Budaya  

Meski makam leluhur tergusur, jati diri tak pernah pudar

Makam Leluhur dan Jati Diri Peranakan Tionghoa



Makam leluhur bagi peranakan Tionghoa adalah sebuah jati diri. Lalu bagaimana jika jejaknya tergusur?

Dunia kaum peranakan selalu penuh warna. Budaya, bahasa, termasuk ritual-ritual yang dijalankan. Tapi perubahan zaman memaksa mereka menerima kenyataan pahit, bahwa ada beberapa hal yang tergusur, tergilas oleh waktu. Salah satunya, pemakaman leluhur mereka.



Salah satu ritual yang saya nikmati saat saya kecil adalah berkunjung ke Pemakaman Ketiwon, Tegal, Jawa Tengah. Itu perjalanan satu jam dari tempat tinggal kami di Pekalongan.

Waktu itu Kali Ketiwon masih seperti batas timur kota bagi Tegal. Pemakaman tersebut terletak tepat di tepian kali yang banyak mengandung pasir itu. Dari mulut Jembatan Ketiwon, kami dapat leluasa memandang ke arah kali yang bersih tanpa sampah.

Mengamati penambang-penambang pasir yang berulang menyelam untuk mengambil pasir dengan bakul, menyembul lalu menuangkan pasir ke atas perahu, lalu menyelam lagi. Ke arah kiri, terbentang areal pemakaman Cina yang luas sekali dan terawat rapi. Tak ada kesan seram sama sekali. Lalu-lintas di jalan, walaupun kategori jalan negara, juga masih lengang.



Sacek (paman ketiga – dialek hokkian – Red.), yang bermukim di Tegal, pada saat membutuhkan ketenangan untuk berpikir, sering sekali mencari ide di sana, setelah berdoa kepada ibunya.

“Gerbang ajaib” Demikianlah kunjungan-kunjungan itu mengajarkan saya bahwa makam adalah semacam “portkey”, meminjam istilah kisah Harry Potter, gerbang ajaib untuk menjenguk Kongco (kakek buyut) Oey Yoe San, Makco (nenek buyut) Tan Bang Loes Nio, dan Emak (nenek) The Djiang Nio. Kakek Oey Siauw Keng masih hidup sampai saya SMP, tetapi ketiga orang ini sudah meninggal bahkan sebelum saya lahir.

Sebagai anak laki-laki tertua, Ayah bertanggung jawab merawat altar sembahyang, yang kami sebut nyolo. Ada sajian minum teh setiap sore untuk Kongco, Makco dan Emak, di samping sesaji pada hari-hari perayaan tertentu sepanjang tahun.

Dan ketika kami semakin besar, orangtua kami sering menugasi anak-anak mereka untuk “mengundang dan mempersilakan” para leluhur kami itu “minum teh” sore. Sebagai anak, wajar saja saya mengangkat hio, membatin, “Kongco, Makco dan Emak, silakan minum,” sambil memandang foto mereka.

Dan tanpa sadar, saya menaruh wajah-wajah mereka di dalam folder “keluarga” dalam hati saya.

Perubahan Zaman dan Pengabaian Makam

Waktu terus bergulir, dan urgensi kehidupan meminggirkan hal-hal dari masa lalu, termasuk pemakaman. Tanah pemakaman di tepi K. Ketiwon itu lama-kelamaan berubah menjadi perkampungan. Makam-makam yang tidak pernah disambangi sanak-keluarga perlahan hancur dan rata dengan tanah.

Ada suatu masa, ketika orangtua saya pindah ke Jakarta, keluarga Sacek pindah untuk bermukim di luar negeri, makam-makam itu (kini berjumlah empat buah, setelah Engkong meninggal) “terlupakan”. Sampai beberapa tahun yang lalu kami keluarga besar baru menyadari, keempat makam tersebut telah sangat miris keadaannya.

Platform di mana dulu keempatnya berdiri sudah tak ada. Makam yang dulu berdiri gagah penuh martabat kini bagai onggokan masa lalu yang tak berarti.

Keempatnya terkepung rumah penduduk, bahkan makam Kongco dan Makco sudah rata dengan tanah. Bongpay (batu nisan), sudah entah di mana. Makam-makam itu tampak sangat terasing dengan lingkungan sekitarnya.

Upaya Menyelamatkan Makam Leluhur

Maka timbul gagasan mencari jalan keluar untuk “menyelamatkan” makam leluhur keluarga kami dari kondisi yang sangat memelas itu.

Hal itu dapat terlaksana pada tahun 2015, berkat peran positif Klenteng Tek Hay Kiong Tegal. Ada beberapa fase yang kami lakukan, diawali dengan menentukan hari baik yang dihitung berdasarkan shio anak laki-laki tertua yang masih hidup yaitu shio Ayah dan shio saya, sebagai penanggung jawab.

Rohaniwan Chen Li Wei Dao Chang (dao chang: sebutan untuk rohaniawan aliran Taoisme), yang aslinya bernama Ming San (murid Taoisme aliran Quan Zhen Long Men generasi 22), juga mencatat data nama, hari lahir dan hari meninggalnya keempat leluhur saya itu.

Pada hari baik yang telah ditentukan, yaitu 1 Oktober, prosesnya dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan ritual doa pemberitahuan mengenai niat menggali keempat makam kepada para dewa. Surat pemberitahuan berwarna kuning dalam karakter mandarin, dibaca keras-keras oleh Chen Li Wei Dao Chang.

Nama saya, disebutkan lengkap, baik nama sekarang maupun alias saya dalam versi Tionghoa, Oey Lie Lian, berikut alamat rumah saya, disebutkan sebagai si “penanggung jawab”. Setelah dibaca, surat itu dibakar.

Kemudian kami beralih ke makam, di mana ritual yang mirip diulang di depan setiap makam pasangan suami-istri, kali ini dialamatkan kepada para arwah yang makamnya akan digali. Serentak, tim penggali bekerja.

Dibutuhkan waktu sekitar dua jam untuk menggali keempat makam. Kudung (78) penjaga kubur yang sejak muda menjaga makam-makam ini, ikut mengawasi. Dialah yang memastikan bahwa di bawah permukaan tanah yang sudah rata itu masih ada makam Kongco dan Makco.

Proses Pemakaman Ulang dan Pelarungan Ab

Tulang-belulang kemudian dicuci, dimasukkan ke dalam dua peti. Pertama kali saya menatap sisa-sisa tulang-belulang itu, saya merasakan ironi bahwa inilah pertama kalinya saya berjumpa dengan leluhur saya secara “fisik”. Kecuali dengan Engkong yang seketika saya kenali kacamata dan gigi palsunya.

Semua peti diletakkan di depan altar sembahyang, di mana telah tersaji hidangan lengkap. Dilakukan ritual lagi, memberi tahu bahwa akan dilaksanakan pembakaran. Saya dipersilakan menekan tombol mesin pembakar di krematorium. Hari sudah rembang petang, ketika kami pulang, membiarkan mesin menyelesaikan tugasnya.

Keesokan harinya, sisa-sisa tulang-belulang dikumpulkan, setelah ritual singkat memberitahukan apa yang akan dilakukan. Tulang-belulang itu ditumbuk dan dimasukkan ke dalam kantung-kantung berwarna merah.

Sisa-sisa benda-benda lain (kacamata, gigi palsu) dikumpulkan dalam kantung merah kelima. Sesi terakhir, pelarungan abu ke laut.

Keberlanjutan Jati Diri Peranakan Tionghoa

Seharusnya siapa pun dapat menemukan cara untuk mengungkapkan rasa cinta dan hormatnya kepada leluhur. Jika disampaikan dengan tulus, bahkan batas ruang dan waktu pun tak akan mengalanginya untuk tersampaikan. Paling tidak itu yang saya rasakan.

Dengan bergulirnya waktu, kaum peranakan Tionghoa di Indonesia terus meredefinisikan kembali jati dirinya. Termasuk mencari solusi bagi keberadaan makam-makam leluhur mereka.

Barangkali saatnya memastikan, adakah terwariskan benang halus bernama cinta dan bakti, yang akan melahirkan rasa memiliki. Pemakaman leluhur bisa saja tergusur, namun jati diri mereka tetap dihargai dan dicintai.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *