Stasiun Pasar Senen: Pemudik dan Porter yang Berjuang di Tengah Keramaian
Di tengah keramaian stasiun, ada banyak cerita yang terjadi. Salah satunya adalah kisah Muhammad Zulfani, seorang porter yang memilih tetap bekerja saat Lebaran, meski ia sangat merindukan keluarganya di Gresik.
Kehidupan Seorang Porter
Muhammad Zulfani (21), seorang pemuda asal Gresik, Jawa Timur, telah menjadi porter sejak 2022. Di Stasiun Pasar Senen, ia bekerja dengan penuh semangat, membantu para pemudik membawa barang bawaan mereka. Meski usianya masih muda, ia sudah mengenal betul tantangan dalam pekerjaannya ini.
“Biasanya pulang sebelum Lebaran, tapi tahun ini Lebarannya di sini,” ujarnya dengan nada tenang. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Di tengah lonjakan pemudik, jasa porter justru paling dibutuhkan. Dalam sehari, ia bisa mendapatkan ratusan ribu rupiah, jumlah yang sulit ia dapatkan di hari biasa.
Namun, di balik peluang itu, ada kenyataan yang tak selalu manis. Tak jarang ia harus merelakan tenaga yang terbuang tanpa bayaran. “Tidak dibayar juga sering. Tapi tidak bisa minta, nanti malah kami yang kena,” katanya pelan.
Keramaian yang Tak Pernah Berhenti
Riuh langkah pemudik tak pernah benar-benar berhenti di Stasiun Pasar Senen siang itu. Suara pengumuman keberangkatan bersahut-sahutan, bercampur dengan deru koper yang diseret dan obrolan keluarga yang tak sabar pulang ke kampung halaman. Di setiap sudut, manusia berdesakan, membentuk lautan yang bergerak perlahan menuju pintu masuk peron.
Di tengah hiruk pikuk itu, ada sosok-sosok berbaju kuning yang bergerak lebih lincah dari yang lain. Mereka menyelinap di antara kerumunan, menawarkan bantuan dengan cepat dan cekatan. Para porter, yang bagi sebagian orang hanya sekilas terlihat, justru menjadi penopang perjalanan ribuan pemudik hari itu.
Rindu yang Harus Ditunda
Meskipun bekerja keras, Zulfani tak bisa menghindari rasa rindu pada orang tuanya. Sudah setahun ia tak menginjakkan kaki di Gresik. Kerinduan pada orang tua kian terasa, apalagi di momen Lebaran seperti ini. “Namanya anak ke orang tua pasti kangen,” ucapnya pelan.
Ia hanya bisa menyimpan rindu itu untuk sementara, menunggu waktu yang lebih longgar. Rencananya, ia akan pulang saat Iduladha nanti, bukan saat semua orang pulang, tapi saat stasiun kembali sepi. Bagi Zulfani, Lebaran bukan sekadar hari raya. Ini adalah tentang rumah, tentang orang tua, dan tentang kebersamaan yang kini harus ditunda.
Kehidupan yang Penuh Tantangan
Di ruang tunggu, hampir tak ada kursi tersisa. Sebagian orang duduk langsung di lantai stasiun, sebagian lain berdiri sambil menjaga barang bawaan. Anak-anak tampak lelah dalam gendongan, orang tua menggenggam tiket erat-erat, dan para pekerja sibuk memastikan barang mereka tak tertinggal. Semua orang punya tujuan yang sama, pulang.
Namun tidak dengan Zulfani. Di tengah ribuan orang yang bergegas menuju kampung halaman, ia justru memilih bertahan. Bukan karena tak ingin pulang, melainkan karena harus. Sementara itu, di belakangnya, arus manusia tak kunjung surut. Stasiun Pasar Senen terus dipadati pemudik, dan para porter seperti Zulfani tetap berjalan di antara mereka, membantu orang lain pulang, meski dirinya sendiri harus tinggal.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."












