CASEL Gagal: Dari Emosi Hingga Bom Bunuh Diri

Tragedi di SMAN 72 Jakarta: Kekerasan yang Mengguncang Dunia Pendidikan

Tragedi memilukan terjadi di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 72 Jakarta, yang menggemparkan dunia pendidikan. Dua ledakan bom rakitan terjadi di gerbang belakang sekolah dan di masjid pada hari Jumat, tanggal 7 November 2025, ketika sebagian besar civitas akademika sedang melaksanakan ibadah jum’at. Peristiwa ini menimbulkan keresahan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Sampai saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui motif dan modus operandi dari peristiwa tersebut. Dugaan sementara menyebutkan bahwa pelaku adalah seorang pelajar SMA yang diduga menjadi korban bullying. Dendam dan amarah yang tidak terkendali dilaporkan menjadi alasan utama tindakan kekerasan yang dilakukan oleh terduga pelaku.

Dalam peristiwa ini, beberapa barang bukti ditemukan, termasuk senjata mainan dan benda-benda lainnya. Di antara tulisan pada senjata tersebut, terdapat nama tokoh teroris seperti Brenton Tarrant, pelaku penembakan massal di Selandia Baru tahun 2019. Selain itu, ada juga tulisan-tulisan lain yang menunjukkan pengaruh ideologi sayap kanan atau supremasi kulit putih. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh negatif dari media sosial dan lingkungan eksternal terhadap pikiran pelaku.

Peristiwa ini menarik perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari aspek psikologis terduga pelaku, hubungan pertemanan, pengawasan di sekolah, dampak media sosial hingga sentimen agama. Namun, pihak kepolisian menyampaikan bahwa terduga pelaku tidak terkait dengan kelompok tertentu dan tidak ada sentimen agama dalam peristiwa ini meskipun insiden terjadi di tempat ibadah.

Mata publik selanjutnya berpaling pada aspek psikologis terduga pelaku. Banyak yang menduga bahwa pelaku adalah korban perundungan, sehingga kritik tajam terhadap pengawasan di lingkungan sekolah tak terhindarkan. Setelah kejadian ini, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Prof. Abdul Mu’ti menyampaikan rencana penerbitan Permendikdasmen Sekolah Aman. Dalam diskusi Top Issue program Metro TV (10/11), Wamendikdasmen Prof. Atip Hayat menyampaikan bahwa peran Catur Pusat Pendidikan sangat strategis dalam mengantisipasi tindakan kekerasan di usia belajar.

Beberapa pakar menilai bahwa Catur Pusat Pendidikan bagi terduga pelaku telah gagal. Pelaku diketahui berasal dari lingkungan broken home, dan sekolah abai terhadap korban perundungan. Tulisan pada senjata mainan juga menunjukkan pengaruh buruk dari media terhadap pelaku.

Banyak diskusi muncul tentang siapa yang bertanggung jawab atas insiden ini. Namun, penting untuk diingat bahwa tragedi ini menjadi tanggung jawab bersama. Tidak boleh ada saling menyalahkan antara keluarga, masyarakat, lingkungan sekolah, media, atau negara.

Sebagai pendidik/guru di tingkat SMA, saya merasakan betul permasalahan psikologis dan sosial anak remaja. Remaja menghadapi berbagai tantangan, baik dalam perkembangan fase pencarian identitas, tekanan keluarga, maupun disrupsi media sosial. Emosi remaja seperti roller coaster yang dinamis dan mudah berubah. Oleh karena itu, dalam pembelajaran sangat penting untuk menerapkan pendekatan Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning (CASEL) atau Pembelajaran Sosial Emosional (PSE).

Perilaku bullying di kalangan pelajar merupakan fenomena gunung es, dan pelakunya sering kali juga merupakan korban. Maka, yang harus diperhatikan tidak hanya langkah kuratif terhadap korban bully, tetapi juga langkah preventif terhadap pelaku. CASEL memiliki fungsi preventif dalam mengurangi perilaku bully atau juvenile delinquency lainnya.

Pembelajaran Sosial Emosional mengasah lima kompetensi penting seorang siswa, yaitu:

  • Self Awareness (Kesadaran Diri): siswa mampu mengenali dan mengakui emosi dirinya.
  • Self Management (Regulasi Diri): siswa mampu mengatur dan mengelola emosi, pemikiran, dan perilaku secara efektif pada situasi yang berbeda.
  • Social Awareness (Kesadaran Sosial): kemampuan memahami perspektif yang berbeda, termasuk berempati terhadap kondisi individu dengan latar belakang yang berbeda.
  • Relationship Skills (Keterampilan Sosial): kemampuan menjalin dan mempertahankan hubungan yang sehat dan efektif dengan individu dari latar belakang yang berbeda.
  • Responsible Decision Making (Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab): membuat pilihan yang tepat dan konstruktif dalam situasi tertentu.

Jika pendekatan ini diterapkan oleh setiap guru dalam pembelajaran, maka kita telah berikhtiar mencegah perilaku kekerasan yang mungkin muncul di kalangan pelajar. Fokusnya bukan hanya pada peran guru BK dalam mengatasi perundungan, tetapi juga pada pendekatan pembelajaran yang menyentuh aspek sosial dan emosional siswa.



Cileunyi, 10 Nov 2025

Ibrahim Fahmi, Guru SMAN 1 Cileunyi.***

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *