Gelombang Unjuk Rasa “No Kings” di Amerika Serikat
Gelombang besar yang diberi nama “No Kings” (Bukan Raja) sedang mengguncang berbagai wilayah Amerika Serikat. Aksi ini melibatkan sekitar 8 juta orang dari 50 negara bagian, dan menjadi perhatian global. Pemicunya adalah kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai otoriter, terutama terkait tindakannya dalam menangani konflik dengan Iran.
Aksi unjuk rasa ini tidak hanya terjadi di AS tetapi juga menarik perhatian warga Indonesia yang tinggal di sana. Soeko Prasetyo, pria kelahiran Solo yang telah puluhan tahun tinggal di Amerika Serikat, menjelaskan bahwa aksi utama berlangsung di New York, khususnya di titik ikonik Times Square.
Menurut Soeko, istilah “No Kings” muncul karena masyarakat merasa bahwa Presiden Trump sering kali membuat keputusan tanpa persetujuan Kongres. Hal ini terutama terkait dengan eskalasi konflik militer dengan Iran. Ia mengatakan bahwa Trump dianggap seperti seorang raja dalam kebijakannya, yang selalu dianggap benar. Oleh karena itu, muncul aksi “No Kings”.
Namun, di balik aksi besar tersebut, Soeko mengungkap fakta paradoks tentang gaya kepemimpinan Trump. Menurut pengamatannya selama bertahun-tahun tinggal di AS, ia menilai Trump sering kali menggunakan retorika yang lebih besar daripada tindakan nyata yang dilakukannya.
Salah satu contoh yang paling menonjol adalah isu imigrasi dan deportasi warga asing yang selama ini menjadi andalan politik Trump. Soeko menyebut bahwa Trump sering kali melebih-lebihkan apa yang sebenarnya terjadi. Misalnya, dalam hal imigrasi, dia tidak mendeportasi sebanyak yang dijanjikan.
Ia membandingkan data deportasi pada masa Trump dengan presiden-presiden sebelumnya, seperti Barack Obama atau George Bush, yang jauh lebih agresif dalam memulangkan warga asing ilegal secara administratif. Dari sudut pandang Soeko, mereka jauh lebih banyak melakukan deportasi dibanding Trump.
Meskipun aksi unjuk rasa terus berlangsung secara rapi dan tanpa insiden kekerasan di New York, Soeko menyebut bahwa masyarakat saat ini tengah menanti realisasi janji Trump yang mengklaim bisa mengakhiri perang dengan Iran dalam waktu dua minggu.
“Rakyat di sini tenang-tenang saja mengenai penarikan pasukan dari Iran itu, kita tanggapi dengan senang hati karena memang itulah tujuan demo saat ini. Kita tidak suka perang,” ujar Soeko.
Penjelasan Lebih Lanjut Mengenai Aksi “No Kings”
Soeko menjelaskan bahwa aksi tersebut sangat terorganisir. “Jadi rapi, tidak ada insiden, tidak ada penangkapan, kecuali saya dengar di San Francisco itu ada penangkapan 85 orang karena ada beberapa orang yang mau menutup jalan raya, highway. Jadi orang-orangnya memakai sepeda dan ditangkap oleh polisi. Selain itu tidak ada insiden sama sekali.”
Ia juga mengatakan bahwa di tempatnya di New York, aksinya aman. “Ya, ramai tapi aman. Karena di sini kan unjuk rasa itu memang menjadi nomor satu, First Amendment namanya ya. Jadi kita bisa berbicara apa saja.”
Soeko juga menjelaskan apakah banyak Warga Negara Indonesia (WNI) yang ikut concern dengan isu ini dan turun ke jalan. Ia mengatakan bahwa ia tidak melihat WNI karena jumlah orangnya sangat banyak. Namun, ia mendengar di Philadelphia ada beberapa WNI atau mungkin sudah menjadi WNA yang mengikuti aksi tersebut.
“Karena masyarakat Indonesia ini sebetulnya sangat politik, tertarik dengan politik seperti saya,” tambahnya.
Komentar Terkait Peran Media dan Masyarakat
Soeko juga menyampaikan bahwa media lokal di AS memberikan perhatian besar terhadap aksi ini. Ia mengatakan bahwa media berperan penting dalam menyebarkan informasi dan mengedukasi masyarakat tentang isu-isu politik.
Ia menekankan bahwa masyarakat AS memiliki hak untuk menyampaikan pendapat mereka, termasuk melalui aksi unjuk rasa. “Itu adalah bagian dari demokrasi yang baik,” katanya.












