saat dimandikan di penampungan, Sabtu (21/2/2026). Rekannya tersebut bernama Ilham, warga Medan, yang mengidap TBC selama berada di penampungan. “Selesai dimandikan, kejang-kejang. Tiket terbangnya tanggal 24,” ujar Andri dalam pesan WhatsApp.
Menurut Andri, Ilham adalah satu-satunya penghuni penampungan yang mengalami sakit serius hingga tidak bisa beraktivitas. Selama di lokasi, Andri bersama rekan-rekannya membantu mengurus kebutuhan sehari-hari Ilham, mulai dari makan hingga mandi. Ilham akhirnya dievakuasi menggunakan ambulans ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.
Pengkhianatan Keluarga Sendiri
Kisah pilu tak berhenti di situ. Andri juga membagikan cerita Hendri, korban asal Medan yang mengaku menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Hendri menyebut dirinya dijual oleh adik kandung dan keponakannya sendiri yang masih berada di Kamboja dan diduga bekerja sebagai bagian dari jaringan perusahaan scam.
“Ngilu saya dengar ceritanya,” ucap Andri. Hendri menyatakan siap memberikan keterangan lebih lanjut mengenai peristiwa yang dialaminya.
Perusahaan di Kamboja tempat ribuan orang pekerja melakukan scam love berpagar 5 meter tinggi dan dijaga seratusan orang. Andri Budi Sanjaya, warga Jambi korban penipuan lowongan kerja (loker scam) di Kamboja, menceritakan situasi perusahaan tempatnya pernah bekerja.
Dia menggambarkan kompleks perusahaan tersebut memiliki sekitar 20 gedung di atas lahan seluas kurang lebih 1,2 hektare. Lahan perusahaan dikelilingi pagar setinggi sekitar lima meter dan dijaga 70-100 orang. Menurut Andri, bangunan itu menyerupai deretan ruko empat lantai. Para penjaga dilengkapi alat setrum, sehingga kecil kemungkinan pekerja dapat melarikan diri.
Dua Pekerja Ditembak Mati
Menurut Andri, untuk pekerja bisa melarikan diri atau melapor KBRI bukan perkara mudah. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) menjadi satu-satunya harapan untuk kabur. Namun, upaya tersebut berisiko tinggi jika diketahui pihak perusahaan.
Ia bahkan mengaku menyaksikan dua orang ditembak mati di hadapannya. Menurutnya, ada korban yang meninggal akibat tekanan pekerjaan, bunuh diri dengan melompat dari gedung, hingga diduga dibunuh pihak perusahaan. Dia juga menyebut pekerja perempuan yang tidak mencapai target berisiko mengalami kekerasan seksual.
Pekerja Asal Palembang Jatuh dari Lantai 18
Andri turut membenarkan kabar meninggalnya seorang WNI bernama Muhammad Erlangga asal Palembang yang terjatuh dari lantai 18 Gedung Royal Fortune di Kamboja pada Selasa (17/2/2026). Informasi itu ia peroleh dari rekan-rekannya sesama korban loker scam.
Andri menuturkan sejumlah jenazah korban diduga dibuang ke Sungai Mekong. Sungai tersebut diketahui melintasi enam negara, yakni Tiongkok, Myanmar, Laos, Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Hingga kini, Andri mengaku belum mendapat kabar mengenai seorang korban asal Jambi lainnya, Audy Lyliana Putri. Dia juga belum memperoleh informasi terkait jadwal kepulangan para WNI yang berada di pengungsian.
Pemprov Jambi Tunggu Kabar KBRI
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jambi masih menunggu informasi resmi dari KBRI Phnom Penh terkait sembilan warga Jambi yang dilaporkan tertahan di Kamboja. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jambi, Akhmad Bestari, mengatakan pihaknya telah menyurati KBRI untuk meminta fasilitasi melalui Kementerian Luar Negeri.
“Kemarin sudah menyurati kedubes, kita mesti menunggu perkembangannya seperti apa,” katanya saat dihubungi via telepon. Ia menjelaskan, surat tersebut berisi permintaan agar koordinasi pemulangan difasilitasi oleh Kementerian Luar Negeri.
Bantuan Logistik dari KBRI
Di tengah situasi sulit, para korban mendapat bantuan logistik dari KBRI Kamboja berupa sabun dan obat-obatan. Andri bahkan membagikan video kedatangan bantuan tersebut, yang memperlihatkan kardus-kardus diturunkan dari kendaraan perwakilan KBRI. Selain itu, makanan berbuka puasa juga disalurkan kepada para penghuni penampungan.
Di tengah ketidakpastian, warga Jambi yang masih tertahan di Kamboja hanya bisa berharap proses koordinasi antara pemerintah daerah, Kementerian Luar Negeri, dan KBRI segera membuahkan hasil agar mereka dapat kembali ke Indonesia dengan selamat.












