Perundingan AS-Iran di Pakistan Berakhir Tanpa Kesepakatan
Perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad, ibu kota Pakistan, akhirnya berakhir tanpa mencapai kesepakatan. Pertemuan ini bertujuan untuk memperpanjang gencatan senjata dua minggu yang telah berlaku sebelumnya atau setidaknya menciptakan perdamaian. Namun, beberapa faktor utama menyebabkan kegagalan dalam negosiasi tersebut.
1. Kedua Pihak Tidak Bersedia Berkompromi
Salah satu alasan utama kegagalan perundingan adalah sikap keras kedua belah pihak. AS menuntut agar Iran menghentikan pengayaan uranium dan berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Sementara itu, Iran menegaskan bahwa program nuklir mereka hanya untuk tujuan damai. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa Iran tidak bersedia menerima persyaratan AS. Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran menilai tuntutan AS sebagai “berlebihan dan tidak masuk akal”. Para ahli menilai bahwa Iran tidak merasa perlu memberikan konsesi karena mereka memiliki kemampuan untuk menahan tekanan ekonomi dari AS.
2. Suasana Tidak Kondusif dan Ancaman Trump
Perundingan membutuhkan suasana yang tenang dan saling percaya. Namun, ancaman-ancaman dari Presiden AS Donald Trump sebelum pembicaraan dimulai memperburuk situasi. Trump sering kali mengeluarkan pernyataan keras terhadap Iran, bahkan menyebutkan bahwa “seluruh peradaban akan mati malam ini”. Selain itu, ia juga mengancam akan meningkatkan serangan jika tidak ada kesepakatan. Hal ini membuat Iran merasa ditekan, bukan diajak berdialog. Dengan situasi seperti ini, posisi Iran semakin memperkuat, sementara AS tampak terburu-buru dalam mencapai kesepakatan.
3. Israel Mengganggu Negosiasi
Selama perundingan berlangsung, Israel terus melakukan serangan di Lebanon, wilayah yang dikuasai oleh Hizbullah, kelompok yang didukung Iran. Iran meminta agar serangan Israel dihentikan sebagai syarat untuk negosiasi. Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran tidak berlaku untuk Iran. Serangan Israel terus berlanjut, yang memperparah ketegangan. Selain itu, komentar dari Menteri Pertahanan Pakistan Khwaja Asif yang menuduh Israel melakukan “genosida” di Lebanon memicu reaksi marah dari Israel. Hal ini menunjukkan bahwa Pakistan tidak dianggap sebagai mitra yang kredibel dalam proses perdamaian.
4. Masalah di Selat Hormuz
Selat Hormuz menjadi salah satu isu utama dalam perundingan. Iran telah memasang ranjau di beberapa bagian selat tersebut, yang menghambat lalu lintas kapal dan aliran minyak. AS ingin selat ini segera dibuka kembali, tetapi Iran melihatnya sebagai alat tawar-menawar. Mereka menginginkan pencabutan sanksi dan jaminan keamanan. Meski ada kemajuan pada isu-isu lain, perbedaan pendapat tentang kendali Selat Hormuz masih ada. AS menilai ini sebagai hal yang tidak dapat dinegosiasikan, sedangkan Iran ingin mendapatkan pengakuan resmi atas kendali mereka dan Oman. Perundingan di Islamabad tidak berhasil menyelesaikan masalah ini, yang merupakan tuntutan mendesak dari AS.
5. Ketidakpercayaan Antar Kedua Pihak
Ketidakpercayaan menjadi hambatan terbesar dalam negosiasi. Banyak tahun permusuhan membuat kedua belah pihak sulit percaya satu sama lain. Sebelum perundingan, delegasi Iran menyatakan bahwa mereka memiliki niat baik, tetapi tidak saling percaya. Sikap ini memengaruhi seluruh proses negosiasi. Wakil Presiden AS Vance menyebut proposal AS sebagai “terbaik dan terakhir”, tetapi Iran melihatnya sebagai sesuatu yang “berat sebelah”. Pengalaman masa lalu, seperti serangan militer AS-Israel terhadap Iran, membuat Iran merasa bahwa setiap tawaran dari AS bisa jadi jebakan. Akibatnya, tidak ada kesepakatan yang tercapai.
Kesimpulan
Kegagalan perundingan di Islamabad memperkuat ketegangan antara AS dan Iran. Gencatan senjata yang rapuh semakin rentan terhadap ancaman dari berbagai pihak. Tanpa kepercayaan dan kompromi, perdamaian antara dua negara ini masih jauh dari tercapai.












