Peningkatan Utang Nasional Amerika Serikat
Pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan menambah utang negara sebesar sekitar 1 triliun dolar AS akibat meningkatnya biaya perang dan pengeluaran negara. Laporan yang dirilis oleh Congressional Budget Office (CBO) mencatat bahwa total belanja pemerintah mencapai 3,1 triliun dolar AS, dipicu oleh kenaikan anggaran program sosial dan pertahanan di tengah konflik geopolitik.
Beban bunga utang juga melonjak hingga 433 miliar dolar AS, sementara total utang nasional AS kini mendekati 38,9 triliun dolar AS. Hal ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal jangka panjang.
Kenaikan Pengeluaran Pemerintah
Ketegangan perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dalam beberapa waktu terakhir turut memberikan tekanan besar terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat. Meningkatnya biaya operasi militer serta berbagai pengeluaran negara membuat anggaran pemerintah federal mengalami tekanan signifikan. Di tengah situasi tersebut, pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan harus menambah utang negara dalam jumlah sangat besar.
Selama lima bulan pertama tahun fiskal 2026, pemerintah Amerika Serikat tercatat meminjam sekitar 1 triliun dolar AS atau setara Rp 16,9 kuadriliun. Data tersebut diungkap dalam laporan terbaru yang dirilis oleh CBO, lembaga independen yang memantau kondisi anggaran pemerintah Amerika Serikat.
Dalam laporan yang dikutip dari Fortune menunjukkan bahwa defisit anggaran federal terus meningkat sejak dimulainya tahun fiskal 2026 pada Oktober 2025. Sementara laporan anggaran bulanan yang diperbarui hingga Februari 2026, CBO memperkirakan pemerintah bahkan menambah pinjaman sekitar 308 miliar dolar AS hanya dalam satu bulan terakhir.
Lonjakan utang ini mencerminkan tekanan besar terhadap keuangan negara di tengah meningkatnya pengeluaran pemerintah dan ketidakpastian ekonomi akibat konflik geopolitik yang terus berlangsung.
Defisit Anggaran yang Membengkak
Defisit anggaran pemerintah Amerika Serikat terus membesar seiring meningkatnya pengeluaran negara yang tumbuh lebih cepat dibandingkan pemasukan. Dalam lima bulan pertama tahun fiskal 2026, total belanja pemerintah tercatat mencapai sekitar 3,1 triliun dolar AS. Angka ini sekitar 64 miliar dolar AS lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun fiskal sebelumnya.
Kenaikan pengeluaran tersebut berasal dari meningkatnya anggaran sejumlah program sosial utama pemerintah. Program jaminan sosial dan kesehatan seperti Social Security, Medicare, dan Medicaid mengalami peningkatan belanja yang cukup besar. Secara keseluruhan, tiga program tersebut menambah pengeluaran hingga sekitar 104 miliar dolar AS dalam lima bulan pertama tahun ini.
Selain sektor sosial, pengeluaran di bidang pertahanan juga mengalami peningkatan. Hal ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan militer dan konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, sehingga pemerintah harus mengalokasikan dana lebih besar untuk kebutuhan keamanan dan operasi militer.
Beban Bunga Utang yang Meningkat
Di sisi lain, bertambahnya jumlah utang negara juga membuat beban pembayaran bunga semakin besar. Departemen Keuangan Amerika Serikat tercatat telah mengeluarkan sekitar 433 miliar dolar AS hanya untuk membayar bunga utang publik dalam periode Oktober 2025 hingga Februari 2026. Jumlah tersebut meningkat sekitar 31 miliar dolar AS dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kenaikan biaya bunga ini dipicu oleh dua faktor utama, yakni meningkatnya total utang nasional serta suku bunga jangka panjang yang masih relatif tinggi. Saat ini total utang nasional Amerika Serikat telah mendekati 38,9 triliun dolar AS, menjadikannya salah satu tingkat utang terbesar dalam sejarah negara tersebut.
Meski pengeluaran meningkat, pemerintah Amerika Serikat juga mencatat peningkatan penerimaan negara dalam beberapa sektor. Pendapatan dari bea masuk dan tarif impor mengalami lonjakan signifikan. Dalam lima bulan pertama tahun fiskal 2026, penerimaan dari sektor tersebut meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain itu, penerimaan dari pajak penghasilan individu dan pajak gaji juga meningkat hingga 132 miliar dolar AS. Namun peningkatan pendapatan tersebut belum cukup untuk menutup kenaikan pengeluaran pemerintah yang terus bertambah.
Kritik Terhadap Kondisi Fiskal AS
Meski defisit tahun ini sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, kondisi tersebut tetap memicu kekhawatiran para pengamat fiskal. Pada periode Oktober 2024 hingga Februari 2025, pemerintah AS tercatat harus meminjam sekitar 142 miliar dolar AS lebih banyak dibandingkan tahun ini.
Namun sejumlah ekonom menilai perbaikan kecil tersebut belum cukup untuk menstabilkan kondisi fiskal jangka panjang. Presiden Komite untuk Anggaran Federal yang Bertanggung Jawab, Maya MacGuineas, memperingatkan bahwa pembayaran bunga utang Amerika Serikat diperkirakan akan menembus 1 triliun dolar AS per tahun dalam waktu dekat. Bahkan menurut proyeksi jangka panjang, pembayaran bunga utang tersebut dapat melonjak hingga lebih dari 2 triliun dolar AS pada tahun 2036 jika tren utang terus meningkat.
“Situasi ini tidak dapat berlanjut tanpa batas. Masalah fiskal Amerika tidak akan terselesaikan dengan sendirinya,” kata MacGuineas. Ia menilai pemerintah perlu menetapkan target defisit maksimal sekitar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Dengan meningkatnya pengeluaran militer, program sosial, serta biaya bunga utang, para analis memperkirakan tekanan terhadap anggaran Amerika Serikat akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Jika pemerintah tidak melakukan reformasi fiskal atau pengendalian defisit, utang nasional AS berpotensi terus meningkat dan menjadi tantangan besar bagi stabilitas ekonomi jangka panjang.












