Pertamina: Pasokan BBM Aman, Tidak Perlu Panic Buying

Isu Kelangkaan BBM Memicu Panic Buying di Medan

Isu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang beredar di media sosial dan kalangan masyarakat memicu panic buying di sejumlah SPBU di Kota Medan. Antrean kendaraan terlihat mengular hingga malam hari di beberapa titik SPBU, termasuk di Jalan Katamso, Jalan AH Nasution, dan Jalan Jamin Ginting.

Warga mengaku ikut antre karena khawatir BBM akan langka. Beberapa dari mereka bahkan menyebutkan bahwa informasi stok BBM hanya tersisa 21 hari ke depan menjadi alasan utama untuk melakukan pembelian besar-besaran.

Meski Pertamina membantah isu tersebut dan memastikan stok BBM aman hingga Ramadhan dan Idul Fitri, rasa panik masih terasa di kalangan masyarakat. Bahkan, banyak warga yang mengatakan bahwa mereka tidak tahu pasti tentang isu ini, tetapi akhirnya ikut antre karena melihat kerumunan yang tidak biasa.

Perilaku Panic Buying dan Dampaknya

Panic buying adalah perilaku membeli barang dalam jumlah besar secara mendadak akibat rasa panik, ketakutan, atau kecemasan akan kelangkaan stok di masa depan. Di kawasan Padang Bulan, antrean motor dan mobil bahkan meluber hingga 10 meter ke luar gerbang SPBU, menciptakan simpul kemacetan baru di tengah malam.

Andi, salah satu pengendara yang ditemui di Padang Bulan, mengaku sempat goyah meski sedang dalam perjalanan kerja. “Ada yang bilang stok BBM tinggal 21 hari lagi, makanya saya ke sini, saya mau isi Pertalite, takut langka. Tapi begitu sampai SPBU ramai sekali yang antre,” keluhnya.

Ahmad, yang awalnya tidak tahu-menahu soal isu global, juga akhirnya ikut terseret arus antrean karena melihat kerumunan yang tak biasa. “Saya awalnya enggak tahu ada isu kelangkaan BBM ini, tapi ya untuk antisipasi siapa tahu benar, saya isi saja minyak di sini,” kata Ahmad singkat.

Harapan di Balik Lelahnya Antrean

Kelelahan tampak di wajah para pengendara. Fadli, warga lainnya, terpaksa mengurungkan niat mengisi Pertalite di Jalan Air Hakim karena antrean yang tak masuk akal. “Ramai kali mau lebih setengah jam menunggu… Mudah-mudahan isu itu tidak benar dan warga enggak panic buying gini,” tuturnya penuh harap.

Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara bergerak cepat menenangkan publik. Area Manager Communication, Relations & CSR, Fahrougi Andriani, menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu menelan mentah-mentah isu kelangkaan tersebut. Stok BBM dipastikan dalam kondisi aman, bahkan telah disiapkan untuk mengawal kebutuhan masyarakat selama bulan Ramadhan hingga Idul Fitri mendatang.

“Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan panic buying, karena pasokan energi terus kami jaga agar tetap tersedia dan tersalurkan dengan baik,” tegas Fahrougi.

Ancaman Kenaikan Harga BBM

Namun dampak konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran yang makin memanas telah memengaruhi stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. Serangan militer yang berlangsung sejak akhir pekan membuat harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Harga minyak Brent dilaporkan naik dari kisaran US$65 per barel pada awal Februari menjadi sekitar US$73 per barel.

Harga minyak Brent adalah harga acuan (benchmark) minyak mentah dunia yang berasal dari ladang minyak di Laut Utara. Jadi, US$73 per barel kira-kira setara sekitar Rp1,23 juta per barel (kurs saat ini). Bahkan, dalam skenario terburuk, harga minyak berpotensi menembus US$120 per barel seperti saat pecahnya perang Rusia-Ukraina.

Lonjakan harga energi ini tak lepas dari penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah global. Penutupan tersebut membuat distribusi energi terganggu dan meningkatkan ketidakpastian pasar.

Dampak Ekonomi dan Sosial

Selain berdampak pada pasokan minyak, gangguan jalur pelayaran juga berpotensi menghambat arus perdagangan internasional. Jika kapal-kapal harus memutar melalui jalur Afrika untuk menghindari kawasan konflik, biaya logistik global akan melonjak. Dampaknya turut dirasakan negara-negara yang bergantung pada impor bahan baku dan energi, termasuk Indonesia.

Kenaikan harga minyak mentah berisiko memperbesar beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Jika pemerintah tidak melakukan realokasi anggaran, tekanan fiskal dikhawatirkan semakin berat. Di sisi lain, ruang penambahan utang dinilai tidak mudah di tengah sorotan lembaga pemeringkat internasional terhadap kualitas pengelolaan fiskal nasional.

Dampak pada Pelaku Usaha dan Konsumen

Dari sisi pelaku usaha, lonjakan harga BBM akan berdampak langsung pada biaya operasional transportasi darat. Komponen BBM disebut menyumbang sekitar 35 hingga 40 persen dari total biaya operasional truk. Jika harga solar naik 10 persen, ongkos angkut bisa terdongkrak hingga 3,5–4 persen. Dalam skenario kenaikan 20 hingga 30 persen, ongkos logistik berpotensi naik hingga dua digit.

Kenaikan ongkos angkut ini pada akhirnya akan diteruskan ke harga barang, terutama komoditas pangan, bahan bangunan, dan produk konsumsi bermargin tipis. Risiko imported inflation atau inflasi akibat kenaikan harga barang impor pun sulit dihindari.

Asosiasi pengusaha juga mengingatkan potensi lonjakan premi asuransi pengiriman akibat meningkatnya risiko keamanan di kawasan Timur Tengah. Selain itu, pembatasan jalur pelayaran dan berkurangnya kapal yang berani melintas bisa menyebabkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan jasa angkut.

Prediksi Dampak Konflik

Dampak langsung dari eskalasi konflik ini diperkirakan mulai terasa dalam beberapa hari hingga dua atau tiga minggu ke depan, tergantung pada perkembangan situasi di lapangan.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *