Perang Iran-AS Ancam Ekonomi Timur Tengah, Dampaknya ke Indonesia

Dampak Perang Iran-AS terhadap Ekonomi Timur Tengah dan Indonesia

Perang yang terjadi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang didukung oleh Israel memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi di kawasan Timur Tengah, khususnya di wilayah Teluk. Ketua Komite Bilateral Saudi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Mohamad Bawazeer, menyampaikan bahwa situasi ini sangat mengganggu kestabilan perdagangan dan logistik di kawasan tersebut.

Bawazeer menyarankan bahwa jika wilayah Teluk dapat terhindar dari ancaman serangan, maka perdagangan akan lebih lancar. Ia menjelaskan bahwa dampak perang telah merusak berbagai sektor perekonomian, termasuk tarif dasar biaya pengiriman barang internasional melalui laut yang meningkat hingga tiga kali lipat. Selain itu, beberapa perusahaan pelayaran enggan mengeluarkan nomor booking karena khawatir risiko perang, sehingga mengambil sikap wait and see. Beberapa pelayaran juga memilih untuk menghindari Bab el-Mandeb (Laut Merah) dan berputar melalui benua Afrika.

Hal ini menyebabkan waktu pengiriman (delivery time) bisa mencapai dua bulan, padahal dalam kondisi normal hanya membutuhkan 15–20 hari untuk tiba di Pelabuhan Dammam dan Jeddah. Selain itu, ribuan kontainer tertahan di Pelabuhan Jabal Ali karena tidak dapat keluar melalui Selat Hormuz, kecuali ada beberapa pelayaran yang mendapatkan persetujuan otoritas setempat.

Kondisi ini sangat mengganggu aktivitas bisnis di Arab Saudi, baik untuk produk jadi maupun bahan baku. Hal ini berpotensi menyebabkan kenaikan harga barang, terutama karena ketidakpastian situasi perang yang terus berlangsung.



Sebuah kapal terlihat berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab, 1 Maret 2026. Menyusul operasi militer gabungan Israel-AS yang menargetkan beberapa lokasi di Iran pada dini hari tanggal 28 Februari 2026 dan serangan balasan Iran di seluruh wilayah tersebut, banyak kapal berlabuh karena Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz, tempat ratusan kapal pengangkut minyak melintas setiap hari, yang berpotensi memengaruhi perdagangan dunia. – (EPA/STRINGER)

Dampak pada Sektor Energi dan Logistik Indonesia

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebutkan bahwa eskalasi antara AS dan Iran berpotensi menekan sejumlah sektor perdagangan Indonesia, terutama yang berkaitan langsung dengan energi dan biaya logistik. Ia menilai dampak terbesar akan terasa apabila terjadi gangguan distribusi minyak global, termasuk kemungkinan penutupan Selat Hormuz. Sektor energi akan menjadi yang paling awal terdampak.

Selain itu, sektor manufaktur menjadi salah satu yang paling rentan. Industri pengolahan yang bergantung pada energi untuk proses produksi akan menghadapi kenaikan biaya operasional. Ongkos produksi yang meningkat dinilai berisiko menekan margin usaha atau mendorong kenaikan harga barang. Kondisi ini berpotensi menurunkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

Lebih lanjut, sektor ekspor akan menghadapi tekanan ganda, yakni kenaikan biaya produksi dan pelemahan permintaan global akibat ketidakpastian ekonomi.

Stimulus Ekonomi untuk Menghadapi Kondisi Global

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai kebijakan dan stimulus yang dibutuhkan dalam merespons kondisi perekonomian dan geopolitik global saat ini perlu menyasar sisi penawaran (supply) dan permintaan (demand) secara bersamaan.

Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menjelaskan bahwa dari sisi supply, diperlukan kebijakan yang mampu menjaga biaya usaha tetap terkendali, arus kas tetap sehat, dan kepastian usaha tetap terjaga. Sementara dari sisi demand, diperlukan penguatan daya beli masyarakat.

Dalam jangka pendek, fokus utama pemerintah adalah menjaga stabilitas makroekonomi dan menahan transmisi guncangan global ke perekonomian domestik melalui pengendalian harga energi, stabilitas nilai tukar, serta kelancaran logistik dan rantai pasok. Kebijakan juga perlu bersifat adaptif, terukur, dan berbasis pemetaan sektor, serta didukung komunikasi yang jelas kepada dunia usaha.

Di jangka menengah hingga panjang, diperlukan strategi struktural untuk memperkuat resiliensi ekonomi nasional, antara lain melalui percepatan ketahanan energi nasional, penguatan energi alternatif, serta penyesuaian bauran energi dengan kesiapan infrastruktur dan daya saing industri.

Selain itu, diperlukan penguatan sektor hulu domestik untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor, serta reformasi subsidi energi secara bertahap dan terukur dengan tetap menjaga daya beli masyarakat dan efisiensi biaya logistik dunia usaha.

Shinta menegaskan bahwa dalam momen seperti ini, semangat “Indonesia Incorporated” menjadi semakin relevan sebagai landasan dalam merespons tekanan global secara kolektif. Dunia usaha memandang penting adanya ruang dialog yang konstruktif dan berkelanjutan antara pemerintah dan pelaku usaha guna mengidentifikasi serta memitigasi potensi dampak kebijakan sejak tahap perumusan hingga implementasi.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *