Mengapa AS dan Israel Serang Iran?

Perang di Timur Tengah: Perspektif dan Tujuan AS-Israel terhadap Iran

Perang antara Iran dengan AS dan Israel telah memasuki pekan ketiga sejak serangan yang dilakukan pada 28 Februari 2026. Dalam peristiwa ini, banyak pertanyaan muncul tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan dari tindakan militer yang dilakukan oleh kedua negara tersebut. Berikut adalah penjelasan mengenai situasi yang terjadi dan berbagai alasan yang mendasari aksi tersebut.

Serangan Militer terhadap Iran

Dilaporkan bahwa Israel telah melancarkan serangan baru terhadap Teheran, fokusnya pada infrastruktur pemerintahan Iran. Serangan ini tercatat telah menyebabkan kematian sebanyak 1.444 orang dan luka-luka hingga 18.551 orang. Selain itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, juga dikabarkan meninggal dunia akibat serangan tersebut.

Bahkan, Israel mengklaim telah membunuh Kepala Keamanan Iran, Ali Larijani. Klaim ini disampaikan oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang menyatakan bahwa pergantian kepemimpinan di Iran terus berlangsung setelah penghilangan dua tokoh penting. Namun, sampai saat ini, Iran belum memberikan konfirmasi resmi mengenai kematian Larijani maupun Gholamreza Soleimani, kepala milisi Basij.

Tujuan Serangan AS-Israel ke Iran

Menurut laporan BBC, Presiden AS Donald Trump mengumumkan operasi militer terhadap Iran dengan alasan untuk mengeliminasi ancaman langsung, melindungi kepentingan keamanan AS, serta melemahkan infrastruktur persenjataan atau nuklir Iran. Serangan ini didorong oleh tuduhan bahwa Iran mendukung milisi regional, mencoba menahan laju pengembangan nuklir, serta klaim bahwa Iran berencana menyerang terlebih dahulu.

Trump juga menyatakan keyakinannya akan kekuatan AS dalam pesan video yang dirilis dari kediamannya di Florida. Ia menegaskan bahwa Iran sedang mengembangkan rudal yang dapat mencapai AS dan hampir memiliki senjata nuklir. Dalam pernyataannya, ia menyatakan rencana untuk menghancurkan rudal dan industri rudal Iran, serta memusnahkan angkatan laut mereka.

Upaya Menggulingkan Rezim Iran

Sebelum serangan terhadap Iran, terjadi gelombang demonstrasi yang memicu keinginan rakyat Iran untuk mundur dari rezim yang dipimpin oleh Khamenei. Trump percaya bahwa AS bersama Israel dapat melumpuhkan rezim tersebut. Jika tidak ada penyerahan, ia melihatnya sebagai kehancuran total sehingga rakyat Iran akan memiliki kesempatan besar untuk turun ke jalan dan merebut kekuasaan.

“Setelah kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda. Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda selama beberapa generasi,” kata Trump dalam pernyataannya. Ia juga menekankan bahwa selama bertahun-tahun, rakyat Iran meminta bantuan AS tetapi tidak pernah mendapatkannya.

Pengalaman Sebelumnya AS dalam Menggulingkan Rezim

Pengalaman AS dalam menggulingkan rezim di beberapa negara sudah terjadi sebelumnya. Pada 2003, AS dan sekutunya seperti Inggris mengirim pasukan darat besar-besaran ke Irak untuk menggulingkan Saddam Hussein. Sementara itu, pada 2011, Muammar Gaddafi dari Libya digulingkan oleh pasukan pemberontak yang dipersenjatai oleh NATO dan negara-negara Teluk.

Trump berharap rakyat Iran dapat melakukan hal yang sama, yaitu menggulingkan rezim sendiri tanpa campur tangan eksternal. Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga membuat pernyataan serupa, mendorong warga Iran untuk mengambil tindakan sendiri. Jika tidak berhasil, prioritasnya adalah menghancurkan kapasitas militer Iran dan kemampuannya untuk membangun kembali milisi.

Pandangan Netanyahu terhadap Iran

Selama beberapa dekade, Netanyahu memandang Iran sebagai musuh paling berbahaya bagi Israel. Ia percaya bahwa penguasa Republik Islam Iran ingin membangun senjata nuklir untuk menghancurkan negara Yahudi. Dalam pernyataannya, ia menyatakan bahwa Israel dan Amerika mampu bersama-sama melakukan apa yang telah ia harapkan selama 40 tahun, yaitu menghancurkan rezim teror sepenuhnya.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *