Wall Street Turun, Minyak Dekati US$100 Picu Kekhawatiran Inflasi

Perdagangan Wall Street Melemah Akibat Lonjakan Harga Minyak

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street mengalami penurunan pada perdagangan hari Kamis (12/3/2026). Penguatan harga minyak yang mendekati US$100 per barel menjadi salah satu penyebab utama melemahnya pasar saham. Kenaikan harga energi ini memicu kembali kekhawatiran terhadap inflasi dan membuat pelaku pasar mengurangi harapan terhadap pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun sebesar 174,7 poin atau 0,37% menjadi 47.242,52 pada awal perdagangan. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 34,9 poin atau 0,52% menjadi 6.740,88, dan Nasdaq Composite terkoreksi 189,5 poin atau 0,83% ke posisi 22.526,58.

Lonjakan harga minyak terjadi setelah dua kapal tanker terbakar di perairan Irak yang diduga akibat serangan Iran. Insiden tersebut merupakan bagian dari rangkaian serangan terhadap fasilitas minyak dan transportasi di kawasan Timur Tengah. Iran bahkan memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi melonjak hingga US$200 per barel.

Kenaikan harga minyak memberi tekanan besar pada sektor yang sensitif terhadap biaya bahan bakar. Saham maskapai penerbangan yang tergabung dalam indeks S&P 500 diperkirakan mencatat penurunan bulanan terbesar dalam setahun. Saham American Airlines dan United Airlines turun lebih dari 2% pada perdagangan pre-market. Saham perusahaan kapal pesiar seperti Norwegian dan Royal Caribbean juga ikut melemah.

Sebaliknya, saham perusahaan energi justru menguat seiring kenaikan harga minyak. Saham Occidental Petroleum dan ConocoPhillips masing-masing naik lebih dari 1%.

Selain itu, investor juga mencermati kondisi pasar private credit yang nilainya mencapai sekitar US$2 triliun. Kekhawatiran muncul setelah sejumlah kasus kredit bermasalah dalam beberapa bulan terakhir memunculkan risiko penurunan kualitas pinjaman. Perusahaan ekuitas swasta asal Swiss, Partners Group, memperingatkan bahwa tingkat gagal bayar di pasar private credit berpotensi meningkat dua kali lipat dalam beberapa tahun ke depan.

Sementara itu, Glendon Capital Management menyebut sejumlah pemberi pinjaman private credit diduga menutupi kelemahan portofolio mereka. Saham Morgan Stanley turun 2,6% setelah membatasi penarikan dana pada salah satu dana private credit miliknya, mengikuti langkah serupa yang sebelumnya diambil oleh Blackstone dan BlackRock. JPMorgan Chase juga dilaporkan menurunkan valuasi beberapa pinjaman kepada dana private credit.

Joe Saluzzi, Co-Head of Equity Trading di Themis Trading, mengatakan pelaku pasar perlu mencermati seberapa luas eksposur terhadap instrumen tersebut di sistem keuangan. “Kita perlu melihat siapa saja yang memegang aset ini dan bagaimana penilaiannya dilakukan. Jika situasinya memburuk, dampaknya bisa cepat menyebar,” ujarnya.

Indeks volatilitas CBOE atau yang dikenal sebagai “fear gauge” Wall Street naik 1,63 poin menjadi 25,86. Sementara itu, kontrak berjangka untuk indeks saham berkapitalisasi kecil Russell turun 1,4%.

Pasar global sepanjang bulan ini bergejolak akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang mengganggu pasokan minyak dan gas. Kondisi ini mempersulit rencana bank sentral global untuk melonggarkan kebijakan moneter. Goldman Sachs kini memundurkan perkiraan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS ke bulan September, dari sebelumnya diperkirakan terjadi pada Juni.

Kontrak berjangka pasar uang juga menunjukkan pelaku pasar kini hanya memperkirakan satu kali penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun. Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) bahkan menyebut dunia tengah menghadapi gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Pasokan global diperkirakan turun hingga 8 juta barel per hari pada Maret.

Di sisi lain, pemerintah AS juga meluncurkan dua investigasi perdagangan baru terkait kelebihan kapasitas industri di 16 negara mitra dagang utama serta dugaan praktik kerja paksa. Langkah ini diambil setelah Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar program tarif Presiden Donald Trump bulan lalu.

Dari sisi korporasi, saham Bumble melonjak 24% setelah operator aplikasi kencan tersebut melaporkan pendapatan kuartal IV yang melampaui ekspektasi analis. Sebaliknya, saham Dollar General anjlok 5% setelah perusahaan ritel diskon itu memproyeksikan pertumbuhan penjualan tahunan di bawah perkiraan pasar.

Sementara itu, data ekonomi menunjukkan klaim tunjangan pengangguran mingguan di Amerika Serikat menurun pada pekan lalu. Data ini sedikit meredakan kekhawatiran terhadap pelemahan pasar tenaga kerja setelah laporan ketenagakerjaan Februari menunjukkan penurunan jumlah pekerjaan secara tak terduga.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *