Dari FYP ke Keyakinan: Algoritma dan Pengaruhnya pada Pemilih Muda



Jakarta

– Oleh: Ignatius Dimie

Media sosial kini menjadi salah satu wadah utama bagi masyarakat untuk memantau perkembangan politik di Indonesia. Mulai dari informasi pemilu beberapa tahun silam, pengesahan kebijakan baru, hingga kasus korupsi yang terjadi, semuanya bisa ditemukan di berbagai platform media sosial. Generasi Z, yang kini menjadi generasi muda yang aktif dalam penggunaan media sosial, juga mulai menunjukkan ketertarikan terhadap isu-isu politik. Sebagai calon penerus bangsa, penting bagi mereka untuk mengenal dan memahami dinamika politik sejak dini.

Konten-konten yang mereka tonton di media sosial tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga memengaruhi preferensi politik mereka. Algoritma menjadi faktor utama dalam menentukan konten yang ditampilkan kepada pengguna. Secara sederhana, algoritma adalah sistem yang mengatur tontonan berdasarkan jumlah tontonan, durasi waktu yang dihabiskan, akun yang diikuti, jumlah like, dan lain sebagainya. Tujuan dari algoritma ini adalah membuat pengguna nyaman dan betah berlama-lama di aplikasi tersebut.

Bagaimana Algoritma Bekerja?

Algoritma menciptakan ruang gema atau yang dikenal sebagai echo chamber. Ruang gema ini terjadi ketika pengguna terus-menerus melihat konten yang sejalan dengan pandangan mereka. Media sosial akan selalu menampilkan tontonan yang sesuai dengan minat dan preferensi pengguna. Dari situ, banyak pandangan politik muncul dari kalangan Gen Z. Konten media sosial tidak hanya menyajikan informasi, tetapi juga membangun preferensi.

Sifat algoritma sendiri tidak bertujuan untuk memberikan informasi yang mendalam dan akurat, tetapi lebih pada memaksimalkan engagement dan lamanya penggunaan. Akibatnya, pengguna sering kali lupa waktu karena terlalu asyik menghabiskan waktu di media sosial.

Algoritma Mempengaruhi Cara Berpikir

Menurut teori Mere Exposure Effect oleh Robert Zajonc, paparan berulang terhadap suatu informasi dapat membentuk preferensi tanpa adanya evaluasi rasional. Dalam dunia digital saat ini, informasi politik tertentu bisa membentuk preferensi politik tanpa disadari. Dampak algoritma tidak hanya terbatas pada ruang gema, tetapi juga melibatkan emosi penonton. Konten yang ditampilkan cenderung memicu reaksi emosional agar pengguna merasa terlibat.

Hal ini membuat Gen Z memiliki preferensi politik yang didasarkan pada emosi, bukan data yang akurat. Padahal, untuk menilai sistem politik di Indonesia, dibutuhkan informasi yang mendalam dan pemikiran kritis. Misalnya, jika seseorang terus-menerus melihat kritik terhadap tokoh tertentu, pujiannya terhadap suatu kebijakan, atau narasi bahwa politik di Indonesia “bobrok”, maka secara perlahan ia akan menganggap hal itu sebagai kebenaran umum.

Media Sosial sebagai Wadah Identitas Politik

Ketika Gen Z menggunakan media sosial, mereka bisa memilih pandangan politik yang ingin didukung. Mulai dari mengikuti akun yang sejalan dengan pandangan mereka, merepost konten yang mendukung preferensi politik, hingga mengkritik komentar yang tidak sejalan. Kita juga sering melihat anak muda yang secara aktif menyampaikan pendapat politik mereka di media sosial.

Dari situ, orang-orang bisa menilai seseorang berdasarkan pandangan politiknya. Tanpa kita sadari, ujaran kebencian sering muncul karena pendapat seseorang tidak sejalan dengan pandangan pengkritiknya. Contohnya, saat pemilu presiden beberapa waktu lalu, influencer yang mendukung pasangan tertentu seringkali dihujat oleh netizen yang tidak sejalan dengan pendiriannya.

Influencer yang menyampaikan pandangan politik tidak selalu dianggap memiliki pemikiran baik atau saran yang konstruktif, tetapi justru dikenal karena dukungannya terhadap pandangan tertentu. Hal ini membuat kritik atau saran yang membangun sulit diubah oleh penonton yang memiliki preferensi berbeda. Di sinilah polarisasi muncul, dan hal ini perlu diantisipasi sebelum berujung pada perpecahan yang serius.

Mengatasi Polaritas yang Ditimbulkan Algoritma

Sebagai masyarakat dan generasi muda, kesadaran akan dampak algoritma terhadap preferensi politik sangat penting. Beberapa langkah dapat dilakukan untuk bijak dalam menyerap informasi di media sosial:

  1. Perdalam data sebelum menyimpulkan

    Penting untuk memahami fakta yang disajikan sebelum membentuk pandangan politik. Kaum muda tidak boleh digiring oleh opini yang dihasilkan oleh algoritma, tetapi harus mengandalkan data yang akurat dan netral.

  2. Hargai setiap pandangan politik

    Setiap orang berhak memiliki preferensi politik. Namun, hal ini jangan membuat kita antikritik dan menyerang individu yang berbeda pandangan. Poin ini penting untuk mencegah munculnya polarisasi dan perpecahan.

  3. Sadari bahwa kita satu tujuan

    Kita hidup di negara yang menerapkan nilai musyawarah dan gotong royong. Mari berdiskusi dengan baik, tanpa mengolok-olok golongan tertentu, dan manfaatkan media sosial sebagai wadah untuk menyampaikan opini secara sehat. Kita punya tujuan yang sama, yaitu demi Indonesia yang lebih baik.

Zaiful Aryanto

Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *