JAKARTA – Seorang pengusaha nasional asal Situbondo, Khalilur R. Abdullah Sahlawiy yang dikenal dengan panggilan Gus Lilur, mengungkapkan bahwa surat elektronik (surel) yang pernah ia kirimkan kepada Presiden Prabowo Subianto mendapat respons positif dari pemerintah. Respons tersebut diwujudkan dalam bentuk terbitnya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) No. 5 Tahun 2026.
Permen KP No. 5 Tahun 2026 merupakan revisi dari Permen KP No. 7 Tahun 2024 yang sebelumnya sempat dikritisi oleh Gus Lilur. Dalam surelnya kepada Presiden, ia menyampaikan beberapa usulan strategis terkait tata niaga lobster nasional, khususnya mengenai kebijakan ekspor Benih Bening Lobster (BBL). Ia mengusulkan agar pemerintah menghentikan ekspor BBL ke Vietnam dan menggantinya dengan kebijakan ekspor lobster yang telah dibesarkan hingga ukuran minimal 50 gram.
Menurut Gus Lilur, kebijakan tersebut akan memberikan nilai tambah yang jauh lebih besar bagi nelayan dan pelaku usaha budi daya di dalam negeri. Ia menjelaskan bahwa Permen KP No. 5 Tahun 2026 adalah ide murni yang ia tuliskan dalam surel kepada Presiden dan kemudian dipublikasikan oleh rekan-rekan wartawan. Alhamdulillah, ide tersebut mendapat respons positif dari Presiden hingga akhirnya lahir Permen KP No. 5 Tahun 2026.
Gus Lilur menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo yang dinilainya terbuka terhadap gagasan dan masukan dari masyarakat, termasuk dari kalangan pengusaha di sektor perikanan. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono serta Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya Tubagus Haeru Rahayu yang telah mengkaji secara teknis usulan tersebut hingga menghasilkan revisi regulasi.
Menurutnya, langkah pemerintah merevisi regulasi ini menunjukkan adanya keselarasan antara kepemimpinan nasional dan jajaran kementerian dalam merespons persoalan nyata yang dihadapi para pelaku usaha di lapangan. Fakta ini menunjukkan bahwa Presiden Prabowo adalah figur pemimpin yang terbuka terhadap ide dan masukan konstruktif. Para pembantunya di kabinet juga mampu menerjemahkan persoalan di lapangan secara tepat.
Gus Lilur menilai kebijakan baru ini akan menjadi angin segar bagi sektor budi daya laut, khususnya bagi para pelaku usaha lobster di Indonesia. Tidak hanya menguntungkan perusahaan besar, tetapi juga memberikan peluang ekonomi yang lebih besar bagi nelayan dan pembudidaya di berbagai daerah. Ini bukan hanya menguntungkan Balad Grup, tetapi juga seluruh pelaku usaha budidaya lobster serta para nelayan. Dengan kebijakan ini, nilai ekonomi yang dinikmati di dalam negeri akan jauh lebih besar.
Penjelasan Kebijakan Baru
Kebijakan baru ini mencakup beberapa hal penting yang dirasa sangat relevan dengan kondisi industri perikanan saat ini. Salah satu poin utamanya adalah larangan ekspor BBL ke negara-negara seperti Vietnam. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa sumber daya alam Indonesia tidak dieksploitasi secara berlebihan, terutama dalam bentuk benih yang belum siap untuk dijual ke luar negeri.
Selain itu, kebijakan ini juga menekankan pentingnya meningkatkan kualitas produk lokal dengan memastikan bahwa lobster yang diekspor sudah mencapai ukuran tertentu. Dengan demikian, nilai ekonomi yang dihasilkan dari ekspor akan lebih tinggi dan berdampak positif pada sektor perikanan nasional.
Dampak Ekonomi yang Signifikan
Dampak dari kebijakan ini tidak hanya terasa pada perusahaan besar, tetapi juga pada nelayan dan pembudidaya kecil. Dengan adanya regulasi yang lebih baik, para pelaku usaha dapat menikmati hasil kerja mereka secara lebih maksimal. Selain itu, kebijakan ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah-daerah yang bergantung pada sektor perikanan.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, kebijakan baru yang diumumkan melalui Permen KP No. 5 Tahun 2026 mencerminkan komitmen pemerintah dalam membantu sektor perikanan dan budi daya laut. Dengan adanya perubahan regulasi ini, diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi seluruh pelaku usaha di bidang perikanan, termasuk nelayan dan pembudidaya kecil.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."












