Dampak Kenaikan Harga Plastik Akibat Konflik Geopolitik
Kenaikan harga plastik saat ini tidak hanya menjadi isu domestik, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. Menurut Kaprodi Ilmu Ekonomi FEB Undip Semarang, NS Jaka Aminata, perubahan harga plastik terkait langsung dengan situasi konflik yang terjadi di wilayah tersebut dan penutupan Selat Hormuz.
Rantai Pasok Bahan Baku Terdampak
Plastik sendiri merupakan turunan dari minyak bumi, yang berasal dari industri petrokimia. Hal ini membuat rantai pasok bahan baku seperti resin sangat rentan terhadap gangguan di hulu. Ketika terjadi ketidakstabilan di sektor energi, dampaknya akan dirasakan secara langsung oleh industri yang bergantung pada bahan baku ini.
Jaka menjelaskan bahwa dampak kenaikan harga plastik tidak hanya dirasakan oleh UMKM, tetapi juga industri besar. Namun, karena skala operasional yang lebih kecil, UMKM lebih cepat merasakan efeknya. Mereka tidak memiliki cadangan modal atau stok yang cukup untuk menghadapi fluktuasi harga.
Kenaikan Harga Bahan Baku Menyulitkan Pedagang
Sebelum bulan Ramadan hingga Idulfitri, harga bahan baku plastik naik hampir setiap hari. Hal ini menyulitkan pedagang dalam menentukan harga jual akhir, karena ketidakpastian yang terus-menerus. Jaka menyebutkan bahwa subsidi yang diberikan lebih banyak dinikmati oleh industri besar, sementara UMKM tidak sepenuhnya merasakan manfaatnya.
Perlu Keamanan di Pasar
Menurut Jaka, solusi untuk mengatasi kenaikan harga plastik berada di tingkat mikro, yaitu dengan menciptakan rasa aman di pasar. Jika tingkat ketidakpastian bisa dikurangi, maka harga akan lebih stabil. Pemerintah juga diminta untuk hadir dan mengoreksi industri besar petrokimia, karena dampaknya sangat besar terhadap masyarakat luas.
Dampak Global dan Distribusi
Selain itu, Jaka menyampaikan bahwa gangguan kenaikan harga plastik juga dipengaruhi oleh rantai distribusi global. Di sisi lain, hubungan geopolitik antara Indonesia dengan negara-negara seperti Iran juga memengaruhi situasi ini.
Hubungan dengan Iran dan Diplomasi
Ia menyebutkan bahwa Iran melihat Indonesia cenderung lebih dekat ke Amerika Serikat (AS), terutama dengan konsep Board of Peace (BOP). Hal ini membuat posisi Indonesia tidak sepenuhnya mendapatkan simpati dari Iran. Padahal, dalam konteks energi, Indonesia membutuhkan hubungan yang baik dengan negara produsen seperti Iran.
Kepemimpinan dan Stabilitas Pasar
Menurut Jaka, kunci utamanya ada di kepemimpinan. Presiden harus tegas dalam menentukan posisi Indonesia di panggung internasional, tanpa terkesan setengah-setengah antara Iran, AS, Eropa, atau Rusia. Pasar hanya butuh satu hal, yakni kepastian. Pernyataan yang jelas di tingkat global seperti yang dilakukan oleh negara-negara seperti Spanyol, Jerman, atau Inggris dapat menjadi contoh.
Keseimbangan Ekonomi dan Diplomasi
Jaka menegaskan bahwa dalam konteks ekonomi, Indonesia harus realistis. Kita membutuhkan energi, maka diplomasi dengan Iran harus diperkuat. Pada akhirnya, stabilitas dapat dicapai melalui kebijakan yang tepat, diplomasi yang kuat, dan kepastian pasar.












